Embusan Napas Hidup Baru Timun Mas dan Buto Ijo dalam Kain

CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 11:42 WIB
Embusan Napas Hidup Baru Timun Mas dan Buto Ijo dalam Kain Founder dan Creative Director Sejauh Mata Memandang Chitra Subyakto berkolaborasi dengan Davy Linggar.(CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hikayat Timun Mas kini menjelma menjadi selembar kain. Cerita rakyat tentang kegigihan Timun Mas melawan Buto Ijo itu jadi inspirasi label tekstil Sejauh Mata Memandang merancang koleksi terbarunya.

Cerita Timun Mas itu tergambar dalam setiap detail koleksi Sejauh Mata Memandang untuk Musim Rintik 2018. Label sejauh memang menggunakan istilah Musim Rintik dan Musim Kemarau untuk membagi keluaran koleksi terbarunya di setiap musim di Indonesia yakni musim hujan dan musim panas.

Dongeng Timun Mas yang berasal dari Jawa Tengah itu dipilih karena dianggap sudah mulai dilupakan oleh banyak orang Indonesia terutama anak-anak. Padahal, kisah ini memiliki makna yang kuat yakni kegigihan dan keberanian untuk mengalahkan segalanya.


"Banyak dongeng yang anak-anak sudah tidak tahu, tahunya Cinderella. Padahal ada banyak dari Indonesia. Kami ingin menampilkan cerita Timun Mas itu dan menceritakannya kembali dalam sebuah kain," kata Founder sekaligus Creative Director Sejauh Mata Memandang Chitra Subyakto saat peluncuran koleksi Timun Mas di Senayan City, Jakarta, Kamis (8/11).


Chitra mengungkapkan butuh waktu sekitar satu tahun untuk merancang konsep koleksi Timun Mas mulai dari riset hingga pengerjaan. Hasilnya, detail cerita Timun Mas terangkum dalam setiap lembar kain Sejauh ini.

Sama seperti kisah dongeng, Timun Mas dan Buto Ijo tentu saja jadi tokoh utama dalam kain itu. Beberapa binatang seperti burung merak ikut menjadi motif di kain Sejauh.

Empat bekal keselamatan yang dibawa Timun Mas saat menyelamatkan diri dari kejaran Buto Ijo yakni biji timun, duri, garam, dan terasi juga turut jadi simbol-simbol sederhana yang memenuhi corak kain.

Aneka motif dongeng Timun Mas itu dibuat menggunakan kain dari bahan katun sari, katun foal, hingga cupro dengan warna-warna cerah seperti kuning kunyit, hijau, merah, dan biru. Semua bahan ini disebut berasal dari bahan organik.

"Warna-warna ini cocok dengan suasana saat ini yang memasuki Musim Rintik, jadi lebih ceria tapi juga tetap timeless," ucap Chitra.

Total, koleksi anyar ini terdiri dari dua motif kain yang dibuat dengan batik cap, dua motif kain dari batik tulis dan empat motif dari sablon. Beberapa motif juga dikombinasi dengan bordir tangan.

Kain Sejauh Mata MemandangFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman
Kain Sejauh Mata Memandang

Kain itu juga dibuat menjadi ragam busana seperti atasan kutu baru berkerah V, kebaya panjang, outerwear, scarf persegi, selendang. Koleksi khusus Timun Mas dengan edisi terbatas juga tersedia seperti selop, topeng, dan buku cerita yang dibuat dari kain dengan tangan.

Seperti biasanya, Sejauh Mata Memandang memang tak banyak membuat koleksi busana. Mereka banyak berfokus pada tekstil kain lebar.

Proses pembuatan koleksi ini dilakukan di beberapa kota seperti Sragen, Pekalongan, Solo, dan Jakarta serta dibantu perkumpulan ibu rumah tangga di Rusun Pesakih dan Marunda. 

Pameran

Tak hanya sekadar menceritakan kembali Timun Mas lewat kain, Sejauh Mata Memandang juga membagikan kisah itu melalui instalasi pameran seni karya kolaboratif dengan Davy Linggar. 

Alih-alih memilih fashion show untuk memperagakan koleksi terbarunya, Sejauh lebih tertarik memamerkan karya itu lewat pameran seni.

"Ini yang ke-empat kalinya lewat pameran. Kalau fashion show Ini kalo fashion show hanya bisa dinikmati kalangn terbatas selama 20 menit saja. Kalau instalasi semua bisa datang dan merasakan sendiri dengan gratis," tutur Chitra.

Seni instalasi di Senayan City itu membawa pengunjung masuk dalam kisah Timun Mas. Untaian kain yang memenuhi instalasi itu seolah membuat pengunjung tengah berada di hutan, memasuki gua dan ikut mengarungi perjalanan Timun Mas. 

Di dalam pameran itu juga ditampilkan animasi dongeng Timun Mas yang dinarasikan oleh Dian Sastrowardoyo. 

"Ini kedua kalinya saya kolaborasi dengan Sejauh. Ini punya cerita yang bagus dengan mengangkat budaya Indonesia," ucap pemeran Ada Apa dengan Cinta itu.

Selain Dian, musisi Tulus dan Petra Sihombing juga ikut terlibat membuat ilustrasi musik untuk Timun Mas. Tulus bahkan akan menggelar beberapa mini konser di dalam instalasi itu karena tertarik dengan banyaknya kain yang ada di dalam pameran. Kain itu disebut akan memberikan kualitas suara yang bagus.

Kreasi Sejauh Mata MemandangFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman
Kreasi Sejauh Mata Memandang

"Saya sama Petra terlibat proses pembuatan musik ilustrasi untuk narasi yang dibacakan oleh Dian," ujar Tulus. 

Hasil dari penjualan buku Timun Mas serta konser Tulus itu nantinya akan disumbangkan ke yayasan yang dikelola oleh Dian dan juga Tulus. (ptj/chs)