Catatan Perjalanan

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali Barat

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 16:33 WIB
Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali Barat Pemandangan komplek Plataran Menjangan Resort yang berada di Taman Nasional Bali Barat. (Dok. Plataran Indonesia)
Menjangan, CNN Indonesia -- Selama ini Bali hanya diidentikkan dengan pariwisata yang berpangkal pada aktivitas hura-hura. Hal ini sangat bisa dipahami, mengingat tidak banyak orang yang datang ke Bali lewat jalur darat.

Kebanyakan para wisatawan yang datang ke Bali 'masuk' melalui Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, setelah itu mereka sibuk dengan rencananya masing-masing dan biasanya hanya berkutat di kawasan Bali Selatan.

Jika ada yang ingin kabur dari hiruk pikuk kawasan padat wisatawan, biasanya Bali Utara atau Bali Timur dipilih menjadi alternatif mengingat durasi tempuhnya tidak terlampau lama, dan fasilitasnya tidak jauh berbeda.


Namun tidak banyak yang memilih kawasan Bali Barat sebagai tujuan untuk berlibur. Untuk menuju kawasan Bali Barat diperlukan waktu sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Satu-satunya jalan pintas untuk menuju kawasan Bali Barat adalah melalui jalur darat dari Banyuwangi. Siang itu, rute tersebut yang saya pilih untuk memasuki kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Sekitar pukul 14.00 WIB saya mendarat di Bandar Udara Blimbingsari, Banyuwangi. Sebenarnya hanya perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai kawasan TNBB, itu pun sudah termasuk penyeberangan dengan kapal feri dari Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali yang durasi sekitar 30 menit.

Begitu tiba di Gilimanuk, hanya perlu waktu lima menit dengan menggunakan kendaraan bermotor untuk menemukan gerbang masuk kawasan TNBB.

Namun karena rekan seperjalanan saya waktu itu terlampau lapar, akhirnya kami memutuskan mencari makan siang di Banyuwangi. Menunya apalagi kalau bukan Nasi Tempong dan Rujak Soto khas Banyuwangi.

Kami pun tiba di Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 17.30 WIB, pendaran cahaya mentari yang akan tenggelam menemani penyeberangan kami ke Pulau Dewata.

Saat itu bukan musim liburan, jadi kapal pun terasa lengang. Hanya ada sekitar 25 orang yang berada di ruang tunggu penumpang. Saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengelilingi kapal feri yang sudah usang, sembari mengamati cahaya mentari menghilang dengan perlahan.

Gelombang di Selat Bali pertengahan bulan Oktober tidak membuat kapal limbung. Perjalanan ini terasa syahdu dan senyap, Bali pun terlihat lebih gelap ketimbang Banyuwangi yang kini makin gemerlap.

Banyuwangi yang saya lihat saat itu sangat berbeda dengan apa yang saya lihat 22 tahun silam, saat pertama kali menapakkan kaki di Bumi Blambangan.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratSuasana pelayaran di Pelabuhan Gilimanuk. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

Saya dan rombongan datang ke TNBB atas undangan dari Plataran L'Harmonie atau Plataran Menjangan Resort & Spa, yang menyelenggarakan ajang trail run atau lari lintas alam untuk kedua kalinya.

Plataran Menjangan Resort & Spa adalah sebuah resort atau sanggraloka di kawasan TNBB yang sudah mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Namun dari 320 hektare area konsesi yang diizinkan, hanya 10 persen yang dapat dibangun sarana dan prasarana, sisanya harus mengusung konsep wisata alam.

Kami memasuki kawasan Plataran Menjangan Resort & Spa sekitar pukul 19.30 WITA, tidak ada yang bisa dilihat selama perjalanan masuk dari jalan utaman menuju kawasan sanggraloka. Hanya pohon-pohon yang tidak berdaun, maklum saja saat itu Indonesia sedang musim kemarau. Pohon-pohon pun seakan enggan untuk meneduhkan.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratFoto udara komplek Plataran Menjangan Resort & Spa di Taman Nasional Bali Barat. (Dok. Plataran Indonesia)

Perlu waktu sekitar 15 menit perjalanan untuk menuju kawasan sanggaraloka, jalanan berbatu adalah menu utama di kawasan ini.

Satu hal yang ada dalam benak saya selama 15 menit perjalanan di malam itu adalah, tempat ini nyaris sama dengan Burkittsville di dalam film horor berjudul The Blair Witch Project.

Namun benak saya itu diruntuhkan ketika kendaraan kami sampai di Bajul Lodge, tempat kami menginap. 

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratKamar "sederhana" penginapan Bajul Lodge di Plataran Menjangan Resort & Spa. (Dok. Plataran Indonesia)

Bajul Lodge adalah sebuah penginapan sederhana yang ditujukan untuk backpacker. Meskipun berwujud pondok kayu, namun fasilitasnya jauh sangat memadai. 

Untuk bisa menginap di sini, turis bisa membayar harga mulai dari Rp500 ribu per malam. Wifi, pendingin ruangan, dan pemanas air adalah kemewahan yang jadi fasilitasnya. Tentu saja ada kopi dan teh yang bisa dikonsumsi sepuasnya.

