HARI AIDS SEDUNIA

Modal 'Bismillah' Menikahi Orang Positif HIV

CNN Indonesia | Sabtu, 01/12/2018 18:31 WIB
Modal 'Bismillah' Menikahi Orang Positif HIV Ilustrasi pernikahan (niekverlaan/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Orang bilang, hidup layaknya perputaran roda. Terkadang berada di titik terendah, di waktu yang lain seseorang berada di puncak. Dua pekan jelang hari bahagia, Fitri harus menerima kenyataan pahit bahwa calon suaminya, Chandra, positif HIV.

Fitri dan Chandra bukan nama sebenarnya. Mereka adalah sepasang suami istri dengan riwayat HIV.

"Saya positif HIV," kata Fitri menirukan ucapan Chandra kala itu. Kabar itu diawali dengan segudang ucapan permintaan maaf dari Chandra yang membuatnya bingung. Saat kabar itu didengarnya, Fitri jelas merasa kaget.


"Saking kagetnya, bingung reaksinya mau gimana, apa cerita dia berikutnya, ada kejutan apa lagi?" ujar Fitri mengenang pada CNNIndonesia.com, Senin (26/11).


Fitri mencoba mencerna pernyataan Chandra kala itu. Sebelum berani mendekati Fitri, Chandra memastikan bahwa dirinya negatif HIV. Namun, tes kesehatan yang dilakukan jelang pernikahan mengatakan hal sebaliknya.

Fitri tak bisa langsung ambil keputusan apakah pernikahan akan dilanjutkan atau tidak. Dia memilih untuk mendinginkan pikiran dan bercerita pada sang bunda.

Sementara Chandra, berharap Fitri tak membatalkan pernikahannya, mengingat kedua orang tuanya yang tengah sakit. "Di keluarga dia, hanya salah satu orang tuanya yang tahu," kata dia.

Tak disangka, sang bunda justru tak masalah dengan keputusan Fitri untuk menikahi pria dengan HIV. Malah, orang tua meyakinkannya bahwa semua penyakit pasti ada obatnya.

Di tengah situasi tak pasti, