Kandasnya Mimpi 'Waria' Punya Implan Payudara

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 07/10/2018 10:39 WIB
Kandasnya Mimpi 'Waria' Punya Implan Payudara ilustrasi operasi plastik (Istockphoto/lyosha_nazarenko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bentuk tubuh dan wajah yang proporsional serta sempurna tak cuma jadi idaman wanita. Seiring perkembangan dan tuntutan zaman, kaum pria juga 'dituntut' punya penampilan yang sempurna.

Kondisi ini pula yang akhirnya membuat operasi plastik tak lagi cuma diminati kaum hawa, tapi juga kaum adam.

Mulai dari wanita, pria, remaja sampai orang tua, ketertarikan terhadap proses mempercantik diri dalam skala permanen nampak lazim saja tersirat di benak semua kalangan.



Alasannya pun bisa bermacam-macam, mulai dari ingin menambah rasa percaya diri hingga rasa tidak nyaman dan kebimbangan akan jati diri.

Ketika hati dan fisik tak lagi berkesinambungan, operasi plastik alih-alih dianggap menjadi solusi terpercaya.

Tengok saja berbagai kisah transgender yang rela mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta demi mengubah kodrat.

Sebut saja dr. X, seorang dokter bedah plastik di Surabaya, Jawa Timur. Suatu hari di tahun 2016, seorang pasien dengan perawakan feminin namun dengan wajah berkarakter tegas seperti pria memasuki ruang praktiknya.

Tak cuma itu, saat melirik daftar namanya di keterangan pasien, dia pun makin kebingungan dengan 'status' si pasien.

"Saya agak bingung, mau panggil mas atau mbak. Akhirnya saya tanyakan saja, maunya dipanggil apa," katanya ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (6/10).


Si pasien pun lantas menjawab dengan ramah.

"Ya mbak dong dok, masa sudah berpenampilan cantik begini dipanggil mas," katanya.

Pasien tak hanya datang sendirian, ia juga ditemani oleh temannya yang merupakan seorang 'perempuan tulen.'

Tak hanya sebagai penunjang mental saja, teman perempuannya yang ikut konsultasi ini juga dipakai sebagai model perubahan tubuh yang diinginkannya lewat operasi plastik.

"Saya kesini karena ingin punya payudara juga dok, seperti teman saya ini," ungkapnya.

Sejumlah pemeriksaan mendasar pun dilakukan kepada pasien maupun temannya yang berperan sebagai model yang diimpikan pasien.


"Baik, kalau memang mau seperti teman Anda, yang dibutuhkan adalah operasi untuk isi implan payudara sebesar beberapa cc saja," ucap si dokter.

Dokter pun juga menjelaskan prosedur operasi dan risiko komplikasi yang bisa terjadi kepada pasien.

Pada akhirnya, setelah penjelasan panjang, pasien setuju dilakukan operasi plastik dan pemasangan implan payudara untuk mencapai fisik yang diinginkan.

Usai penjelasan dan pernyataan persetujuan operasi plastik, pembicaraan pun mengarah pada besaran biaya yang dibutuhkan.

"Untuk biayanya berapa dok?"

Sang dokter menyebut angka Rp30 juta untuk pemasangan implan payudara yang diinginkan pasien. Tak dimungkri, pemasangan implan payudara memang memakan biaya yang cukup tinggi. Pasalnya implan yang dibutuhkan harus dipesan dari luar negeri dengan harga yang mengikuti kurs dollar.

"Wah, kok mahal banget dok?" kata si pasien, seraya terkejut dengan harga yang dipatok sang dokter.

"Saya pikir sekitar 15 juta saja dok. Boleh diturunin enggak dok harganya? Siapa tahu kalau buat saya boleh segitu."

Mendengar jeritan si pasien, dokter pun merasa tak tega. Dia pun menyanggupi untuk menurunkan harga pemasangan implan.

"Oh, boleh kok kalau memang mampunya segitu, saya juga enggak memaksa," kata dokter.

Seketika senyum penuh harap terpampang manis di wajah pasien.

"Iya mbak boleh, tapi, ada tapinya."

Senyum itupun berubah kandas menjadi ekspresi penuh curiga.

"Tapi operasinya harus dilakukan dua kali," ungkap dokter.

Melihat wajah bingung pasien dan temannya, sang dokter kembali melanjutkan.

"Iya, dipilih aja, mbak mau pasang yang kanan apa kiri dulu. Kan ditawarkan separuh harga, jadi nanti implannya disimpen dulu satu."

Gurauan sang dokter membawa kecewa pada raut wajah pasien.

"Wah kalau begitu, ditunda dulu deh punya payudara sebesar punyamu," kata si pasien kepada temannya.

"Harus nabung dulu. Nasib kurang biaya. (fey/chs)