Studi: Tabir Surya Berisiko Picu Infertilitas

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 10:46 WIB
Studi: Tabir Surya Berisiko Picu Infertilitas Ilustrasi (Istockphoto/Wavebreakmedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bahaya paparan sinar ultraviaolet sudah bukan rahasia lagi. Tak cuma membuat kulit rusak, paparan sinar ultraviolet berlebih juga bisa meningkatkan risiko kanker kulit.

Untuk menangkalnya, banyak orang menggunakan tabir surya yang disebut-sebut ampuh melindungi kulit dari sederet bahaya yang mengintai. Sejumlah tabir surya bahkan mudah ditemukan di berbagai swalayan dan apotek di Indonesia.

Namun, sebuah penelitian anyar menemukan bahwa bahan kimia yang terkandung dalam tabir surya justru menimbulkan bahaya bagi kesehatan, terlebih pada tingkat kesuburan.


Penelitian yang dilakukan oleh Baptist University, Hong Kong ini menemukan sejumlah bahan kimia itu dalam perairan Hong Kong. Ketujuhnya juga ditemukan dalam tubuh ikan, udang, dan kerang.


"Dampak dari kontaminasi membayakan rantai makanan. Selanjutnya, hal itu juga bisa berdampak pada kesuburan jangka panjang," ujar pemimpin studi, dr Kelvin Leung, mengutip AFP.

Para peneliti melakukan tes pada ikan zebra. Ikan itu dikenal memiliki struktur genetik yang sama dengan manusia.

Hasilnya, air yang tercemar oleh bahan kimia itu menyebabkan kelainan pada ikan zebra. Selain itu, pencemaran air juga berujung pada tingkat kematian yang lebih tinggi pada embrio ikan. Artinya, pencemaran air oleh bahan kimia itu berisiko meningkatkan infertilitas.

Para peneliti mengklaim bahwa studi tersebut merupakan yang pertama di dunia dalam mengidentifikasi bahaya bahan kimia tabir surya.

Kendati demikian, universitas menyebut bahwa pihaknya bakal melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak bahan kimia tabir surya pada tubuh manusia.


Beberapa zat kimia yang diteliti di antaranya octocrylene (OC), benzophenone (BP-3), dan ethylhexyl methoxycinnamate (EHMC). Ketiganya umum ditemukan dalam tabir surya.

Leung mengatakan, bahan kimia BP-3 dapat terakumulasi dalam tubuh manusia dan tidak dapat dilarutkan dengan hanya mengonsumsi air mineral.

Kini, dunia tengah memberikan perhatiannya terhadap bahaya tabir surya. European Union's International Chemical Secretariat sendiri telah mengimbau produsen tabir surya untuk mengganti BP-3 dengan zat kimia lain yang lebih aman.

Selain itu, Pemerintah Hawaii juga sebelumnya menandatangani sebuah nota. Nota itu melarang melarang pengunaan tabir surya yang mengandung oxybenzone dan octinoxate, dua bahan kimia penyebab rusaknya terumbu karang. Akibatnya, sejumlah pihak khawatir pelarangan itu membuat konsumen enggan menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit mereka.

Atas hal tersebut, Leung meminta dihadirkannya peraturan-peraturan anyar yang mengatur penggunaan bahan kimia dalam produk tabir surya.

Leung juga merekomendasikan konsumen untuk menggunakan tabir surya berbasis mineral seperti titanium dioxide dan zinc dioxide.


Sebelumnya, laporan yang dirilis oleh Environmental Working Group (EWG) juga mencatat bahaya penggunaan tabir surya.

Mengutip Wellness Mama, laporan itu menyebut bahwa bahan kimia yang ada dalam tabir surya merupakan 'penghancur' endokrin dan estrogen. Selain itu, bahan kimia tersebut juga bisa mengganggu tiroid dan hormon lainnya dalam tubuh.

Center for Disease Control and Prevention juga menemukan kandungan benzophenone dianggap sebagai pengganggu endokrin yang mampu mengurangi jumlah sperma pada pria dan berkontribusi dalam pembentukan kista endometriosis pada wanita. (asr/chs)