10 Difabel Terlibat dalam Make up Teatrikal Asian Para Games

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 21:27 WIB
10 Difabel Terlibat dalam Make up Teatrikal Asian Para Games Para penampil di Asian Para Games 2018 (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upacara pembukaan Asian Para Games 2018 berhasil digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (6/10) malam.

Di malam itu, 'hajatan' tersebut diisi dengan berbagai pertunjukkan tarian dalam balutan busana tradisional dan juga modern. Hebatnya, para penampil ini juga terdiri dari pada penyandang disabilitas.

Berbeda dengan konsep pembukaan Asian Games, upacara pembukaan Asian Para Games ini memiliki konsep yang lebih teatrikal. Hal ini terlihat dalam jenis tarian, konsep busana, dan juga make-upnya.



"Asian Games kemarin tema make-upnya lebih ke kolosal, sedangkan Asian Para Games lebih bergaya teatrikal," kata Palupi Candra, Headof corporate communication & CSR Martha Tilaar Group yang menangani make-up pengisi acara di Asian Para Games kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (6/10).

Mengusung konsep yang lebih teatrikal, Palupi mengungkapkan bahwa make-up kali ini jauh lebih sulit.

"Make-up yang sekarang ini menutut keahlian yang lebih tinggi, karena semua bagian tubuh diwarnai dengan warna-warna yang belum ada sebelumnya di kami. Jadi kami harus blend warna untuk dapat warna yang diinginkan dan sesuai," katanya.

Tak cuma warna dan teknik yang lebih rumit dan detail, Palupi mengatakan bahwa saat ini waktu dan kecepatan bukan jadi masalah utama.

"Kalau pas Asian Games, satu make-up artist dituntut untuk bisa dandani dalam waktu 3-4 menit per orang, sekarang tidak," katanya.

"Selain karena sekarang ini penampilnya lebih sedikit dibanding Asian Games, konsep teatrikal juga membuat si make-up artist harus benar-benar konsentrasi dan fokus. Jadi ini bukan lagi hitungan waktu, semua tergantung spesialisasi si make-up artist itu sendiri."

"Lagipula, setiap make-up artist punya skill dan keahliannya masing-masing kalau dengan gaya teatrikal. Yang punya skill A belum tentu bisa mengerjakan yang B."


Palupi sendiri menambahkan, sebelum gelaran Asian Para Games dimulai, Martha Tilaar Group melakukan pelatihan khusus pada 250 orang make-up artist dan stylistnya yang akan bertugas.

Tim make-up artist dan stylist ini tak cuma melibatkan MuA Martha Tilaar Group, alumni, dan siswa Puspita Martha International Beauty School, tapi juga melibatkan 10 orang MuA dari komunitas Difabel Jakarta (Teman Tuli).

"Para MuA dari teman difabel ini tak kalah hebat dan profesional dari yang lainnya."

Pengalaman menyentuh

Pengalaman merias yang berbeda pun dialami oleh para make-up artist di Asian Para Games. Bagi para make-up artist ini, bukan cuma kebanggaan yang dirasakan karena bisa jadi bagian dalam perhelatan olahraga sebesar Asian Games dan Asian Para Games 2018 di Jakarta.

make-up Asian Para GamesFoto: Dok. Sariayu
make-up Asian Para Games

Asian Games dan Asian Para Games memang terasa spesial, namun pengalaman tak terlupakan dan menyentuh pun lebih banyak dialami di Asian Para Games.

"Dengan konsep acara ini, para make-up artist diharuskan tak cuma mendandani wajah saja, tapi juga banyak yang sampai harus didandani ke seluruh tubuhnya," kisahnya.

"Ada kalanya pada beberapa performer memiliki keterbatasan di anggota tubuhnya. Ada yang punya kekurangan di kakinya, di tangannya. Jadi ketika harus mendadani bagian itu, sempat ada beberapa make-up artist yang kaget dan terharu."

Palupi mengisahkan tangan beberapa make-up artist sempat bergetar dan sulit melanjutkan pekerjaannya karena terharu. Namun sang penampil meyakinkan make-up artistnya untuk melakukan pekerjaannya.

"'Enggak apa-apa mbak,' kata mereka ke make-up artistnya. Make-up artistnya pun makin terenyuh dan salut karena dengan keterbatasan mereka, mereka masih bisa berkarya dan berprestasi." (chs)