Celoteh Wisata

Angan Reality Club Tentang Konser di Alam

fey, CNN Indonesia | Sabtu, 08/09/2018 13:04 WIB
Angan Reality Club Tentang Konser di Alam Reality Club. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua tahun berkecimpung di industri musik tanah air, Reality Club tak hanya merasakan kemeriahan di panggung-panggung hiburan di berbagai daerah.

Band asal Jakarta yang mengusung aliran musik pop ini, juga tak ingin melewatkan kesempatan mencicipi ragam wisata nusantara.

Beberapa kota di Indonesia sudah disambangi oleh band yang beranggotakan Fathia Izzati (vokal), Nugi Wicaksono (bass), Faiz Novascotia Saripudin (gitar, vokal), Era Patigo (drum), dan Iqbal Anggakusumah (gitar). Namun ada beberapa daerah yang membekas di hati sebagian personelnya.


Bagi Fathia dan Nugi, Yogyakarta merupakan kota wisata yang berhasil mencuri hati mereka.


"Kalau lagi perform di luar kota biasanya yang kita incer lebih ke makanannya. Jogja ya udah pasti gudeg," ujar Fathia penuh semangat, saat ditemui CNNIndonesia.com, pekan lalu.

"Kami memang belum keliling nusantara banget, jadi belum banyak kota yang kita jajahi. Tapi, sejauh ini Jogja adalah salah satu kota yang nyaman," ujar Nugi, menambahkan.

Pengalaman pertama Reality Club memperdengarkan musiknya ke luar Jakarta, dimulai di Kota Malang, Jawa Timur. Rupanya para personel Reality Club terkejut dengan antusiasme para penonton di Malang.

"Karena kita band indie, jadi kita selalu memerhatikan pasar indie di setiap kota yang kita kunjungi. Dan ternyata pasar indie di luar Jakarta jauh lebih besar dibanding Jakarta," tutur Ara.


Selain Malang, Bandung juga tak luput dari memori Ara, dan Iqbal, sang gitarist.  Pengalaman manggung Reality Club di ibu kota Jawa Barat ini didapat saat mereka berkesempatan menjadi pengisi acara dalam acara LaLaLa Fest 2018.

LaLaLa Fest adalah sebuah acara festival tahunan yang diselenggarakan di Orhid Forest, Lembang, Kabupaten Bandung. Konsep festival ini adalah menggelar pertujukan musik di alam. Acara ini menjadi salah satu yang populer di kalangan kaum milenial, dan genrasi menolak tua.

"Di acara-acara seperti itu biasanya orang datang karena memang ingin datang ke acara itu. Kalau acara-acara di Jakarta kan banyak yang didatangi untuk mengisi waktu luang aja kan. Jadi antuasiasme crowd-nya juga beda," ujar Era.


Sayangnya konsep festival seperti ini tak hanya unik dan menyenangkan, namun juga kerap dianggap sebagai bencana lingkungan seperti halnya yang terjadi pada musik festival di Amerika, yakni Sasquatch.

Sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung festival dibiarkan tertimbun begitu saja.

"Konsep-konsep unik seperti itu memang menarik sih, tapi concern berikutnya ya jangan sampai merusak alam aja. Kalau merusak alam kan sayang banget," kata Nugi.

Tentunya sikap kesadaran yang tinggi perlu ditanamkan tak hanya bagi penyelenggara acara, melainkan bagi musisi dan pengunjung festival.

Terkait konser bertajuk alam liar, mengadakan konser alam di Bali hingga Islandia dan Selandia Baru merupakan daftar impian bagi Reality Club.

(agr)