HARI AIDS SEDUNIA

Lingkaran Setan Stigma HIV/AIDS yang Tak Berujung

CNN Indonesia | Sabtu, 01/12/2018 20:30 WIB
Lingkaran Setan Stigma HIV/AIDS yang Tak Berujung Stigma pada ODHA menghambat pengendalian HIV/AIDS di Indonesia. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) lekat dengan stigma. Mulai dari penyakit kotor, mudah menular, hingga mematikan. Stigma ini terus berputar dalam 'lingkaran setan' yang membuat ODHA terdiskriminasi dan sulit mendapatkan pengobatan.

Stigma pada ODHA berawal sejak pertama kali kasus HIV/AIDS ditemukan di Indonesia pada era 1990-an. Kasus pertama itu diketahui muncul pada kaum LGBT di Bali. Disusul, HIV/AIDS menjangkiti sekelompok waria.

Kala itu, pemerintah Orde Baru disebut menutup-nutupi kasus ini, sehingga menciptakan ketakutan pada masyarakat.


"Pemerintah di zaman Orde Baru mungkin tidak mengerti menangani kasus baru ini, sehingga muncul banyak pemberitaan yang menyebut HIV penyakit yang membunuh. Stigma itu terus berlangsung sampai saat ini," kata Koordinator Advokasi OPSI, Wawan, saat berbincang mengenai stigma dengan CNNIndonesia.com, Selasa (27/11).

OPSI atau Organisasi Perubahan Sosial Indonesia merupakan salah satu jaringan yang mendorong penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Pemberitaan yang negatif juga turut memupuk stigma di masyarakat, bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia. Belum lagi, beberapa nama besar seperti aktor Rock Hudson dan musisi Freddie Mercury diketahui mengidap HIV/AIDS.

Agar tak semakin parah, para aktivis peduli HIV/AIDS Jepang meluncurkan gerakan melawan AIDS di Asia pada 1995 melalui musik. Indonesia mengadopsi gerakan itu dengan membuat lagu "Usah Kau Lara Sendiri" yang dibawakan Katon Bagaskara berduet dengan Ruth Sahanaya.

Ilustrasi.Ilustrasi. (REUTERS/Rupak De Chowdhuri)
"Lagunya bagus dan secara video klip melawan apa yang diinformasikan oleh pemerintah," ungkap Wawan.

Meski lagu itu berhasil meledak di pasaran dan masuk dalam deretan lagu hit kala itu, stigma masyarakat terhadap HIV/AIDS tetap berkembang sampai saat ini.

Kasus terbaru, misalnya, tiga siswa SD di Samosir, Sumatera Utara, tidak diizinkan bersekolah karena mengidap HIV dan dikhawatirkan akan menular. Ada pula pemakaman jenazah penderita HIV/AIDS yang ditolak di beberapa daerah. Kasus ini muncul akibat stigma yang masih melekat pada ODHA.

Wawan menyoroti beberapa stigma yang masih menjadi masalah penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Pertama, masyarakat dianggap masih belum bisa membedakan antara HIV dan AIDS.

"Banyak orang belum bisa membedakan HIV dan AIDS," ujar Wawan.

HIV merupakan Human Immunodeficieny Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Orang dapat terjangkit HIV dalam waktu yang lama tanpa menimbulkan gejala.

Sedangkan AIDS, merupakan gejala penyakit yang ditimbulkan akibat infeksi HIV. AIDS muncul setelah HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dalam waktu lama. Namun, kini ada obat yang dikenal dengan antiretroviral (ARV) yang dapat meredam laju HIV. Apabila dikonsumsi rutin, HIV tak akan menjadi AIDS.

Stigma lain yaitu HIV/AIDS mudah menular sehingga memunculkan diskriminasi dalam pergaulan dan lingkungan kerja pada ODHA.

"Misalnya di wilayah kerja tidak diterima, ada yang di dalam pergaulan tidak mau menerima, tidak mau berbagi makanan dan sebagainya," ucap Wawan.

HIV/AIDS termasuk salah satu virus yang sulit menular karena virus ini akan mati beberapa saat di udara bebas. Virus ini hanya bisa menular melalui darah ke darah, hubungan seksual, dan jarum suntik. Berganti alat makan dan alat mandi yang disebut bisa menularkan HIV/AIDS hanya mitos belaka.

Stigma lain juga muncul pada tenaga kesehatan saat menangani ODHA. Beberapa tenaga medis menolak merawat ODHA.

"Dokter yang menangani isu HIV/AIDS mereka terbuka, tapi di luar isu itu, misalnya di klinik gigi, kalau mereka tahu statusnya, perlakuannya agak beda," ungkap Wawan.

Menghapus Stigma

Untuk bisa menyetop stigma yang terus bergulat di lingkaran setan ini, banyak pihak mesti bahu-membahu membuka mata masyarakat.

Dari para penderita, Wawan meminta agar ODHA mengubah pola hidup sehat dengan meminum obat teratur, mengembalikan berat badan, dan tetap beraktivitas. Menurut Wawan, selama ini stigma juga muncul lantaran ODHA identik dengan tubuh kurus, lemas, dan menutup diri.

"ODHA juga harus mau mengubah perilaku supaya anggapan orang HIV itu sehat dan tidak lemah," ujar Wawan.

Wawan, yang juga merupakan ODHA, sudah menerapkan pola hidup itu sejak 2013. Perubahan hidup sehat itu membuat banyak orang tak percaya dia mengidap HIV positif.

"HIV itu kurus dan penyakitan. Tapi saya menyikapinya dengan hidup sehat, jadi orang tidak percaya saya HIV," ungkap Wawan.

Di sisi lain, penyebaran informasi yang benar mengenai HIV/AIDS harus diperluas. Masyarakat dinilai harus membuka diri untuk menerima informasi mengenai HIV/AIDS.

Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah pendidikan seksual, termasuk HIV/AIDS yang sulit masuk ke lingkungan sekolah.

"Ini sulit sekali ditembus. Padahal, kami ingin memberi informasi soal perilaku seksual, bukan mendorong melakukan hubungan seksual," ujar Wawan.

Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, juga diminta semakin gencar menyebarkan informasi mengenai HIV/AIDS dan mendukung penyebaran kondom sebagai alat pencegahan HIV/AIDS. (ptj/chs)