Tiupan Badai Menghempas Jumlah Turis di Jepang

REUTERS, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 21:11 WIB
Tiupan Badai Menghempas Jumlah Turis di Jepang Badai Trami yang menghantam Kyushu, Jepang, pada September 2018. (AFP PHOTO / Behrouz MEHRI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bencana alam badai yang menghantam Jepang pada bulan September 2018. membuat jumlah kunjungan turis mancanegara ke Negara Matahari Terbit ini mengalami penurunan.

Tercatat, penurunan jumlah kunjungan turis mancanegara tersebut merupakan yang pertama sejak terakhir kali terjadi pada enam tahun silam.

Badai hebat yang sampai membuat sejumlah bandara internasional di Jepang tutup itu turut membuyarkan rencana Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, untuk mendulang jumlah kunjungan turis mancanegara di Jepang pada tahun ini.


Pada awal tahun ini, Abe memang berniat untuk mengembangkan industri pariwisata negaranya demi memajukan perekonomian Jepang.

Sebanyak 2,16 juta turis mancanegara tercatat berkunjung ke Jepang selama bulan September 2018. Jumlah tersebut turun 5,3 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, seperti yang dikutip dari data milik Badan Pariwisata Jepang pada Kamis (18/10).

Badai yang menghantam kawasan barat Jepang pada awal September, memaksa penutupan Bandara Internasional Kansai di Osaka selama berhari-hari.

[Gambas:Instagram]

Badai itu diikuti oleh gempa di utara Hokkaido, yang menewaskan lebih dari 40 orang dan menutup sementara Bandara New Chitose, gerbang utama ke pulau itu.

Situasi tersebut tampaknya membuat sungkan turis mancanegara untuk berkunjung.

"Tren beberapa tahun silam menunjukkan bahwa turis Korea Selatan dan Hong Kong sangat peka terhadap keadaan bencana," kata seorang pejabat JNTO.

"Pembukaan kembali bandara tidak secara otomatis berarti mengundang mereka datang."

Pemerintah Jepang bertujuan untuk meningkatkan jumlah turis mancanegara menjadi 40 juta hingga tahun 2020, tepat saat Tokyo menjadi tuan rumah Olimpiade.

Jumlah tersebut naik dari 28,7 juta pada tahun 2017.

Serbuan turis mancanegara juga membuat harga lahan rata-rata di Jepang tercatat naik untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 27 tahun, tepatnya pada 1 Juli kemarin, karena larisnya pembangunan properti untuk hotel dan pertokoan.

(fey/ard)