Warga Hanoi Diminta Tak Lagi Makan Daging Anjing

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 15:42 WIB
Warga Hanoi Diminta Tak Lagi Makan Daging Anjing ilustrasi kuliner (Raw Pixel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejabat dari Komite Rakyat Hanoi mendesak warganya untuk mengurangi konsumsi daging anjing.

Mereka mengatakan bahwa hidangan populer tersebut menodai citra kota dan berisiko menyebarkan rabies. Setidaknya tiga orang meninggal dunia karea rabies di Hanoi pada awal tahun ini. Sedangkan dua orang lainnya dikonfirmasi terinfeksi penyakit tersebut.

Tak dimungkiri daging anjing memang menjadi salah satu makanan populer di Hanoi. Daging-daging ini biasanya diolah dengan cara di panggang, direbus, atau dikukus. Makanan ini pun bisa dengan mudah ditemui di pasar dan toko makanan di seluruh ibu kota.



Anggur beras atau bir menjadi salah satu padanan wajib saat makana daging anjing.

Tak cuma larangan untuk makan daging anjing, komite tersebut juga mendesak warga untuk berhenti makan daging kucing. Di Vietnam, daging kucing sering dijuluki sebagai harimau kecil dalam daftar menunya. Hanya saja menu ini masih tak terlalu populer dibanding daging anjing. Akan tetapi masih banyak sajian daging kucing di daerah pedesaan.

Pelarangan ini bertujuan untuk menjaga reputasi Hanoi sebagai 'modal keberadaban dan modern di antara orang asing. Masalahnya, banyak orang yang menganggap makan daging hewan dan yang biasanya dijadikan hewan peliharaan itu tabu. Selain itu masalah makanan halal-haram juga jadi pertimbangan untuk wisatawan muslim yang bertandang ke Hanoi.


"Perdagangan, pembunuhan, dan penggunaan daging anjing dan kucing sudah menimbulkan reaksi negatif dari wisatawan dan ekspatriat yang tinggal di Hanoi," tulis pernyataan tersebut.

Di Hanoi sendiri setidaknya ada 1.000 toko yang menjual daging hewan. (chs)