Burberry Tak Lagi Pakai Bulu Hewan Asli

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 07/09/2018 17:44 WIB
Burberry Tak Lagi Pakai Bulu Hewan Asli Ilustrasi (AFP PHOTO / Niklas HALLEN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumah mode asal Inggris, Burberry, baru saja membuat keputusan besar. Label mewah itu memutuskan untuk tidak lagi menggunakan bulu hewan asli dalam produk fesyennya. Mereka juga menyatakan bakal berhenti membakar barang-barang Burberry yang tak laku terjual.

"Komitmen ini dibangun berdasarkan tujuan yang kami tetapkan tahun lalu sebagai bagian dari agenda tanggung jawab lima tahun kami dan didukung oleh strategi baru kami, yang membantu mengatasi penyebab pemborosan," pernyataan resmi dari Burberry, seperti dikutip dari CNN.

Burberry merupakan salah satu produsen barang mewah yang banyak menggunakan bulu hewan asli pada baju, celana, tas, hingga sepatu. Bulu hewan asli dianggap menambah nilai jual dan seni pada barang fesyen. Label itu banyak menggunakan bulu kelinci, rubah, cerpelai, dan rakun Asia. "Bulu-bulu hewan itu akan dilarang," demikian bunyi pernyataan itu.



Penggunaan bulu hewan asli ini sudah lama ditentang oleh banyak aktivis lingkungan. Kelompok aktivis lingkungan Human Society International menyambut baik keputusan Burberry.

"Pekan mode dimulai hari ini di New York, sikap baik Burberry datang saat waktu yang tepat," kata Direktur Media Internasional organisasi itu, Wendy Higgins melalui surat elektronik kepada CNN.

Higgins menilai, keputusan Burberry sangat tepat dan mesti diikuti rumah mode lain yang masih menggunakan bulu hewan asli.

Tak cuma soal penggunaan bulu hewan, selama ini Burberry juga dikenal sebagai label yang kerap membakar barang-barang tak terjual. Produk fesyen itu sengaja dihancurkan karena label tak ingin menjualnya dengan harga murah.


Pada Juli lalu, terungkap Burberry menghancurkan pakaian dan parfurm senilai lebih dari US$36 juta atau hampir Rp500 juta pada tahun 2017.

Direktur Eksekutif Burberry, Marco Gobbetti mengatakan, perusahannya berkomitmen untuk menemukan cara yang lebih baik dalam menanggulangi hal tersebut.

"Barang mewah yang modern berarti juga bertanggung jawab secara sosial dan pada lingkungan. Kami meyakini bahwa ini adalah kunci kesuksesan jangka panajng," kata Gobbetti. (asr/chs)