HARI BATIK NASIONAL

Jalan Panjang Cerita Batik Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 09:40 WIB
Jalan Panjang Cerita Batik Indonesia Ilustrasi batik (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tepat sembilan tahun silam, 2 Oktober 2009, secara resmi batik diakui sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Tanggal itu diperingati saban tahun sebagai Hari Batik Nasional.

Batik begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia digunakan dalam berbagai kesempatan, dari momen penting dan formal hingga rutinitas harian.

Tradisi batik di Nusantara sendiri dimulai sejak masa Kerajaan Majapahit. Hal itu dibuktikan oleh sejumlah arca batu dari zaman Kerajaan Majapahit. Konon, Arca Harihara, yang merefleksikan pendiri Majapahit, Raden Wijaya, mengenakan motif batik kawung.


Selain itu, bukti kejayaan batik pada masa Kerajaan Majapahit juga dapat dilihat dari sisa-sisa peninggalan batik yang ada di wilayah Mojokerto dan Bonorowo, yang kini menjadi Tulungagung. Kawasan itu merupakan bekas wilayah Kerajaan Mahapahit. Kalangbret menjadi batik khas Mojokerto.


Beberapa catatan juga menyebut bahwa perkembangan tradisi batik meluas seiring dengan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa.

Awalnya, tradisi membatik ini hanya dikenal di dalam wilayah kerajaan. Batik menjadi sesuatu yang 'ningrat' dan eksklusif. Ia hanya digunakan sebagai pakaian raja dan para pembesar kerajaan.

Namun, perlahan tradisi batik mulai menjalar ke wilayah luar kerajaan. Ia bayak ditiru oleh rakyat jelata dan menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu luangnya.

Batik merupakan kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain. Proses pengolahannya yang sedikit rumit menjadi ciri khas dari batik itu sendiri.

Teknik batik sendiri telah diketahui sejak lebih dari seribu tahun silam. Diduga, teknik membatik berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik itu meluas di beberapa negara, termasuk salah satunya di Indonesia.

Desainer Indonesia, Denny Wirawan membawa wastra Indonesia ke panggung fashion dunia, Fashion Gallery New York Fashion Week (FGNYFW) 2016, melalui lini etniknya Balijava dengan koleksi Batik Kudus. Desainer Indonesia, Denny Wirawan membawa wastra Indonesia ke panggung fashion dunia, Fashion Gallery New York Fashion Week (FGNYFW) 2016, melalui lini etniknya Balijava dengan koleksi Batik Kudus. (Dok Image Dynamics)

Seiring berjalannya waktu, tradisi batik terus meluas di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.

Di masa awal perkembangannya di Nusantara, berbagai bahan alami dijadikan sumber pembuatan batik. Bahan-bahan perwarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia seperti pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila.

Saat itu, pembuatan batik hanya menggunakan metode tulis. Motif yang berkembang pun tak jauh dari gambaran hewan dan tumbuhan. Namun, perlahan metode pembuatan batik terus berkembang. Batik cap, misalnya, yang mulai dikenal usai Perang Dunia I atau sekitar 1920an.

Tahun-tahun berlalu, popularitas batik Indonesia kian melonjak. Hingga pada 2009 lalu, Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan alias UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Kala itu, UNESCO menilai bahwa teknik, simbol, dan budaya batik melekat dengan jalan panjang kebudayaan Indonesia.


Batik di zaman kiwari

Sebelumnya, batik kerap dianggap sebagai pakaian formal. Gayanya dinilai kaku dan sulit dikreasikan.

Namun, batik bermetamorfosa. Tak cuma dikenakan saat menghadiri undangan pernikahan atau helatan-helatan formal lainnya, batik kini mengisi sendi-sendi kehidupan manusia di zaman kiwari.

Berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan mulai mewajibkan penggunaan batik di hari-hari tertentu. Bahkan, terkadang batik juga 'tertangkap' di area-area publik, membalut tubuh banyak orang yang ada di sana. 

Tak cuma itu, gema batik Indonesia juga hadir berkat tangan-tangan kreatif sejumlah desainer Indonesia. Mereka mencoba mengubah stereotip soal batik yang kaku.

Pada April 2018 lalu, misalnya, Iwan Tirta Private Collection berkolaborasi dengan salah seorang desainer senior Mel Ahyar. Mereka 'menelurkan' koleksi ER LUM, di mana batik 'disulap' menjadi busana yang mewah, elegan, dan kekinian.

Model berlenggok membawakan busana rancangan Populo Batik pada Plaza Indonesia Fashion Week Spring Summer 2018 di Jakarta.Model berlenggok membawakan busana rancangan Populo Batik pada Plaza Indonesia Fashion Week Spring Summer 2018 di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Batik yang digunakan terdiri dari beragam motif seperti bunga, burung, gajah, hingga kupu-kupu. Rentang warna gelap seperti hitam, cokelat, hijau, dan biru menjadi warna yang mendominasi koleksi ER LUM.

Dalam koleksi ini, batik diaplikasikan dalam busana A-line dan siluet lurus. Tak cuma itu, Mel Ahyar juga mengombinasikannya dengan bahan tafetta, tulle, serta sutra organdi hingga membuat batik terlihat lebih modern.

Atau, tengok pula koleksi Kinasih karya Eddy Betty. Koleksi itu disebut-sebut sebagai 'nyanyian ulang' batik dengan versi baru.

Dalam koleksinya, desainer asal Jambi itu mengeksplorasi berbagai bahan yang tengah tren di dunia mode internasional dan menggabungkannya dengan batik.

Usaha untuk membuat batik lebih modern itu terlihat dalam mini dress batik berwarna cokelat yang dilengkapi trench coat plastik transparan di luarnya. Selain itu, ada pula mantel musim dingin berbahan batik yang dilapisi bahan plastik. Di sana, Eddy menyatukan atmosfir kemewahan tradisional dan futuristik.

Di luar 'racikan-racikan' yang melenggang di atas berbagai panggung mode, batik juga hadir dengan konsep yang lebih milenial. Tak cuma diaplikasikan dalam bentuk gaun-gaun mewah, tapi juga busana yang lebih kasual dan santai. (asr/chs)