Sebastian Tay, Pemilik Lebih dari 1.000 Sneakers 'Lawas'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 10/11/2018 15:02 WIB
Sebastian Tay, Pemilik Lebih dari 1.000 Sneakers 'Lawas' Sebastian Tay. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada kesenangan tersendiri saat memiliki sesuatu yang langka dan sulit didapat. Ini pula yang dirasakan Sebastian Tay, kolektor vintage sneakers alias sneakers lawas asal Singapura.

Ditemui di sela pameran Urban Sneakers Society (USS) di Pasific Place Mall, SCBD, Jakarta Selatan, lapak miliknya tampak tak pernah sepi pengunjung. Ia tak berjualan. Namun, jajaran sneakers lawas miliknya yang dipamerkan begitu mencuri perhatian.

Meski bukan penggemar sneakers, orang pasti tak asing dengan sepatu basket Air Jordan. Sneakers ini memang pioner budaya sneakers di dunia. Sneakers ini pula yang jadi koleksi pertamanya.


"Awalnya karena basket, saya suka nonton basket (khususnya tim) Chicago Bulls , terpengaruh dari situ. nonton pertandingannya, dan melihat sepatu yang mereka kenakan," kata Sebastian pada CNNIndonesia.com pada Jumat (9/11).


Pria yang juga berprofesi sebagai kurator retail resmi sneakers Limited Edt ini pun memutuskan untuk mengoleksi sneakers mulai 1995. Ia sendiri tak bisa memastikan berapa pasang sepatu yang telah ia kumpulkan. Empat tahun lalu terhitung lebih dari seribu pasang.

Ia tak mengumpulkan sepatu rilisan terbaru atau yang sedang hit. Hanya sneakers lawas yang ia miliki. Menurutnya, sneakers lawas selalu punya kisah selain karena jumlahnya sudah terbatas.

Karena yang diburunya merupakan sepatu lawas, ia harus rela berburu hingga ke Jepang atau membeli dari sesama kolektor di Singapura. Sebastian bercerita ia pernah kesulitan memperoleh sneakers Adidas A Yeezy 2.

Produksi terbatas dan produsen tak pernah memberitahu berapa pasang sepatu yang mereka produksi. Perpaduan keduanya membuat marak beredar sneakers palsu untuk jenis ini.

Ia pun harus teliti. Hal utama yang menurut dia, perlu diperhatikan saat membeli sneakers adalah kondisinya. Lebih dari separuh koleksi yang ia beli dalam kondisi baru.

Sebastian mengaku musti mencermati print logo hingga nomor seri yang tercetak pada bagian dalam sepatu. Ini jadi poin utama dalam menentukan harga.

"Kalau ada kondisi tak baik dari sisi material, itu bisa diganti. Tetapi yang lain (logo, nomor seri) itu sangat penting," imbuhnya. 


Di sisi lain, ia juga pernah merogoh kocek cukup dalam untuk sepasang sneakers Nike MAG 'Back to The Future'. Sneakers futuristik ini ia peroleh pada 2012 silam dengan harga US$24 ribu atau sekitar Rp240 juta (asumsi kurs 2012 Rp10 ribu per dolar AS).

"Favorit saya Nike yang lini skateboarding-nya. Dia terlihat seperti sneakers pada umumnya tapi memiliki semacam sol tambahan di dalamnya, jadi nyaman saat dikenakan," katanya.

Meski seorang kolektor, ia kadang menjual koleksinya pada kawan karibnya atau sesama kolektor. Uang yang ia peroleh pun bisa untuk modal mendapatkan sepatu lain. Baginya hobi ini tak akan pernah ada pensiunnya.

"Koleksi sneakers itu menyenangkan. Saya pun mengenakan sneakers setiap hari karena nyaman," ucapnya. (agi)