Alasan Timbul Perasaan Galau di Dalam Pesawat

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 19:08 WIB
Alasan Timbul Perasaan Galau di Dalam Pesawat Ilustrasi. (stocksnap.io/Milada Vigerova)
Jakarta, CNN Indonesia -- Adegan menangis selagi menatap pemandangan awan di luar jendela kabin pesawat sering terlihat dalam film-film melankolis.

Tak disangka ternyata perasaan galau saat berada dalam penerbangan juga bisa terjadi di dunia nyata.

Dilansir dari CNN Travel pada Jumat (19/10), sebuah survei dari maskapai Virgin Atlantic pada tahun 2011 mengungkap bahwa sebanyak 55 persen responden mengaku dirinya lebih emosional saat berada dalam penerbangan.


Bahkan sebanyak 41 persen responden laki-laki mengaku pernah sembunyi di balik selimut untuk menitikkan air mata.

Penyakit Mental Dasar

Munculnya perasaan galau saat berada dalam penerbangan ternyata erat kaitannya dengan psikologis manusia.

"Tak peduli usia, jenis kelamin, kepercayaan, ras hingga latar belakang, hampir semua orang memiliki setidaknya satu penyakit mental dasar, mulai dari claustrophobia (takut dengan ruangan sempit), agoraphobia (takut tak bisa menyelamatkan diri) atau anxiety (rasa cemas berlebih)," ungkap Wakil Presiden Senior dan Direktur Medis Regional Internasional SOS & MedAire, Dr. Robert L. Quigley.

Walaupun banyak orang mengaku tak gampang tertekan, regulasi perjalanan udara yang rumit dan ketat bisa dengan mudah memicu munculnya gejala penyakit mental dasar pada jiwa seseorang.

Ketika perjalanan udara didukung dengan embel-embel yang tak menyenangkan, seperti harus berpisah dengan kekasih atau mengakhiri liburan, rasa cemas juga bisa dirasakan berkali lipat.

Terlebih lagi jika seseorang melakukan perjalanan seorang diri, di mana penumpang seakan merasa terkunci di ruang kecil bersama orang asing selama penerbangan.

Suasana Tak Nyaman

Terlepas dari dampak psikologis, perjalanan udara juga tak melulu nyaman lantaran ruang yang sempit.

Selain menimbulkan pegal-pegal pada tubuh, posisi kursi penumpang terlalu rapat juga bisa menimbulkan rasa cemas.

"Sekarang penerbangan udara semakin tidak nyaman. Kebutuhan dasar seperti makanan, minuman, selimut dan bantal tidak disediakan secara cuma-cuma. Barang pribadi yang boleh dibawa ke dalam kabin juga terbatas. Hal ini bisa memicu timbulnya rasa cemas," ungkap Dr. Jodi De Luca, psikolog asal Colorado.

Tekanan udara yang dirasakan ketika pesawat mencapai 5.000-8.000 kaki juga bisa memberi efek samping pada orang-orang tertentu.

"Ada banyak bukti nyata yang menunjukkan bahwa dalam penerbangan, penumpang dapat mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen," tambah Quigley.

Minuman Beralkohol

Banyak yang beranggapan bahwa tubuh akan rileks jika minum minuman beralkohol dalam penerbangan.

Tapi tak semua orang disarankan melakukannya, apalagi yang memiliki komplikasi kesehatan.

Karena tekanan udara pada penerbangan sering kali memicu dehidrasi pada penumpang dan minuman beralkohol dapat memperparah dehidrasi.

Di samping itu, efek samping alkohol juga dapat membuat penumpang semakin emosional.

Berdampingan dengan dampak hipoksia akibat tekanan udara dalam penerbangan, tak heran banyak penumpang yang jadi rawan menangis setelah terlalu banyak minum alkohol dalam penerbangan.

(fey/ard)