Interpretasi Tren Fesyen 2019/2020 Desainer Indonesia

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 19:16 WIB
Interpretasi Tren Fesyen 2019/2020 Desainer Indonesia Koleksi Deden Siswanto (Dok. IFC)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertengahan tahun 2018, para desainer sudah mulai memprediksi tren desain dan juga tren warna di tahun depan.

Tri Anugrah, Trend Expert Indonesia Trend Forecasting mengungkapkan bahwa tahun 2019/2020 akan mengangkat tema singularity.

Singularity pun terbagi dalam empat tema besar yaitu exuberant, neo medieval, svarga, dan cortex.



"Dalam konsep singularity terdapat unsur pertanyaan, kekhawatiran, optimisme, dan harapan di masa depan," kata Tri Anugrah saat ajang 23 Fashion District di Bandung, Jumat (7/9).

Penggambaran tren mode di tahun depan mulai menginspirasi beberapa desainer dalam pembuatan karyanya.

Deden Siswanto dalam fashion parade tersebut memilih mengangkat koleksi kain lagosi bertajuk Lipa Lagosi.

"Kain ini dari Makasar dan untuk pembuatannya saya bekerjasama dengan perajin kain lagosi langsung," kata Deden.

"Koleksi ini menggambarkan koleksi Singularity khususnya tema svarga dengan warna yang cerah."

Koleksi Deden yang terdiri dari 14 look ini pun terlihat berbeda. Pasalnya koleksi kali ini punya warna yang berbeda dengan gaya Deden selama ini. Deden yang biasanya membuat koleksi dengan palet warna gelap dan dalam, kali ini menghadirkan koleksi busana dengan warna yang cerah.

Bahkan warna pink, hijau, dan kuning juga hadir di koleksi ini. Meski warnanya berubah jadi lebih cerah, koleksi Deden tak 'tersesat' dalam ritme yang tak jelas. Koleksinya masih tetap seperti Deden sebelumnya.

Jubah panjang, belt, gaun panjang bertumpuk, aksen asimetris dan layer masih jadi kekuatannya. Sentuhan kuat namun feminin juga makin terasa dengan adanya motif bunga-bunga berukuran besar di kain lagosinya.

Gaya busana koleksinya kali ini diklaim sebagai bentuk baru dari hasil eksplorasi baju bado dan juga sarung. Hanya saja Deden lebih banyak mengeksplor siluet trapesium dan juga H.

"Dalam koleksi ini juga ada salah satu bajunya yang dipakai saat Asian Games 2018 lalu. Saya bangga sekali."

Tahun 2019 mungkin sesuai dengan jiwa mode Raegita Zoro. Sesuai ciri khasnya, desainer muda ini memilih untuk berada di jalur busana sporty. Dia juga selalu memilih warna-warna cerah bahkan cenderung terang untuk koleksinya.

Dalam koleksi terbarunya, Raegita terlihat mengadopsi tren exuberant dengan warna-warna pop.

"Kali ini temanya The Squad karena saya ingin tema ini menjadi jawaban optimis atas tantangan di 2019," kata Raegita.

Koleksi raegita Zoro (tengah) Foto: Dok. IFC
Koleksi raegita Zoro (tengah)

"Keoptimisan ini saya gambarkan dengan warna neon terang seperti hijau dan pink. Tapi dipadukan juga dengan olive green, dan midnight blue."

Raegita masih menghadirkan busana dengan napas sporty. Jogger pants, jaket bomber asimetris, jaket panjang, dress mini, crop top, celana panjang longgar, sampai atasan sleveeless.

Tren exuberant juga menginspirasi desainer Hannie Hananto. Sedikit berbeda dengan Raegita, Hannie tampil sedikit berani motif.

Hanya saja warna-warna yang dipilih Hannie pun tak seneon Raegita.

"Saya mengaplikasikan tren exuberant tapi lebih ke urban karikatur," kata Hannie.

"Ilustrasinya banyak dijumpai di metropolitan, saya mengambilnya dari mainan-mainan masa kecil, misalnya matryoshka sampai blok-blok kayu."

koleksi Hannie HanantoFoto: Dok. IFC
koleksi Hannie Hananto

Selain motif mainan, Hannie juga menggunakan motif-motif lucu dan menarik dalam koleksinya, termasuk polkadot, dan kotak-kotak hitam putih, karikatur wajah yang lucu.

Gamis-gamis panjang yang dipadu dengan kerah kemeja, gamis midi yang dipadankan dengan celana panjang berpipa lebar. Motif-motif besar bergambar mainan dan karikatur yang dipadukan dengan motif lain pun mencuri perhatian.

"Yang penting motif besar itu dipadukan dengan yang monokrom agar tak jadi berlebihan."

Tak cuma desainer senior yang mengaplikasikan tren dalam koleksinya. Mahasiswi fesyen dari Telkom University, Riztia Nilfarisa juga mengaplikasikan tren urban karikatur.

Seperti genre anak muda pada umumnya, Riztia lebih suka merancang busana-busana dengan sentuhan Jepang. Dalam tema cutpops yang diangkatnya dia menginterpretasikannya dengan pola asimetris.

"Terinspirasi dari street style Jepang yang digabungkan dengan pattern tulisan coretan anak-anak," kata Riztia.

Siluet yang dihadirkannya dalam bentuk jaket loose dengan aksen tali yang terurai, celana jogger loose, hoodie dengan pola cipratan warna, jaket asimetris, atasan mirip kimono dengan ikatan pita warna-warni dan aksara Jepang.

koleksi Riztia NilfarisaFoto: Dok. IFC
koleksi Riztia Nilfarisa

Hanya saja, suasana ala-ala Jepangnya masih terlalu kuat dibanding dengan elemen coretan anak-anak yang diklaim juga turut menginspirasinya.

Desainer Agus Sunandar memilih tren yang sedikit berbeda dengan pilihan desainer pada umumnya. Dia memilih untuk menghadirkan tren noe medieval.

"Saya memilih nama Runako. Runako sendiri merupakan simbol semangat dan kekuatan," kata Agus.

koleksi Agus SunandarFoto: Dok. IFC
koleksi Agus Sunandar

"Saya memilih menghadirkan sentuhan urban yang dipadu dengan bentuk basic dan juga klasik."

Sisi kuat dan tegas seorang perempuan dan digambarkan Agus lewat desain jaket wol tebal yang kuat. Sesuai janji, Agus memang membawa koleksi jaket dan blazer dengan potongan sederhana. Hanya saja dia memilih penggunaan warna yang dalam dan kuat.

(chs)