Cerita Bocah 12 Tahun yang Hidup Bersama Diabetes

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 08:16 WIB
Cerita Bocah 12 Tahun yang Hidup Bersama Diabetes Fulki Baharudin Prihandoko didampingi kedua orang tuanya saat ditemui di gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan (31/10). (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diabetes pada anak? Membayangkan orang dewasa harus cek gula darah setiap hari sampai suntik insulin saja sulit, apalagi pada anak-anak. Namun, bagi Fulki Baharudin Prihandoko, ini jadi rutinitas.

Setiap hari, Fulki harus mengecek kadar gula darahnya. Dan, setiap hari pula dia kudu mendapat suntikan insulin. Itu dilakukan karena diabetes melitus tipe-1 yang diderita bocah 12 tahun ini.

Dari wajahnya, Fulki tak terlihat baik-baik saja. Begitu pula perawakannya, tak tampak bahwa dia mengidap diabetes.


Didampingi kedua orang tuanya, Fulki bercerita tentang pengalamannya 'hidup' bersama diabetes selama bertahun-tahun. Diagnosis diabetes tipe-1 didapatkan Fulki saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SD.


"Ketahuan itu waktu umur 9 tahun. Rasanya biasa saja tapi, malam suka mengompol, lemas, berat badan turun," kata Fulki saat ditemui di sela temu media di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (31/10).

Gejala-gejala aneh itu membuat sang ibu, Aisyah Rahma, curiga. Dia membawa Fulki ke dokter dengan keluhan ngompol. Namun, dokter hanya meresepkan obat untuk menghentikan kebiasaan mengompol. Sepekan obat dikonsumsi, gejala ngompol tak kunjung berhenti.

Kecurigaan Aisyah bertambah saat dia mendapati lantai kamar mandi yang terasa lengket dan dihinggapi semut. Tak tunggu waktu lama, dia membawa Fulki ke rumah sakit. Aisyah dan sang suami, K Prihandoko, meminta dokter untuk melakukan pengecekan.

"Atas permintaan kami, Fulki dicek gula darahnya. Ternyata, gula darahnya 750 mg/dl. Dia langsung dirawat inap," tutur Prihandoko dalam kesempatan yang sama.

Fulki dirawat di rumah sakit selama sepekan. Dia harus mendapatkan injeksi insulin dan melakukan pengecekan gula darah setiap satu jam sekali.


"Sebelum pulang, saya diajari menyuntik insulin, cek gula darah. Awalnya enggak berani, tapi harus mencoba. Karena kalau di rumah, ya, saya yang akan menyuntikkan," kata Aisyah.

Sekolah berbekal alat cek gula darah dan insulin

Diabetes tipe-1 membuat Fulki harus mendapatkan suntikan insulin setiap hari. Suntikan insulin itu diberikan setiap kali sebelum makan. Alhasil, mau tak mau, Fulki kudu membawa serta alat cek gula darah dan insulin setiap hari, termasuk ke sekolah.

"Jadi tiap sebelum sarapan, makan siang, dan makan malam, suntik insulin. Lima menit setelah suntik, baru makan," jelas Aisyah.

Selain suntikan insulin secara rutin, seorang pengidap diabetes harus pintar mengatur jumlah asupan makanan. Aisyah pun mesti mengatur menu makanan yang sesuai dengan kebutuhan Fulki. Pemilihan jenis dan jumlah menu disesuaikan dengan dosis injeksi insulin.

Berbekal konsultasi dengan dokter dan ahli gizi, Aisyah mampu meracik menu sarapan, makan siang dan makan malam tanpa mengganggu kadar gula darah Fulki.

"Misal kebutuhan kalori anak seusia Fulki 2.100 kalori. Ini dibagi ke dalam enam kali makan (seperti) sarapan, snack, makan siang, snack sore lalu makan malam. Sarapan Fulki itu perlu 36 kalori, itu riilnya apa? Misal telur satu, susu segelas, dan roti dua lembar itu cukup," jelas Aisyah.

Alat cek kadar gula darah dan suntik insulin yang dibawa Fulki sehari-hari.Alat cek kadar gula darah dan suntik insulin yang dibawa Fulki sehari-hari. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Dukungan lingkungan

Meski diabetes menyerangnya, Fulki selalu semangat tanpa perlu merasa tertekan. "Dia merasa unik. Saya kaget," ujar Aisyah.

Padahal, Aisyah tak pernah mengajarkan putranya bersikap demikian. "Kalau diabetes, Fulki perlu insulin dari luar, kalau papa sama mama dari dalam, makanya Fulki itu anak istimewa, anak hebat," kenangnya.

Sempat ada rasa bersalah dalam diri Aisyah. Dia juga takut akan masa depan Fulki. Namun, dokter yang menangani meyakinkan bahwa selama gula darah terkontrol, semua akan baik-baik saja.

Selama ini, Aisyah bersama sang suami hanya berusaha untuk menjaga asupan makanan, rutin melakukan kontrol, dan menjaga kebersihan. Sedangkan untuk kegiatan sekolah, pasangan suami istri ini menyerahkan sepenuhnya pada Fulki. "Yang penting hati-hati," kata dia.

Sampai saat ini, Fulki gemar berolahraga. Dia getol bermain basket. Akibat hobinya bermain basket, gula darah Fulki terbilang bagus.

Namun, Aisyah kerap mengingatkan Fulki untuk tidak terlalu lama berolahraga karena dapat berisiko hipoglikemia. (els/asr)