Menikmati 'Surga' Tersembunyi di Festival Biak Munara Wampasi

Kemenpar, CNN Indonesia | Rabu, 29/08/2018 18:47 WIB
Menikmati 'Surga' Tersembunyi di Festival Biak Munara Wampasi Suasana keindahan Biak.(Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Biak, CNN Indonesia -- Festival Biak Munara Wampasi 2018 bakal mengungkap surga tersembunyi di Biak Numfor, Papua karena daerahnya memiliki kekayaa alam.

Salah satunya adalah Kali Biru dengan keunikan telaga air birunya yang jernih. Posisi telaga juga berada di mulut gua yang memiliki stalagtit. Kali itu terletak di Desa Anggraidi, Distrik Biak Kota.

"Warna biru karena faktor kedalaman. Telaga juga memiliki lorong di dalam air yang terhubung dengan goa lain di dalam bukit ini. Telaga juga punya saluran khusus di bawah laut dan terhubung dengan Pulau Myoduref," kata pemilik destinasi Kali Biru Biak Martinus Rumpaidus, Jumat (24/8).


Kali Biru hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai dan di dalamnya terdapat ikan gabus serta udang air tawar. Kawasan luweng Telaga Biru ini juga memiliki tiga gua yang dulu dipakai untuk persembunyian tentara Jepang.


Martinus menambahkan luweng Kali Biru difungsikan dapur oleh tentara Jepang selain tempat menyimpan cadangan amunisi.

"Pada dinding tebing ini ada beberapa goa. Dahulu di sini banyak ditemukan sisa-sisa bom. Ada juga selongsong peluru. Selain itu, di sisi lain kawasan ini banyak ditemukan sisa-sisa peralatan kesehatan," katanya.

Burung dan Anggrek Papua

Usai menikmati Kali Biru, wisatawan juga dapat menikmati ke UPTD Taman Burung dan Taman Anggrek (TBTA) Biak.

Lokasinya ada di Jalan Raya Bosnik km 12, Kampung Ruar, Biak Timur. UPTD TBTA Biak saat ini memiliki 95 ekor burung dari 29 spesies yang semuanya merupakan burung endemik Papua.


Burung-burung koleksi UPTD TBTA Biak terdiri dari Nuri, Kakaktua Jambul Kuning, Mambruk, hingga Kasuari. Kepala UPTD TBTA Biak Alfrida Anna Mambaya mengatakan burung di TBTA beasal dari alam yang ditangkarkan.

"TBTA ini cukup banyak memiliki koleksi burung dan flora yang langka. Burung diambil dari alam dan ditangkarkan. Khusus Mapi Sua Sua, mereka terbang bebas," kata Alfrida.


Sedangkan untuk anggrek adalah berjenis Acriopsis, Bulbophylum, Coelogyne Dendrobium, Dipodium, Ephemerantha, Eria, Grammatophillum, hingga Spathoglottis. Ada juga Grammatophillum Stapeliflorum atau anggrek hitam khas Papua.

"Kami punya dua rumpun Grammatophillum Stapeliflorum. Jenis anggrek khas Papua dengan karakter sensitif terhadap suhu panas. Wilayah Biak ini relatif panas. Anggrek ini juga sensitif terhadap pestisida," katanya.

Sepanjang 2017, kawasan TBTA sudah dikunjungi oleh sekitar 3.000 wisatawan. Sepanjang 2018, TBTA sudah dikunjungi 1.879 wisatawan. Rinciannya, sebanyak 56 adalah wisman. Untuk wisnus terdiri dari 1.277 dewasa dan 546 anak-anak. "

Ekowisata

Selain itu ada pula Pantai Inofi yang berlokasi di Desa Inof, Distrik Biak Timur. Wisatawan dapat melakukan snorkling, pengamatan biota laut di Spa Bia dan terumbu karang, hingga perahu wisata.

Biota laut yang bisa dinikmati seperti Sponge, Cephalopoda, Sea Anemon, Kalamunat, juga Crinoidea. Sedangkan jenis ikan yang bisa dijumpai adalah Cephalopolis Urodeta, Chaetodon, Pterois Antennata, dan Amphiprion Ccellaris.

"Laut di sini masuk Atlantik dan profil ombaknya kecil. Seperti saat ini yang masih masuk musim teduh. Tiket masuk juga murah. Sepeda motor dikenai tiket Rp5.000 lau mobil Rp10.000. Jumlah itu termasuk parkirnya. Untuk fasilitas, di sini ada pondok untuk santai dengan sewa Rp50 ribu hingga Rp100 ribu," kata Koordinator Pengelola Pantai Inofi Dominggus Inggamer.

Uniknya, destinasi itu dikelola oleh masyarakat Desa Inof yang terbagi dalam empat marga. Setiap marga diberi kesempatan untuk mengelola destinasi selama sepekan, yang terdiri dari Inggamer, Ronsumbre, Dimmara, dan Manggomboh.

Tempat ini kerap dikunjungi wisatawan Prancis, Belanda, Italia, Inggris, dan Asia Timur. "Destinasi ini milik masyarakat. Kami mendapat pendapatan selama sepekan mengelola destinasi. Caranya digilir menurut marga," ujar Dominggus. (asa)