Komunitas Unik

Mendalami Tari Tradisional bersama Belantara Budaya

CNN Indonesia | Minggu, 04/11/2018 17:09 WIB
Kelas tari yang diselenggarakan Belantara Budaya digelar setiap hari Sabtu pukul sepuluh pagi. Komunitas Belantara Budaya di tengah acara Fashion Show. (Foto: Dok. Komunitas Belantara Budaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bermodalkan cinta kebudayaan Indonesia, minat tari tradisional dan latar belakang gelar S2 Arkeologi, Diah Kusumawardani Wijayanti membangun Yayasan Belantara Budaya Indonesia.

Perempuan yang akrab disapa Diah ini sudah gemar melenggangkan tari tradisional sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

"Dari kecil aku memang dididik nasionalis oleh ayah sekaligus melihat lingkungan sekitar yang tampak mulai melupakan budaya tradisional, akhirnya aku memberanikan diri membangun Belantara Budaya," ungkap Diah kepada CNNIndonesia.com ketika dihubungi melalui sambungan telepon pada Jumat (2/11).


Yayasan Belantara Budaya Indonesia merupakan sebuah yayasan yang dibangun sebagai upaya pelestarian sejarah, budaya dan pendidikan Indonesia.

Melalui yayasan ini, Diah membangun sepuluh sekolah tari tradisional gratis yang bertempat di berbagai lokasi, khususnya di museum-museum bersejarah di Indonesia.

Sekolah tari dilaksanakan di beberapa lokasi di Jakarta, meliputi Museum Kebangkitan Nasional, Museum Nasional, Prajawangsa City dan FX Sudirman.

Sedangkan di luar Jakarta, sekolah tari dapat ditemukan di Depok, Bogor, Cirebon, Bandung hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk ikut serta dalam kelas tari bersama Belantara Budaya, peserta bisa langsung mengunjungi lokasi kelas tari tanpa biaya sepeser pun.

Kelas tari di museum-museum Jakarta umumnya dilakukan setiap hari Sabtu pukul sepuluh pagi. Untuk lokasi FX Sudirman, kelas biasa dimulai pukul tiga sore di hari yang sama.

Sedangkan di daerah luar Jakarta, kelas dilaksanakan setiap hari Minggu.

Terlepas dari kegigihan dan rasa cinta akan budaya nusantara, Diah mengaku sempat ragu ketika memulai kelas tari pertamanya.

"Saya pikir nggak akan ada yang mau datang. Tapi ternyata, baru awal-awal saja yang datang sudah 100 murid," tuturnya.

Kini jumlah murid yang mendalami seni tari bersama Belantara Budaya sudah mencapai 1.700 orang.

Murid-murid yang mengikuti kegiatan tari di museum umumnya didominasi oleh anak-anak berusia mulai dari tiga tahun.

Namun kelas tari yang diadakan di FX Sudirman difokuskan untuk murid-murid remaja hingga dewasa.

Mendalami Tari Tradisional Gratis Bersama Belantara Budaya
Murid Belantara Budaya meramaikan Car Free Day Jakarta. (Foto: Dok. Komunitas Belantara Budaya)

"Aku buka kelas di pusat perbelanjaan memang untuk menarik kaum millenial dan orang dewasa. Dan ternyata banyak juga yang tertarik. Murid-murid di sana beragam umurnya, ada yang sudah 40 bahkan 50, mulai dari karyawan hingga direktur," ujar Diah.

Murid-murid didik Diah tak hanya berkesempatan mendalami tari tradisional daerahnya saja, namun juga berkesempatan memperoleh untung dari ketekunannya.

"Selain belajar tari, mereka juga bisa tampil dan dapat bayaran. Murid-murid yang sudah pintar menari juga banyak yang akhirnya jadi pengajar tari," tuturnya.

Belantara Budaya juga sudah memiliki pengalaman mejeng di kancah internasional.

Pada pertengahan tahun ini, Belantara Budaya mendapat kesempatan tampil di pekan mode bergengsi di dunia, yakni New York Fashion Week.

Berkaca pada pertumbuhan pesat dari yayasan yang ia bangun, Diah berharap ke depannya Belantara Budaya bisa terus menopang minat anak bangsa akan budaya nusantara.

"Aku ingin sekali punya sekolah tari gratis di semua museum di Indonesia. Aku ingin rasa cinta pada budaya sendiri menyebar ke seluruh masyarakat Indonesia," ujar Diah.

(fey/ard)