Bagi yang ingin lebih mewah bisa menginap di Plataran Menjangan Resort & Spa dengan bangunan yang berbentuk vila. Ada harga ada rupa, tarif menginap di sana mulai dari Rp3,5 juta per malam.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratArea vila yang berada dekat hutan bakau tepi pantai. (Dok. Plataran Indonesia)

Bertemu 'Penghuni' TNBB

Tidak berselang lama setelah meletakkan barang bawaan, kami pun diantar dengan mobil menuju Restoran Wantilan untuk makan malam.

Wantilan merupakan lobi utama dari Plataran Menjangan, di dalamnya terdapat sebuah restoran berkonsep outdoor. Biasanya restoran di Wantilan digunakan untuk sarapan, karena para tamu bisa melihat pantai sembari berjemur sinar mentari pagi.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratRestoran dan kolam renang yang berada di tepi pantai. Dok. Plataran Indonesia

Usai santap malam, kami pun diantar kembali ke Bajul Lodge untuk beristirahat. Tidak ada yang bisa dinikmati di tempat ini saat malam hari, karena hanya didominasi oleh senyap dan gelap. Pantai di depan penginapan pun jauh dari riuh suara ombak.

Namun malam itu, saya cukup asyik mengamati ribuan bintang yang menghiasi langit. Pemandangan mewah seperti ini nyaris tidak pernah saya temukan di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Apalagi penyebabnya kalau bukan polusi cahaya.

Keesokan paginya, sekitar pukul 04.30 WITA lomba lari lintas alam dimulai. Lomba ini terbagi ke dalam tiga kelas 70K, 30K, dan 7K. Kelas 30K dimulai sekitar pukul 06.30 WITA, sedangkan kelas 7K dimulai sekitar pukul 09.00 WITA.


Usai melepas peserta lomba di kawasan The Octagon, sebuah restoran dengan arsitektur modern berbalut etnis dengan bonus pemandangan Pantai Ulangun, kami pun kembali diarahkan ke Wantilan untuk sarapan.

Jarak dari The Octagon ke Wantilan tidak terlampau jauh, hanya sekitar 500 meter. Berjalan kaki menjadi pilihan saya ketimbang menunggu kendaraan yang menjemput kami.

Sepanjang jalan menuju Wantilan, saya berpapasan dengan beberapa menjangan atau bisa juga disebut kijang. Mereka terlihat tidak peduli dengan rombongan yang beranjak menuju Wantilan, para betina dan anak-anak itu hanya sesekali memerhatikan kemudian kembali bersantai di halaman depan resort.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratKawanan menjangan masih bisa ditemui di sekitar komplek Plataran Menjangan Resort & Spa. (Dok. Plataran Indonesia)

Saya yang merasa kegirangan dengan pemandangan itu, akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan dan masuk ke kawasan hutan di antara The Octagon dan Wantilan.

Saat diberkahi oleh sinar mentari, barulah terlihat kegersangan hutan itu di musim kemarau. Tidak ada hewan apapun yang saya temui selain menjangan betina, bahkan pejantan yang tanduknya memesona pun seakan lenyap.

"Barangkali mereka hanya ingin mencari tempat yang lebih teduh," ujar saya dalam hati.

Merasa tidak puas, akhirnya saya memutuskan untuk menuju jalan utama dan menuju lokasi sarapan. Namun di tengah jalan saya melihat sangkar besar yang berisi satwa berwarna putih.

Akhirnya saya pun menghampiri sangkar tersebut dan menemukan beberapa ekor Burung Jalak Bali di dalamnya. Jalak Bali adalah ikon TNBB sekaligus satwa endemik Pulau Dewata. Merasa bertemu dengan raja saya dibuat kagum akan kharisma burung ini.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratBurung Jalak Bali yang ditangkarkan. (Dok. Plataran Indonesia)

Sayangnya saya tidak melihat burung indah ini di alam liar. Namun saya teringat obrolan saya dengan CEO Plataran Indonesia, Yozua Makes, terkait Burung Jalak Bali atau Bali Starling.

Menurutnya Burung Jalak Bali punya kawasan tersendiri jika ingin melihatnya di alam liar. Sedangkan Plataran hanya menangkarkan kemudian dilepasliarkan.

Tak hanya Jalak Bali, untuk mengisi waktu senggang kali itu saya juga berkesempatan untuk mencoba menanam terumbu karang melalui proses transplantasi di kawasan hutan bakau.

Jelajah Kawasan Taman Nasional Bali BaratPemandangan senja di tepi area Plataran Menjangan Resort & Spa. (Dok. Plataran Indonesia)

Menurut salah seorang penjaga hutan TNBB, diperlukan waktu minimal dua tahun untuk membuat bibit karang yang ditanam di atas substrat menjadi cukup kuat dan bisa berkembang biak dengan baik.

Sebenarnya banyak hal yang bisa dieksplorasi terkait wisata alam di kawasan TNBB, namun terkait konsep pariwisata berkelanjutan nampaknya perlu dibahas lebih lanjut dan disikapi dengan serius.

Pasalnya kepala balai TNBB, Agus Ngurah Krisna, mengatakan salah satu kendala terbesar yang dihadapi TNBB adalah sampah anorganik. Masyarakat setempat, ia menambahkan, masih ada yang membuang sampah sembarangan ke dalam kawasan TNBB.

Namun Agus mengaku pihak TNBB memiliki target pada akhir tahun 2018 sistem pengelolaan sampah sudah bisa dilaksanakan. Sehingga hasil daur ulang sampah bisa memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat setempat.

(ard/ard)