HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

Perkara Selfie Berujung Narsis di Tempat Wisata

Tim , CNN Indonesia | Kamis, 11/10/2018 12:17 WIB
Perkara Selfie Berujung Narsis di Tempat Wisata Ilustrasi. (Foto: encrier/thinkstockphotos.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Swafoto atau selfie nampaknya sudah menjadi kegiatan wajib bagi sebagian orang saat berwisata. Sekilas aktivitas ini memang seru untuk dilakukan, selama tak mengganggu ketenangan wisatawan lain atau membahayakan diri.

Selfie dianggap hal yang wajar. Namun, bila kadarnya berlebihan sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, selfie bisa digolongkan dalam gangguan kejiwaan. Dalam ilmu psikologi, gangguan itu dikenal dengan narcissistic personality disorder atau gangguan narsisme.

Tragisnya tidak sedikit kasus selfie yang berujung kematian. Alasan awalnya karena ingin mengambil foto dengan teknik atau latar belakang yang tidak biasa.


Seorang travel blogger sekaligus surfer, Gemala Hanafiah, mengatakan selfie yang membahayakan diri sendiri karena oknum tersebut ingin lebih ekstrim atau lebih bagus.

"Tapi biasanya yang lebih berbahaya itu adalah tempat yang belum difasilitasi tempat untuk selfie," ujar Gemala saat dhubungi CNNIndonesia.com, melalui telepon, Rabu (10/10).

"Jadi kalau ada sebuah objek wisata yang punya tempat khusus untuk selfie, menurut saya bagus sih karena keamananya lebih terjamin dan gak merusak lokasi-lokasi lainnya."

Sementara itu Psikolog Ratih Ibrahim, mengatakan selfie adalah manifestasi dari bagaimana orang mengagumi dirinya. Tapi orang yang selfie belum tentu mengarah pada gangguan narsistik.

Menurutnya manifestasi untuk mengagumi dirinya memang ada, tapi itu gangguan atau bukan harus ditinjau lagi. Karena saat ini teknologi sangat membantu orang untuk mendokumentasikan tentang keberadaan dirinya.

"Kalau banyak turis selfie, ya gapapa juga. Dulu mungkin harus difotoin sama orang lain, tapi sekarang kan gak perlu lagi. Ini kan soal dokumentasi," ujar Ratih, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/10).

"Tapi menjadi gangguan kalau intensitasnya sudah cukup tinggi, gak selfie terus sakaw, dan menggangu orang lain apalagi membahayakan diri. Kalau udah sampai tahap itu berarti sudah masuk narsistik."

Menurutnya narsistik tidak menular, tapi kalau lingkungannya narsis pilihannya tinggal mau ikut atau tidak.

"Kalau perilakunya beda sendiri maka dia kan jadi anomali. Lingkungan ini kan soal eksistensi saja," ujarnya.

Sementara itu seorang dosen senior di University of Huddersfield, Brendan Canavan, 'memotret' fenomena narsisme dengan pariwisata dalam sebuah jurnal yang berjudul 'Narcissism normalisation: tourism influences and sustainability implications'.

Dalam tulisannya itu, ia menyebut jika pariwisata bisa jadi 'mengandung' elemen-elemen yang bersifat mengeksploitasi, monopoli, hingga eksibisionis. Bahkan pariwisata berpotensi sebagai wadah untuk narsis.

Namun di sisi yang lain, pariwisata juga merupakan sumber dari aktivitas yang intim, dan saling bersinergi.

Menurutnya semua hal ini tergantung dari pilihan sang wisatawan.

(agr/ard)