Eksotropia, Gangguan Mata 'Ajaib' Leonardo Da Vinci

CNN Indonesia | Senin, 29/10/2018 12:44 WIB
Eksotropia, Gangguan Mata 'Ajaib' Leonardo Da Vinci Ilustrasi lukisan
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam dunia seni lukis, Leonardo Da Vinci bak maestro yang tak tertandingi. Karya-karyanya selalu meninggalkan tanda tanya.

Tengok saja karya "Mona Lisa". Sorot matanya yang dalam dan teduh serta senyuman magis sosok wanita dalam lukisan mengundang banyak pertanyaan.

Faktanya, guratan tangan Leonardo Da Vinci kerap mengundang rasa penasaran sejumlah ilmuwan.


Teranyar, sejumlah ilmuwan menyebut bahwa lukisan-lukisan magis Da Vinci disebabkan oleh gangguan mata yang dimilikinya. Gangguan pada mata itu memberikan 'keajaiban' tersendiri untuk setiap gurat pelukis asal Italia itu.


Mengutip CNN, Da Vinci disebut memiliki eksotropia intermiten, sejenis ketidaksejajaran mata, di mana salah satu mata mengalami perubahan sudut. Hal itu diungkapkan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Ophthalmology.

Kondisi mata yang langka ini membuat Da Vinci melukis jarak dan kedalaman objek pada permukaan datar dengan akurat.

"Dari karyanya, saya melihat ada perbedaan yang mencolok dari mata di semua lukisannya," ujar penulis studi, Christopher Tyler, seorang profesor di City University of London dan Smith-Kettlewell Eye Research Institute di San Fransisco, AS.

Para peneliti menganalisis arah pandangan dalam enam potret diri Da Vinci: dua patung, dua lukisan minyak, dan dua gambar. Dari sana, peneliti menemukan bahwa beberapa potret diri menunjukkan tanda-tanda eksotropia, dengan mata yang seolah memandang ke luar.

Meski tidak semuanya merupakan potret dirinya, namun Da Vinci pernah menyebutkan dalam sebuah tulisan bahwa potret karya seorang pelukis mencerminkan penampilan pelukis itu sendiri. Salah satu lukisannya yang diteliti dalam studi ini adalah "Salvator Mundi".

Tyler mengamati kondisi mata dengan menggambar lingkaran pupil, iris, dan kelopak mata yang muncul dalam setiap lukisan atau potret diri, serta mengukur posisinya. Ketika dia mengkonversi pengukuran menjadi sebuah sudut, hasilnya menunjukkan bahwa Da Vinci memiliki kecenderungan eksotropia.


Dalam kondisi eksotropia, salah satu mata akan berputar -10,3 derajat ke luar saat berada dalam keadaan rileks. Tyler percaya bahwa mata kiri Da Vinci dipengaruhi oleh kondisi tersebut.

Eksotopria yang dialami Da Vinci memungkinkannya untuk melihat dunia dari sudut yang berbeda. "Yang dilihatnya lebih mirip kanvas datar daripada tiga dimensi," ujar Tyler. Hal ini, lanjutnya, membuatnya lebih mudah untuk menerjemahkan sesuatu pada kanvas.

Kondisi ini lah, yang disebut Tyler, membuat Da Vinci selalu berhasil membuat mahakarya yang terasa 'teduh' melalui sorot mata sosok dalam lukisan yang selalu terasa dalam.

Sebelumnya, teknik penelitian serupa juga pernah dilakukan untuk membuktikan kondisi pelukis besar lainnya seperti Rembrandt, Edgar Degas, dan Pablo Picasso yang sama-sama memiliki ketidaksejajaran mata.

Asisten profesor ophthamology di University of California, AS, Julius Oatts, mengaku tertarik dengan penelitian tersebut.

"Ada banyak ketidakpastian apakah lukisan-lukisan yang dibuat Da Vinci benar-benar menggambarkan dirinya atau tidak," ujar Oatts. Dia melanjutkan bahwa gambaran mata dalam lukisan Da Vinci selalu nampak tidak realistis.


Apa itu eksotropia?

Eksotropia merupakan kondisi di mana salah satu atau kedua mata berpaling keluar. Ini adalah kebalikan dari mata yang bersilangan.

Disebutkan bahwa orang dengan kondisi eksotropia memiliki penglihatan monokular, bukan binokular. Artinya, kedua mata digunakan secara terpisah sehingga meningkatkan sudut pandang dan persepsi kedalaman objek.

Kelainan eksotropia mata terjadi pada sekitar 1 persen populasi di dunia.

Mengutip Healthline, meski bisa terjadi pada setiap orang tanpa mengenal usia, namun kondisi eksotropia biasa terdeteksi sejak dini.

Beberapa gejala terkait pada kondisi ini. Gejala itu di antaranya adalah ketidakmampuan mata untuk fokus. Ketika kedua mata bekerja sama, yang muncul adalah berbagai masalah penglihatan.

Kondisi-kondisi tersebut bisa membawa penderitanya kepada beberapa masalah kesehatan seperti pusing, ketegangan mata, dan pandangan yang buram. Selain itu, pemilik kondisi eksotropia juga umumnya akan bermasalah dengan aktivitas membaca dan menangkap objek tiga dimensi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Ophthalmology menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen anak dengan eksotropia menderita rabun jauh saat mereka menginjak usia 20an. (asr/chs)