Fenomena Campur Aduk 'Bahasa Anak Jaksel'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 19/09/2018 16:47 WIB
Fenomena Campur Aduk 'Bahasa Anak Jaksel' Foto: CNN Indonesia/Anggit Gita Parikesit
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu belakangan, which is, basically, literally mendadak populer dan jadi 'bahasa anak Jaksel' (Jakarta Selatan).

Penggunaan bahasa campuran ini juga diidentikkan dengan lokasi geografis Jakarta Selatan.

Sebenarnya kata-kata ini adalah bentuk kosakata dasar dan biasa dalam bahasa Inggris. Namun kata-kata ini jadi populer lantaran banyak dicampur dengan bahasa Indonesia.



Pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati menilai fenomena ini muncul bukan tanpa alasan. Menurut Devie, mencampur bahasa merupakan lambang hierarki yang menunjukkan status sosial, pendidikan, dan kehormatan.

Devie menjelaskan di era global ini, berbahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Setiap orang dituntut untuk bisa berbahasa internasional agar dapat berhubungan dan bernegosiasi dengan siapa saja di seluruh dunia.

Di Indonesia, Devie menyebut bahasa Inggris ini diaplikasikan dengan mencampurkannya dengan bahasa ibu. 

"Dalam konteks bahasa Indonesia, yang paling menarik adalah manifestasinya dalam bentuk bahasa campur sari atau ganda campuran, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris," kata Devie saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (19/9).

Penggabungan dua bahasa ini, kemudian menarik perhatian lantaran dianggap berbeda dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Senada dengan Devie, vlogger dan instagramer asal Amerika yang kini menjadi guru bahasa Inggris Dennis mengungkapkan bahwa sebenarnya pencampuran dua bahasa ini bukan hal yang aneh.

"Itu terjadi dalam banyak bahasa, seperti di Amerika misalnya. Saya datang dari keluarga keturunan Kuba dan Amerika. Jadi kami di rumah seringkali ngobrol dengan bahasa campur Spanyol dan Amerika. Kami menyebutnya Spanglish," kata Dennis saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (19/9).


"Tapi di Indonesia sendiri, mungkin enggak banyak keluarga campuran seperti itu. Tapi enggak ada yang salah dengan mencampur dua bahasa itu."

Pria yang akrab disapa Mr.D ini sendiri mengungkapkan bahwa tren 'bahasa anak jaksel' ini bukan hal yang buruk.

"Ini bukan hal buruk. Tren ini terjadi biasanya di antara teman-teman, atau anak muda. Tapi konsepnya tetap sama seperti keluarga campuran di Amerika," ucapnya.

Faktor Kekuasaan

Devie mengungkapkan bahwa pencampuran bahasa ini juga terjadi karena ada faktor jarak kekuasaan atau dalam istilah komunikasi dikenal dengan power distance. Budaya dan masyarakat Indonesia menganggap bahasa Inggris merupakan bahasa yang lebih tinggi.

"Orang Indonesia terbiasa dengan struktur sosial hierarkis. Jadi, ada status sosial tertentu yang bila digunakan akan mendapatkan penghormatan. Bahasa Inggris dianggap mewakili simbol itu, berpendidikan tinggi, kekayaan dan kehormatan," tutur Devie.

Penggunaan bahasa Inggris di dalam bahasa Indonesia itu dianggap bisa mengangkat derajat sesorang yang memakainya. 

"Bukan hanya untuk berhubungan tapi ada unsur simbolik. Dengan berbicara bahasa Inggris, walaupun separuh-separuh, dilihat lebih keren, lebih oke, lebih pantas dihormati karena hierarkis itu tadi," ucap Devie.

Sebenarnya bukan anak Jakarta Selatan saja yang gemar mencampur bahasa. Namun mengapa code mixing atau campur aduk bahasa ini menjadi identik dengan anak jaksel?

Devie melihat wilayah Jaksel banyak diisi oleh kelompok dengan ekonomi yang lebih tinggi.

"Jakarta Selatan itu diasosiasikan sebagai wilayah dengan kelompok ekonomi lebih tinggi. Sehingga relevan dengan kode bahasa tersebut dan dalam tanda kutip sah-sah saja dikaitkan dengan Jaksel," kata Devie.

Positif-Negatif Bahasa Anak Jaksel

Sebagai salah satu orang asing di Indonesia, Dennis tak memandang pencampuran bahasa ini sebagai sebuah masalah besar.

"Mereka melakukannya untuk bersenang-senang, lifestyle, pergaulan, biar keren, biar dianggap cool. Tapi ini juga melatih keberanian mereka untuk bicara."

Dennis sendiri membenarkan ketika disinggung soal mencampur dua bahasa ini punya nilai positif. Salah satunya adalah meningkatkan keberanian untuk bicara bahasa Inggris. Tak dimungkiri, keberanian untuk bicara bahasa asing dengan orang asing masih jadi kendala utama sebagian warga. Kebanyakan mereka takut dengan tata bahasa salah atau kosa kata yang terbatas.

"Orang Indonesia sudah cukup berani bicara bahasa asing tapi masih cukup jauh. Bahasa Inggris itu tidak semenakutkan yang kamu pikir," kata Dennis.

"Kalau ada kata yang salah bicara ke orang asing, orang asing tidak akan mengoreksi ucapan kamu, kalau mereka mengulangi ucapan kamu, maka itu tujuannya hanya untuk mengklarifikasi maksud ucapan kamu apa sama dengan yang saya tangkap?"


Selain itu, Devie melihat penggunaan dua bahasa campuran ini menunjukkan kemampuan berbahasa yang baik. Dia memaparkan beberapa penelitian yang menyebut penggunaan lebih dari satu bahasa menunjukkan kemampuan multitasking atau mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.

Penelitian lain juga menemukan kemampuan lebih dari satu bahasa membuat seseorang dapat memutuskan pilihan dengan lebih rasional. Studi lain pun mengungkap menguasai lebih dari satu bahasa membuat seseorang lebih sensitif terhadap lingkungan.

Di balik sisi positif melatih keberanian, pencampuran bahasa ala bahasa anak Jaksel ini diakui Dennis sedikit banyak bisa menimbulkan sisi negatif, khususnya jika dipandang dari sisi orang asing di Indonesia.

Sisi buruknya, pencampuran bahasa ini secara tak langsung akan membuat orang asing di Indonesia jadi malas belajar bahasa indonesia.

"Mereka beranggapan, ah orang Indonesia saja mix bicara pakai bahasa inggris, jadi enggak masalah kalau saya pakai bahasa campur juga. Ya ada positif negatifnya." (chs)