Mengenal Kusta, Penyakit Kulit yang Masih Mengancam Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 29/11/2018 11:08 WIB
Mengenal Kusta, Penyakit Kulit yang Masih Mengancam Indonesia Ilustrasi penyakit kusta. (Foto: Istockphoto/a3701027)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keberadaan penyakit kusta atau lepra sering kali dianggap sudah berakhir. Namun, penyakit kulit ini masih mengancam banyak orang di Indonesia.

Kusta ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang dapat menular melalui udara. Bakteri ini menyerang kulit, saraf perifer, saluran pernapasan atas, dan mata.

Saat ini, berdasarkan data kesehatan global, Indonesia berada di posisi ketiga dengan penderita kusta tertinggi di dunia, setelah India dan Brazil. Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat 11 provinsi belum mampu mencapai angka eliminasi kusta. 


Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kemenkes, angka kasus kusta di Indonesia terus menurun, meski relatif lambat dan tak signifikan. Pada tahun 2017, angka prevalensi kusta di Indonesia sebesar 6,08 kasus per 100 ribu penduduk dengan jumlah 15.920 kasus. Jawa Timur adalah provinsi dengan kasus kusta tertinggi, diikuti Jawa Barat dan Jawa Tengah.


"Di indonesia banyak daerah endemis kusta atau lebih dari satu kasus per 10 ribu, ini kriteria dari WHO. Sampai sekarang kita belum bebas dari penyakit lepra," kata ahli mata, dr Yunia Irawati saat berbincang mengenai lepra dan mata, beberapa waktu lalu.

Pada tahap awal, kusta ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada kulit. Bercak ini dapat berwarna cokelat, putih, atau merah, tapi tidak menimbulkan gatal.

Bercak ini muncul tidak merata di seluruh tubuh. Sensitivitas bercak ini berbeda dengan bagian kulit yang normal.

"Cara mudah untuk merasakannya, coba ambil ujung kapas dan sentuh bagian bercak. Kalau sensitivitasnya berbeda dari kulit kain, segera periksa ke dokter," ucap Yunia.


Umumnya, butuh waktu sekitar 3-5 tahun hingga gejala muncul setelah seseorang kontak dengan bakteri. Waktu tersebut disebut dengan istilah masa inkubasi.

Pada tahap lanjut, jika tidak ditangani, kuman kusta dapat menyebar menyebabkan rasa kebal di kulit, luka, dan bercak seperti panu. Saat kondisi semakin parah, kuman kusta bisa mengakibatkan amputasi dan kecacatan.

Selain kulit, kusta juga bisa menjalar ke mata menyebabkan gangguan mata hingga kebutaan.

Pada kasus ini, pasien harus mendapatkan diagnosis yang tepat dari dokter untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Kusta dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat dan konsistensi mengonsumsi obat-obatan. (ptj/asr)