Psikolog: Izrael dan Anak Korban Gempa Palu Masih Trauma

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 04/10/2018 15:10 WIB
Psikolog: Izrael dan Anak Korban Gempa Palu Masih Trauma ilustrasi (PDPics/Hasmat Ali)
Jakarta, CNN Indonesia -- Video bocah korban gempa Palu, Izrael yang meminta ikut dengan Presiden Joko Widodo viral di media sosial. Dalam sebuah video wawancara, Izrael bercerita ia ditinggal ibunya yang meninggal dunia karena menjadi korban gempa dan tsunami di Palu yang terjadi Jumat (28/9) lalu.

"Mama sudah di surga tapi saya tidak boleh menangis, saya harus berani. Saya harus belajar, membaca mama ku senang sekali. Kalau saya menangis mama ku nangis juga," kata Azriel dalam video itu. 

Kata-kata bocah yang masih berusia enam tahun itu seolah tampak tegar dan mengundang simpati netizen. Meski demikian, di balik ucapan Izrael ternyata masih tersimpan trauma yang mendalam.



"Yang saya tangkap, anak itu (Izrael) masih dalam keadaan masih syok banget. Ketika diwawancara dia tidak sepenuhnya kontak dengan pertanyaan mengenai Presiden, tapi yang dia nyatakan adalah apa yang dia bayangkan dan rasakan tentang ibunya. Dia selalu menjawab tentang ibunya," kata psikologi anak Mira Amir kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/10).

Dari jawaban Izrael itu, Mira menilai si bocah kehilangan figur dan pelindung yang selama ini mendampinginya. Belum lagi, ayah Izrael saat ini mengalami luka parah.

Saat Presiden Jokowi datang, menurut Mira, Azriel mengikutinya dan 'menangkapnya' sebagai salah seorang yang bisa memberikan perlindungan.

"Entah karena ada gerombolan orang yang mengajaknya atau bagaimana, tapi dia (Azriel) mengikuti nalurinya bahwa orang ini bisa melindungi saya. Walaupun, sebenarnya dia juga tidak tahu Presiden itu apa," tutur Mira.

Mira menjelaskan trauma yang terjadi pada Azriel itu juga terjadi pada anak-anak lain di Palu. Bencana gempa dan tsunami yang menerjang kota mereka menyisakan kepedihan dan trauma di dalam benak anak-anak.

"Tentu saja semua anak-anak di Palu merasakannya, bukan hanya Azriel. Mereka mengasosiasikan apa yang mereka lihat saat kejadian, kehilangan yang mereka rasakan, dan kelaparan saat di pengungsian," ucap Mira.

Mira menyebut sumber stres pada anak-anak itu dapat berasal dari suara, guncangan dan runtuhnya bangunan. Pengalaman itu juga ditambah dengan sakit dari luka fisik yang mereka dapatkan, seperti Azriel yang memgalami luka di dekat bibir dan bagian tangannya. 

Trauma juga bisa bertambah saat berada di pengungsian karena tidak memiliki tempat berlindung, kelaparan dan kekurangan banyak hal pokok lainnya.

Untuk pemulihan trauma pada anak ini, Mira menyebut bakal sangat bergantung pada banyak variabel mulai dari orang dewasa di sekitar mereka, relawan hingga lingkungan. 

"Cepat atau lambatnya pemulihan bergantung pada banyak hal. Pertama,  orang dewasa harus sudah pulih terlebih dahulu. Para relawan juga harus menciptakan situasi dan nuansa bermain pada anak," kata Mira.

Menurut dia, trauma healing bertujuan untuk mengantisipasi post-traumatic syndrome disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. Trauma healing untuk anak cenderung lebih sulit daripada untuk orang dewasa. Anak sulit mengungkapkan kecemasan, ketakutan yang ia rasakan. 

Oleh karena itu, terapi bermain pas diterapkan untuk anak-anak. 


"(Kalau bermain), mereka enggak merasa sedang diobati, enggak merasakan situasi yang mencekam. Dan yang mendampingi tidak boleh selalu mengungkit cerita (tentang gempa)," jelasnya. 

Trauma healing perlu kerjasama dengan tenaga profesional dan relawan. Dalam situasi pascabencana, orang dewasa tidak bisa diharapkan dukungannya dalam pemulihan trauma anak-anak sehingga perlu dukungan tenaga profesional dan relawan. 

"Mereka juga perlu pertolongan, bisa kerjasama dengan tenaga profesional dan sukarelawan," ucapnya. 

Senada dengan Mira Amir, psikolog anak dan keluarga Ratih Zulhaqqi juga mengungkapkan bahwa terapi bermain pas diterapkan untuk anak-anak.

Menurut dia, trauma healing bertujuan untuk mengantisipasi post-traumatic syndrome disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. Trauma healing untuk anak cenderung lebih sulit daripada untuk orang dewasa. Anak sulit mengungkapkan kecemasan, ketakutan yang ia rasakan. 

"(Kalau bermain), mereka enggak merasa sedang diobati, enggak merasakan situasi yang mencekam. Dan yang mendampingi tidak boleh selalu mengungkit cerita (tentang gempa)," jelasnya. 

Trauma healing perlu kerjasama dengan tenaga profesional dan relawan. Dalam situasi pascabencana, orang dewasa tidak bisa diharapkan dukungannya dalam pemulihan trauma anak-anak sehingga perlu dukungan tenaga profesional dan relawan. 

"Mereka juga perlu pertolongan, bisa kerjasama dengan tenaga profesional dan sukarelawan," ucapnya. 



(els/chs)