Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia

CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 12:33 WIB
Diabetes Hantui Kaum Pekerja Indonesia Ilustrasi pegawai kantor. (REUTERS/Jason Lee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diabetes tipe dua mulai menghantui para pekerja di Indonesia. Penyakit kronis ini bahkan sudah menyerang usia produktif atau kaum pekerja, yang ditandai dengan semakin mudanya umur pengidap.

Menurut ahli yang kerap menangani diabetes menyatakan banyak mendapati kaum pekerja usia produktif yang mengidap diabetes. Penyakit ini ditandai dengan tingginya gula darah atau di atas 125 mg/dL. Jika sudah terkena diabetes, penyakit ini tak bisa disembuhkan dan dapat menimpulkan komplikasi di bagian tubuh lain.

"Usia penderita diabetes tipe dua sudah semakin muda. Sebelumnya terjadi pada orang dewasa. Namun, beberapa tahun terakhir makin banyak ditemukan pada usia dewasa muda atau 30 tahunan," kata Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam RSCM-FKUI Dante Saksono dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia yang digelar Tropicana Slim di Jakarta, Minggu (11/11).


Temuan yang sama juga disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi. Menurutnya, faktor gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat di kalangan para pekerja membuat penyakit diabetes semakin cepat berkembang.


"Risiko yang besar memang di atas usia 40 tahun. Tapi faktanya di klinik atau rumah sakit sudah kami temui di bawah usia tersebut," ucap Suharko.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada Riskesdas 2013. Di Jakarta, yang mayoritas merupakan kaum pekerja, prevalensi diabetes mencapai 12,8 persen. Artinya, satu dari delapan orang di Jakarta merupakan penderita diabetes.

Dante menjelaskan rutinitas pekerja yang bekerja dari pagi hingga malam membuat mereka cenderung melupakan hidup sehat seperti berolahraga dan juga makan-makanan dengan gizi yang berimbang. Kurang berolahraga dan kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan diabetes.

"Yang paling susah di Jakarta itu olahraga karena jalanan macet, pergi harus pagi dan pulang malam. Tapi, ini harus segera diantisipasi," ucap Dante.


Dante menyarankan agar kaum pekerja lebih banyak melakukan aktivitas fisik dan berolahraga agar dapat mengurangi risiko diabetes. Aktivitas fisik itu, kata Dante, dapat dimulai dengan sederhana seperti memperbanyak jalan kaki dan naik turun tangga. Risiko diabetes juga bisa diturunkan dengan menerapkan pola makan yang sehat dan berimbang.

"Dimulai dengan memilih makanan yang sehat dan mempertahankan berat badan. Makanya, jangan malas untuk aktivitas," ujar Dante.

Selain gaya hidup tidak sehat, risiko diabetes juga meningkat pada orang yang memiliki garis keturunan diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan merokok.

"Itu semua faktor risko, sehingga mereka yang punya faktor risiko yang banyak lebih besar kemungkinannya terkena diabetes," ujar Suharko.


Dokter di RSCM ini menyarankan untuk menghindari atau mengurangi faktor risiko tersebut agar terhindar dari diabetes. Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. (ptj/ayp)