Mengunjungi Rumah Hantu Bikin Hidup Bahagia

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 17:09 WIB
Mengunjungi Rumah Hantu Bikin Hidup Bahagia Ilustrasi rumah hantu. (Foto: AFP PHOTO / Roslan RAHMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama ini orang beranggapan jika bahagia datang dari situasi yang cerah dan riang, namun ternyata berkunjung ke rumah hantu juga bisa membuat perasaan bahagia.

Pernyataan tersebut didukung oleh sebuah studi yang belum lama ini dipublikasikan dalam Jurnal Emotion.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa setelah mengalami pengalaman yang menakutkan, orang-orang justru memiliki suasana hati yang lebih baik dan penurunan aktivitas otak secara keseluruhan.


Penelitian ini dilakukan di rumah hantu Scare House yang memiliki reputasi sebagai rumah hantu paling 'ekstrem' di Pittsburgh, Amerika Serikat.


Secara keseluruhan, penelitian ini melibatkan 262 responden yang mengisi survei tentang suasana hati sebelum dan sesudah mengunjungi rumah hantu. Secara acak, 100 orang di antaranya diberi sensor di kepala untuk memantau aktivitas otak sebelum dan sesudah melewati rumah hantu.

Melalui serangkaian penelitian, ditemukan sekitar setengah dari seluruh responden berada dalam suasana hati riang.

Sedangkan sebanyak 33 persen mengatakan tidak mengalami perubahan perasaan yang signifikan.

Sedangkan sisanya, yakni 17 persen responden, mengaku berada dalam suasana hati murung setelah melewati rumah hantu.


"Mekanismenya hampir mirip dengan kegiatan olahraga lari secara fisiologis dan neurologis. Ketika berlari, Anda mendorong diri dan sister saraf simpatik untuk bekerja," ujar seorang Sosiolog di University of Pittsburgh, Marge Kerr, seperti yang dikutip dari Travel and Leisure.

Kerr mengatakan kondisi tersebut melahirkan hormon endorfin yang berperan dalam menciptakan perasaan senang.

Selain itu, studi ini juga menemukan fakta bahwa setelah melewati kegiatan menakutkan, aktivitas saraf pada otak justru menurun.

Hal tersebut menunjukkan bahwa rasa takut dapat memperlambat cara berpikir seseorang.

Kendati demikian, hal tersebut tak berarti buruk. Menurunnya aktivitas otak dapat membantu seseorang memproses informasi dengan lebih efisien.

(fey/agr)