Risiko Operasi Plastik di Usia Tua Seperti Ratna Sarumpaet

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 17:14 WIB
Risiko Operasi Plastik di Usia Tua Seperti Ratna Sarumpaet ilustrasi operasi plastik (REUTERS/Raheb Homavandi/TIMA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah tersebar hoaks dianiaya, aktivis Ratna Sarumpaet (69) mengakui lebam yang muncul di wajahnya merupakan efek samping dari operasi plastik.

Tindakan bedah plastik yang dilakukan Ratna yaitu sedot lemak pipi memang menimbulkan beberapa efek samping dan risiko. Tak dimungkiri, setiap tindakan operasi termasuk operasi plastik memang memiliki risikonya sendiri.

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi keberhasilan operasi plastik, salah satunya adalah kesehatan dan juga usia. Usia yang semakin tua akan memiliki risiko yang lebih besar.



Diketahui, Ratna Sarumpaet sendiri melakukan operasi di usia yang hampir memasuki kepala tujuh.

Dokter ahli operasi plastik Donna Savitry menjelaskan risiko yang muncul saat tindakan bedah plastik meliputi sakit, bengkak dan lebam atau biru kehitaman.

"Saya selalu jelaskan kepada pasien bahwa operasi plastik itu harus siap tiga hal. Pertama akan sakit, akan bengkak dan akan ada biru-biru. Harus siap dengan konsekuensi itu," kata Donna kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi Kamis (4/10). 

Donna yang tidak terlibat dalam operasi plastik yang dilakukan Ratna itu menyebut efek samping yang muncul pasca operasi ini bersifat tidak permanen dan dapat hilang beberapa hari setelah operasi.


Namun, pada orang yang berusia lanjut waktu penyembuhan dapat berlangsung lebih lama.

"Misalkan saja anak-anak lukanya akan sembuh lebih cepat dibandingkan dewasa, apalagi sudah tua umur di atas 70-80 tahun. Karena organnya sudah dipakai lama," tutur Donna yang merupakan spesialis bedah plastik-rekonstruksi estetika.

Organ tubuh yang sudah berusia tua itu juga dapat memunculkan risiko saat operasi plastik berlangsung. Donna memaparkan ketika tindakan bedah dilakukan, pasien perlu dibius secara lokal atau total. 

Bius itu bakal bermetabolisme dengan organ-organ yang ada di dalam tubuh. Pada orang yang sudah berusia lanjut, organ di dalam tubuh cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap bius ketimbang usia yang lebih muda.

"Jika tidak bisa bermetabolisme dengan baik, risikonya bisa syok saat operasi, bangun lebih lama atau kalau jantung tidak kuat bisa serangan jantung di meja operasi," ucap Donna.

Sementara itu, hasil pasca bedah plastik juga berbeda ketika melakukannya di usia muda dibanding usia tua. Saat usia muda penarikan cenderung lebih sedikit dibanding saat usia tua. Pasalnya, pada usia muda kulit lebih elastis ketimbang usia senja karena kulit mulai kendur.

"Pada usia tua ditarik 1 cm dan saat usia muda ditarik 1 cm hasilnya tentu akan berbeda," kata dokter ahli bedah plastik Danu Mahandaru kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/10). 

Selain itu, ketahanan kekencangan kulit pasca bedah plastik juga cenderung berbeda, walaupun tak ada patokan waktu. Hal ini dipengaruhi oleh faktor penuaan kulit seperti usia, olahraga, pola makan, merokok, dan alkohol. 


"Usia sangat mempengaruhi walaupun bukan satu-satunya faktor. Kontrol pascatindakan juga dilakukan," ucap Danu.

Walaupun risiko-risiko ini muncul, Donna dan Danu sepakat dokter bakal melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum melakukan tindak bedah plastik. Bedah plastik dengan tujuan estetika pada dasarnya tidak memiliki batas maksimal usia, tapi dilihat dari toleransi organ terhadap tindakan operasi. (ptj/chs)