Meneliti Keampuhan Bunga Tabebuya untuk Kesehatan

CNN Indonesia | Rabu, 28/11/2018 15:00 WIB
Meneliti Keampuhan Bunga Tabebuya untuk Kesehatan tabebuya (Istockphoto/momemoment)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pohon bunga tabebuya ternyata tak cuma berbunga dengan indahnya dan menghias sepanjang jalan di Surabaya.

Pohon bunga yang mirip dengan bunga sakura ini pun memiliki warna-warni yang menawan. Namun di balik warna indah ini, bunga tabebuya juga punya banyak manfaat.

Pohon dengan banyak cabang dan juga bunga lebat ini memang akan melindungi diri dari paparan sinar matahari langsung dan juga bisa menjadi bagian dari pupuk tanah.



Mengutip Science Direct, berbagai spesies dari bunga tabebuya ini sudah digunakan sejak zaman dulu di wilayah Amazon untuk mengobati berbagai penyakit.

Beberapa di antaranya adalah sifilis, demam, malaria, infeksi menular, sampai masalah pencernaan.

Webmd mencatat bahwa tanaman ini juga bisa membantu mengatasi anemia, arthritis, asma, infeksi kantung kemih dan prostat, bronkitis, diabetes, diare, eksim, psoriasis, dan lainnya.

Mengutip Research Gate, Tabebuia rosea (nama latin tabebuya) ini dikenal dengan taheebo, lapacho, pau d'arco, dan ipe roxo diklaim juga bisa membantu meredakan penyakit.


Untuk meredakan penyakit seperti demam, kulit kayu dan daun tabebuya bisa diseduh dan dijadikan teh. Menurut Gentry dalam penelitiannya A Synopsis of Bignoniaceae Ethnobotany and Economic Botany, teh tabebuya bisa membantu menurunkan demam.

Hanya saja, sampai saat ini, belum ada banyak bukti yang menguatkan manfaat dan efektivitas tabebuya untuk kesehatan.

Pada tahun 1960-an, klaim penggunaan tabebuya dalam uji klinis pengobatan kanker, terutama di Brasil membuat banyak orang melirik tanaman ini. Berbagai ekstrak dari kulit kayu dan batang kayu Tabebuia impetiginosa, T. rosea, dan T. serratifolia diolah menjadi berbagai produk termasuk makanan sehat.


Menurut penelitian, tanaman tabebuya ini juga memiliki banyak senyawa bioaktif seperti napthoquinones tertutama lapachol dan beta-lapachone. Beta-lapachone ini sempat diajukan ke National Cancer Institute (NCI) pada 1970, namun akhirnya ditarik kembali karena tingkat toksisitasnya yang tidak bisa diterima. Sampai saat ini senyawa tersebut masih dalam uji klinis fase II di AS.

(chs/chs)