Jarum Facial dan 'Penular' HIV Dua Hal yang Berbeda

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 26/09/2018 15:40 WIB
Jarum Facial dan 'Penular' HIV Dua Hal yang Berbeda Ilustrasi (ANTARA FOTO/Asep/Fathulrahman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facial adalah salah satu prosedur perawatan wajah yang lumrah dilakoni banyak orang, khususnya kaum hawa. Perawatan itu menjawab harapan wanita akan kulit bersih dan terhindar dari komedo.

Namun, belakangan prosedur facial dikaitkan dengan proses penularan virus HIV. Kabar itu mula-mula muncul dari unggahan seorang aktivis kesehatan seksual, Andrea Gunawan, melalui akun Instagramnya. Dia mengunggah kisah seseorang yang kabarnya tertular virus HIV melalui prosedur facial.

Meski identitas pengirim ditutup, tapi cerita tersebut kian viral dan menimbulkan sederet pertanyaan pada publik.


Adiyana Esti, tenaga medis di Klinik Angsamerah Jakarta yang fokus pada penanganan HIV/AIDS, menangkap kekhawatiran warganet.


Menurut Esti, tipe jarum yang digunakan untuk menekan wajah tak sama dengan jarum yang dapat menularkan HIV. Jarum pada perawatan wajah tidak memiliki lubang. Sementara jarum yang menularkan HIV, biasanya memiliki lubang untuk menyimpan sisa darah.

Dengan nihilnya lubang, darah yang menempel pada jarum bakal kering dalam waktu cepat. "Artinya, sel darah putih tempat virus berdiam juga ikut kering dan rusak," kata Esti, Rabu (26/9).

HIV ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, sperma, dan ASI dengan jumlah virus yang besar. Selain itu, cairan tubuh lain seperti keringat, air mata, dan air liur memiliki kadar virus yang rendah.

Pada prinsipnya, kata Esti, virus akan mati jika 'inang' tempatnya hidup mengalami kerusakan. Virus HIV tak akan bertahan lama jika cairan keluar dari tubuh.

"Terlebih bila terkena cairan klorin seperti yang ada di kolam renang, masuk dalam cairan soda, terkena asam lambung, atau terkena sinar matahari," jelas Esti.


Esti menduga, penularan HIV pada kasus warganet tersebut berasal dari proses menyuntikkan sesuatu, seperti plasma, di bagian wajah untuk terapi kecantikan. "Namun si netizen tidak tahu alat suntik yang digunakan steril atau tidak," kata dia.

Jika dugaannya benar, potensi penularan akan meningkat jika plasma yang disuntikkan diambil dari darah orang yang terinfeksi HIV.

Namun, tidak sterilnya jarum suntik tak cuma berpotensi menularkan HIV. Beberapa penyakit lain yang mungkin ditularkan melalui jarum suntik di antaranya adalah hepatitis B, hepatitis C, dan sifilis.

"Jadi, pilih tempat perawatan kecantikan yang menjamin bahwa peralatan yang digunakan steril," pungkas Esti. (els/asr)