Sentuhan Warna Lembut Tren Fesyen 2019

CNN Indonesia | Jumat, 16/11/2018 11:15 WIB
Sentuhan Warna Lembut Tren Fesyen 2019 Busana rancangan Mel Ahyar dalam IPMI Trend Show 2019 di Senayan City, Jakarta. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2019 tinggal sebentar lagi. Ini saat yang tepat untuk melihat tren dunia fesyen tahun depan. Fesyen 2019 bakal banyak bermain dengan model-model busana yang minimalis dengan warna-warna lembut. 

Tren ini terlihat dari koleksi terbaru lima desainer kenamaan Indonesia untuk 2019. Perancang Didi Budiarjo, Liliana Lim, Mel Ahyar, Tri Handoko, dan Yogie Pratama memamerkan koleksinya dalam ekshibisi berkonsep White Cube di Trend Show 2019 yang digelar oleh Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI).

Ajang tahunan yang digelar untuk ke-32 kalinya ini menampilkan koleksi terbaru para desainer yang tergabung dalam IPMI dan menjadi prediksi tren mode di tahun berikutnya.



"Sudah dari tahun lalu kami membuat konsep pameran karena fesyen bukan hanya bisa dinikmati dari show saja, bisa juga dilihat dari dekat dengan ekshibisi ini. Ini yang kami tawarkan untuk 2019," kata ketua penyelenggara IPMI Trend Show 2019, Tri Handoko saat konferensi pers dan pembukaan ekshibisi White Cube di Senayan City, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Di ekshibisi itu, desainer Mel Ahyar menampilkan koleksi bertajuk "Penti" untuk Spring/Summer 2019. Sebanyak sembilan busana tertata dalam instalasi berkonsep siklus air yang menunjukkan kesinambungan bumi dan manusia.

Karya Mel kali ini memang bercerita mengenai hubungan bumi dan manusia. Dia terinspirasi dari penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) yang penghasilan utamanya datang dari bercocok tanam seperti kopi, kemiri, padi, vanili, dan lontar.

Bagi Mel, masyarakat NTT begitu menghargai alam dan hasil bumi lewat upacara Penti. Upacara Penti merupakan salah satu budaya ucap syukur Manggarai yang diungkapkan dalam perayaan meriah. Inilah yang menjadi asal usul nama koleksi "Penti".

Busana rancangan Liliana Lim dipamerkan dalam IPMI Trend Show 2019 di Senayan City, Jakarta.Busana rancangan Liliana Lim dipamerkan dalam IPMI Trend Show 2019 di Senayan City, Jakarta. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Mel menuangkan filosofi itu dalam fesyen. Hasil bumi kopi, misalnya, ditampilkan lewat gaun bersiluet lurus dilengkapi dengan cape pada bagian tangan dan detil bordir organdi. Gaun ini menceritakan proses penanaman kopi sampai panen.

Ada pula gaun lurus dengan drop shoulder berbahan crepe silk tebal mewakili vanili dengan detail ikat pinggang. Detail ikat pinggang itu merupakan gambaran hasil bumi yang kebanyakan diikat di tubuh orang-orang Manggarai.

Atasan itu dipadukan dengan rok yang menggambarkan siklus air irigasi yang mengalir tanpa putus dengan detail manik-manik dan kristal di atas bahan organdi. Mel banyak bermain dengan warna hitam dan nude.

"Saya menawarkan konsep ramah lingkungan. Tahun 2018 sudah banyak bicara soal 90-an dan futuristik, sekarang saatnya kembali ke alam tapi dengan keterampilan yang modern," kata Mel.

Konsep minimalis juga terlihat dari desainer Liliana Lim. Bertajuk "Gracefully Fold", Liliana menawarkan aneka busana yang terinspirasi dari gaya berpakaian di awal tahun 50-an. Garis rancangan Lilina masih berputar dalam drapery.


Hanya saja, pada koleksi kali ini, Liliana mencoba tantangan baru dengan memakai bahan yang tak biasa dan belum pernah digunakannya pada koleksi sebelumnya.

"Tahun ini saya mengubah bahannya. Biasanya, kan, drapery dengan bahan yang lembut dan jatuh seperti sifon dan satin sutra. Sekarang dengan yang lebih tebal, jadi benar-benar beda," tutur Liliana di depan instalasinya.

Liliana menggunakan bahan bertekstur glitery dari semi wool, tweed, linen, jaquard, dan organza dengan warna cokelat, abu-abu, hitam, dan emas. Bahan itu dirancang menjadi mini dress, jumpsuit, dan gaun panjang yang klasik dan minim jahitan.

Tantangan juga dicoba oleh desainer senior Didi Budiarjo yang memberanikan diri untuk mengeluarkan koleksi serba pink. Pengalaman mengeluarkan koleksi berwarna ini belum pernah dilakukannya.


"Karena pink adalah warna yang unik, tidak ada dalam spektrum warna, tapi bisa terlihat. Saya tertantang," ucap Didi.

Koleksi Didi kali ini tampil dengan potongan feminim dengan detail bergelombang dan banyak menyematkan pita. Dalam balutan organdi, sutra, organza, sifon, dan lace, Didi membuat aneka gaun pendek dan panjang.

Selain itu, ada pula instalasi milik Tri Handoko yang memamerkan koleksi baju pengantin serba putih. Sebanyak sembilan baju pengantin itu dibuat minimalis. Karya desainer Yogi Pratama juga menampilkan gaun dengan warna-warna lembut seperti emas dan merah muda. (ptj/asr)