SURAT DARI RANTAU

Menanti Croissant Menjadi Bubur Ayam

Icha Ayu, CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 12:42 WIB
Menanti Croissant Menjadi Bubur Ayam Ilustrasi bubur ayam. (Istockphoto/MielPhotos2008)
Paris, CNN Indonesia -- "Duh anak mama kasihan nggak ada nasi di sana ya?"

Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh ibu ketika saya baru pindah ke Prancis.

Saat itu ibu belum tahu bahwa di kota besar seperti Paris ada banyak toko Asia yang menyediakan beragam keperluan dapur untuk membuat masakan Indonesia, termasuk beras.


Nada prihatin ibu juga ditambah dengan kenyataan bahwa saya bukanlah anak yang rajin membantunya di dapur sewaktu masih di Indonesia.

Hidup di luar negeri jauh dari keluarga tentu saja menjadi hal yang tidak mudah, terutama bagi saya yang masih memiliki "lidah kampung".

Magré de canard, foie gras, huitres, dan banyak makanan khas Prancis lainnya tidak bisa memuaskan selera saya.

Akhirnya nekat memasak terpaksa dilakukan. Memang benar kata orang tua dulu; bisa karena terbiasa.

Perlahan tapi pasti saya membuat ibu kaget dengan keahlian memasak yang meningkat drastis walau masih sebatas untuk diri sendiri dan suami.

Nasi goreng sudah biasa saya buat, tapi terkadang perut minta dipuaskan dengan makanan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi seperti empek-empek, batagor, bakso, dan mie ayam.

Mengingat kembali menu-menu tersebut membuat saya sedikit iri dengan penduduk Indonesia yang masih bisa mendapatkannya dengan mudah mulai dari kaki lima sampai restoran.

Kini di sekeliling saya yang ada hanyalah boulangerie atau toko roti yang menjual baguette, croissant, pain au chocolat dan beragam roti dan kue khas Prancis, yang di Indonesia biasanya ditemukan di mal-mal mewah.

Setiap pagi pengelola boulangerie sudah mulai beraktivitas sejak pukul 3 pagi untuk menyiapkan roti-roti hangat bagi para pelanggannya, tak jauh berbeda dengan penjaja sarapan di Indonesia.

Walau roti dan kue yang disajikan di boulangerie terasa lezat, tapi nikmatnya sarapan bubur ayam khas Indonesia tak akan tergantikan.

Saya memang penggemar bubur ayam kelas berat. Jika dulu saya bisa memberhentikan gerobaknya di depan rumah, kini saya harus membuat sendiri menu tersebut.

Ternyata membuat bubur ayam tidak semudah yang saya kira.

Ada banyak tahapan yang harus dilalui sebelum bisa menikmati makanan hangat dan gurih itu, mulai dari menyiapkan ayam, kaldu sampai menunggu nasi menjadi bubur.

Sekarang setiap kali saya membuat bubur ayam, saya jadi teringat kembali jerih payah tukang bubur yang mungkin sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak pagi buta, demi mengenyangkan perut anak sekolah sampai karyawan kantoran.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(ard)