Alasan Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri

Rizky Sekar Afrisia | CNN Indonesia
Jumat, 06 Nov 2015 19:21 WIB
Masyarakat Indonesia mengidap xenomania atau tergila-gila pada asing. Imbasnya, identitas bangsa mudah tergerus. Ilustrasi kamus bahasa Inggris (Hugh Pinney/Getty Images)
Ubud, CNN Indonesia -- Sejak dahulu, Indonesia masih mengidap xenomania. Tergila-gila pada asing. Fenomena itu pun dirasakan pengamat budaya Perancis yang kini tinggal di Indonesia, Jean Couteau. Bahkan para intelektual pun banyak mengutip pemikir Perancis.

"Itu penyakit Indonesia," kata Jean saat berbincang dengan CNN Indonesia di Ubud, Bali, beberapa waktu lalu.
 Tulisan-tulisan yang terlalu berkiblat ke Barat, menurutnya bagus, tapi belum tentu dibaca orang Indonesia sendiri. Sebab, konteks lokasi dan sejarahnya saja berbeda.

Elite Indonesia yang terlalu Barat, kata Jean, akan terasing dari negerinya sendiri, terutama dari lapisan bawah. "Itu tidak sehat," ujarnya menegaskan. Jean mencontohkan, orang Indonesia yang berbicara sesamanya dengan bahasa asing, bukan bahasa Ibu.

Ia mengaku sering menemuinya pada kelompok anak muda di Jakarta.

"Jangan lupa apa yang dulu terjadi di Rusia. Elite-elite Rusia 100 tahun lalu bicara satu sama lain pakai bahasa Perancis. Mereka jadi terasing di negerinya sendiri," ujar Jean lagi. Biasanya, tujuan awalnya hanya karena tidak mau dianggap ‘kampung’. Mereka akhirnya sibuk membangun eksklusivitas diri. Jarak sosial yang lebar pun tercipta.

Berkebalikan dengan para elitis itu, Jean justru termasuk orang asing yang mencintai budaya Indonesia. Ia menulis beberapa buku tentang budaya Bali. Bahasa Indonesianya pun lancar. "Belajar budaya asing itu normal, tapi harus tetap seimbang," tuturnya memberi saran.

Ia sendiri kelamaan merasa terasing pula dari negerinya. "Karena saya jarang ke sana," katanya. Jean telah berpuluh tahun hidup di Indonesia.

Terlepas dari itu, Jean menyarankan jika ingin budaya Indonesia tetap lestari, hendaknya dihargai dari level atau skala terkecil seperti penggunaan bahasa. Selama ini, menurutnya kebudayaan Indonesia cuma dijadikan alat nasionalisme.

"Langkah konkret untuk melindunginya tidak ada. Kecuali untuk mengangkat nama Indonesia di forum internasional. Kalau begitu, ya untuk kebanggaan saja," kata Jean.
  (les/les)
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER