Saidjah dan Adinda, Fragmen yang Jadi Atraksi Wisata di Lebak

ANTARA, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 16:02 WIB
Saidjah dan Adinda, Fragmen yang Jadi Atraksi Wisata di Lebak Ilustrasi. (Foto: Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah Saidjah dan Adinda, yang ada di salah satu bab novel berjudul Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, dinilai dapat menjadi daya tari tersendiri bagi Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, menuturkan narasi itu bisa dikembangkan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat daerah lain untuk datang ke Lebak.

Senada dengan Hilmar, sejarawan Bonnie Triyana mengatakan narasi Max Havelaar memang menjadi kekuatan bagi Lebak, terutama Rangkasbitung.



"Kita tidak mengkultuskan Multatuli, tetapi kita mengapresiasi gagasannya dalam novel Max Havelaar," kata Bonnie, seperti yang diberitakan Antara (7/8).

Bonnie mengatakan narasi tersebut dapat mengundang orang untuk datang ke tempat tersebut.

"Dulu kalau orang ke sini, mau cari tahu tentang Multatuli tidak tahu kemana, sekarang sejak ada Museum Multatuli memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi," kata dia.

Menurutnya Multatuli atau Douwes Dekker memang hanya sekitar tiga bulan tinggal di Lebak sebagai asisten residen sejak Januari 1856. Dia pindah dari Lebak, setelah berselisih dengan atasannya.


Tetapi penderitaan yang dialami rakyat Lebak telah menginspirasi dia untuk menulis novel yang terbit pada 1860 itu saat dia tinggal di Brussel, Belgia.

Buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada 1972 oleh HB Jassin.

Menurut M. C. Ricklefs, roman Max Havelaar mengungkapkan dengan sangat pas keadaan pemerintah kolonial yang sangat zalim dan korup di Jawa.

Roman itu menjadi senjata ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada abad XIX di Jawa.

Museum dan Festival

Pada tahun 2015 berdiri Museum Multatuli, yang menempati bangunan bekas kantor Kawedanan Rangkasbitung.

Museum yang terdiri atas tujuh ruangan ini menampilkan empat tema besar, yaitu antikolonialisme, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini.


Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, mengatakan sejak adanya Museum Max Havelaar jumlah wisatawan ke Rangkasbitung bertambah.

Berdasarkan data yang didapat, ia melanjutkan, sejak awal musuem itu dibuka hingga saat ini sudah ada 13 ribu pengunjung yang datang.

"Mereka datang dari berbagai latar belakang, banyak juga dari pengunjung dari mancan negara. Paling banyak adalah turis dari Belanda," ujar Iti.

Tahun ini untuk pertama kalinya Kabupaten Lebak bersama komunitas dan Kemendikbud menggelar Festival Seni Multatuli.

Kegiatan tersebut digelar empat hari mulai 6-9 September 2018, dalam festival tersebut akan ada bedah buku puisi "Kepada Toean Dekker" dan juga simposium.

(agr)