Stigma Negatif buat Angka Terapi ARV Ibu Hamil Menurun

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 27/08/2018 10:56 WIB
Stigma Negatif buat Angka Terapi ARV Ibu Hamil Menurun Angka intervensi obat ARV pada ibu hamil yang terus menurun sejak tahun 2014 disebabkan oleh stigma negatif masyarakat. Foto: REUTERS/Stringer
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus HIV mengancam siapa saja, termasuk di antaranya ibu hamil. Keberadaan ibu hamil positif HIV/AIDS mengancam generasi berikutnya yang dilahirkan. Penularan pada bayi jadi sangat mungkin.

Intervensi obat Antiretroviral (ARV) pada ibu hamil disebut mampu menurunkan risiko penularan HIV/AIDS kepada bayi. Namun, sayangnya baru segelintir ibu hamil yang sadar untuk getol mengonsumsi ARV.

Berdasarkan data UNAIDS, hanya ada sekitar 13% atau 1.536 dari total 12.100 ibu hamil positif HIV/AIDS di Indonesia yang menjalani terapi ARV hingga Desember 2017 lalu. Angka itu terus menurun dari 22% pada 2014 menuju 15% pada 2015. Kemudian, menurun lagi pada 2016 menjadi 14%.


"Jangankan ibu hamil. Secara nasional, ODHA itu hanya sekitar 20% yang mengonsumsi ARV. Ini pekerjaan rumah bagi seluruh sistem untuk mendorong konsumsi ARV," ujar dr Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah Jakarta yang fokus pada kesehatan reproduksi dan seksual kepada CNNIndonesia.com di Jakarta, beberapa waktu lalu.


Padahal, kemampuan ARV untuk membuat virus ini 'ngumpet' dalam tubuh mampu menurunkan risiko penularan pada bayi. Tak hanya itu, perempuan yang akrab disapa Esti ini juga mengatakan bahwa konsumsi ARV terbilang aman dan tak menimbulkan efek samping bagi kehamilan.

Salah satu penyebab dominan keengganan ibu hamil untuk mengonsumsi ARV ini adalah stigma negatif terhadap ODHA. "Ini soal stigma," tegas Esti.

Seorang ibu hamil, kata Esti, bakal merasa takut jika orang-orang di sekitarnya tahu soal virus HIV yang bersarang di tubuhnya. "Mereka takut kalau terbongkar lalu ada orang sekitarnya tahu," kata dia.

Selain itu, faktor ketidakmampuan tenaga medis untuk memberikan penjelasan menyeluruh juga dinilai menjadi penyebab. Beberapa tenaga medis, kata Esti, bahkan tak menjelaskan bahwa ARV tak membahayakan janin. Ditambah cara bicara tenaga media yang dinilai cenderung terpengaruh stigma negatif.


Hal-hal tersebut lantas membuat ibu hamil merasa tak nyaman yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa takut. Alhasil, ibu hamil memilih untuk tidak mengakses terapi ARV.

Keengganan ibu hamil untuk mengonsumsi ARV berdampak pada catatan angka infeksi baru HIV/AIDS pada usia dini. Data estimasi UNAIDS mencatat sebanyak 3.100 infeksi baru pada usia 0-14 tahun terjadi pada tahun 2017. Angka itu menurun dari sebanyak 3.200 infeksi baru pada rentang usia sama di tahun 2016.

Beberapa cara bisa dilakukan ibu hamil untuk mencegah bayi tertular virus HIV/AIDS. Misalnya saja dengan rekomendasi proses kelahiran secara caesar yang diberikan tenaga medis. "Proses kelahiran ini dilakukan untuk meminimalisir kontak dengan cairan vagina," kata Esti.

Jika seorang bayi didiagnosis positif HIV/AIDS, maka intervensi obat ARV pediatrik khusus dosis bayi adalah hal yang harus sesegera mungkin dilakukan. (asr/asr)