HARI PREMATUR SEDUNIA

3 Cara Mencegah Kelahiran Prematur

CNN Indonesia | Sabtu, 17/11/2018 19:37 WIB
3 Cara Mencegah Kelahiran Prematur Ilustrasi kehamilan (Pexels/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelahiran prematur masih jadi persoalan ibu dan anak di Indonesia. Padahal, kelahiran prematur dapat dicegah melalui beberapa cara.

Persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 20-37 minggu ini berbahaya dan meningkatkan risiko infeksi serta kematian pada bayi hingga 75 persen.

Di negara berkembang, rata-rata kelahiran prematur mencapai tujuh persen dari total kelahiran. Di Indonesia, angka itu berkisar 10-20 persen. Hal ini membuat Indonesia menduduki peringkat kelima dengan kelahiran prematur terbanyak di dunia. Rata-rata terdapat 15,5 kasus prematur per 100 kelahiran.



Ahli kandungan, dr Benny Johan Marpaung menjelaskan, kelahiran prematur terjadi karena ada peningkatan aktivitas kontraksi sehingga menyebabkan persalinan sebelum waktunya.

"Faktor penyebab kontraksi itu ada beberapa seperti infeksi, kehamilan kembar atau ganda, kelainan pada rahim, dan ketuban yang pecah," kata Benny kepada CNNIndonesia.com, Jumat (16/11).

Agar hal ini tak terjadi, Benny menyebut, ada tiga cara untuk mencegah kelahiran prematur. Pencegahan itu dapat dilakukan secara primer, sekunder, dan tersier.

Pertama, pencegahan primer dilakukan dengan mencegah faktor risiko terjadinya persalinan prematur. Benny menyebut faktor risiko yang meningkatkan kelahiran prematur di antaranya merokok, konsumsi obat-obatan, alkohol, dan nutrisi yang tidak mencukupi.


"Dengan menghindari beberapa hal tersebut serta memenuhi kecukupan nutrisi dapat mencegah kelahiran prematur," ucap Benny yang berpraktik di RSIA Brawijaya Kemang ini.

Konsumsi asam folat 6 bulan atau setahun sebelum kehamilan juga dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Selain itu, asupan multivitamin atau mikronutrien juga harus dipastikan terpenuhi.

Pencegahan premier ini juga bisa dilakukan dengan tidak melakukan pekerjaan pada shift malam, bekerja tidak lebih dari 42 jam sepekan, dan tidak berdiri terlalu lama atau lebih dari 6 jam. Ibu hamil juga disarankan menghindari berat badan yang ekstrem.

Kedua, pencegahan sekunder dilakukan saat gejala klinis belum terlihat nyata, tapi beberapa hal mulai menunjukkan keadaan tidak normal. Misalnya, infeksi pada vagina seperti keputihan yang berulang, gatal, dan berbau.


Saat calon ibu mengalami hal ini, Benny menyarankan agar segera memeriksakan ke dokter kandungan supaya bisa segera diobati. Pasalnya, infeksi keputihan ini merupakan salah satu penyebab pecahnya ketuban dan bisa mengakibatkan kelahiran prematur.

Ketiga, pencegahan tersier dilakukan saat gejala klinis terlihat nyata. Biasanya, hal ini terjadi beberapa jam jelang kelahiran prematur.

Benny menyebut dokter akan melakukan beberapa tindakan untuk menunda kelahiran dengan tujuan memberi kesempatan untuk memperbaiki kualitas janin.

"Contohnya mematangkan kondisi paru. Ini untuk mencegah masalah kesehatan yang timbul saat bayi lahir prematur," ujar Benny (ptj/asr)