Penyakit-penyakit yang Ditularkan Melalui Jarum Suntik

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 26/09/2018 18:55 WIB
Penyakit-penyakit yang Ditularkan Melalui Jarum Suntik Foto: REUTERS/Ajay Verma
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekhawatiran sontak timbul sejak tersebarnya informasi tentang penularan virus HIV lewat alat-alat prosedur facial. Seorang warganet mencurahkan kisahnya pada akun @catwomanizer milik Andrea Gunawan. Dia mengaku tertular virus HIV setelah menjalani facial.

Namun, HIV/AIDS bukan satu-satunya penyakit yang bisa ditularkan melalui jarum suntik. Adiyana Esti, tenaga medis di Klinik Angsamerah Jakarta, menyebutkan bahwa ada beberapa penyakit lain yang 'menghantui' proses apa pun yang dilakukan dengan jarum suntik.

"Bakteri Staphylococcus sp, Streptococcus sp. Ini yang paling sering bikin bisul," kata Esti kepada CNNIndonesia.com, Rabu (926/9).


Berikut beberapa penyakit lain yang bisa ditularkan melalui penggunaan jarum suntik.


1. Hepatitis B

Penyakit hepatitis B disebabkan oleh virus HBV. Penyakit ini bisa berakibat fatal sebab hepatitis B dapat menjalar hingga sirosis atau kanker hati.

Hepatitis B dapat menular melalui kontak seksual, penggunaan jarum suntik secara bergantian, tak sengaja kontak dengan jarum suntik, dan penularan ibu pada bayi saat proses persalinan.

Demi menghindari risiko penyakit, disarankan untuk menggunakan jarum suntik steril untuk prosedur pengobatan apa pun. Selain itu, Anda juga perlu menghindari penggunaan barang secara bergantian seperti sikat gigi, anting, dan alat cukur. Tak lupa, hindari pula berhubungan seksual tanpa alat pengaman.

2. Hepatitis C

Hepatitis C umumnya tidak menimbulkan gejala yang tampak. Kadang penderita menyadari dirinya tertular setelah beberapa tahun kemudian saat terjadi kerusakan hati.

Hanya sekitar 15-45 persen penderita sembuh tanpa penanganan khusus, sedangkan sisanya menyimpan virus dalam waktu lama. Virus akan berkembang menjadi infeksi kronis. Akibatnya, bisa berujung pada sirosis hati.

Sama seperti hepatitis B, untuk menghindari risiko hepatitis C, Anda perlu menghindari penggunaan jarum suntik tidak steril, penggunaan beberapa barang secara bergantian, dan berhubungan seksual tanpa alat pengaman.


3. Sifilis

Penyakit sifilis merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual akibat infeksi bakteri treponema pallidum. Bakteri dapat menular melalui luka di vagina, penis, anus, bibir, maupun mulut.

Tak cuma itu, risiko penularan sifilis pun dapat terjadi melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Pada tahap awal atau stadium primer, sifilis menimbulkan gejala ulkus durum atau luka dangkal pada daerah penis, vagina, atau mulut tanpa disertai rasa nyeri. Meski gejala hilang, bakteri tetap berada di tubuh penderita dan menimbulkan kerusakan secara bertahap.

Pada stadium sekunder, muncul benjolan serupa jengger ayam pada daerah kemaluan. Sedangkan pada stadium laten, organ dalam bakal mengalami kerusakan sedikit demi sedikit tanpa gejala yang diperlihatkan.

4. Bakteri Staphylococcus sp.

Bakteri satu ini bisa ditemukan pada orang sehat sekalipun tanpa menimbulkan masalah. Namun, sekali menimbulkan masalah,ia mampu memunculkan infeksi staph.

Tanda dan gejala infeksi bisa berupa masalah kulit minor hingga infeksi mematikan pada lapisan jantung.


Bakteri dapat menimbulkan infeksi kulit antara lain bisul pada bawah ketiak, paha atau bokong, impetigo atau ruam besar seperti kulit yang melepuh, selulitis atau infeksi pada lapisan kulit dalam, serta staphylococcal scalded skin syndrome yang kerap menyerang anak-anak.

5. Bakteri Streptococcus sp.

Seperti halnya bakteri staphylococcus, bakteri streptococcus juga 'mendekam' di tubuh orang sehat. Bakteri terbagi menjadi dua tipe, yakni streptococcus A yang hidup di kulit dan tenggorokan, serta tipe B yang hidup di usus, vagina, dan bagian akhir usus besar alias rektum.

Bakteri tipe A dapat menimbulkan infeksi yang memperlihatkan gejala radang tenggorokan, demam scarlet (demam disertai bercak merah, putih, atau kuning pada tenggorokan), demam reumatik, impetigo, dan glomerulonephritis (tekanan darah tinggi disertai pembengkakan lengan serta urin berwarna merah dan berbusa).

Sementara itu, bakteri tipe B dapat menimbulkan infeksi kulit dan jaringan halus, pneomia (infeksi paru), infeksi saluran kemih, meningitis, dan sepsis atau peradangan di seluruh tubuh. (els/asr)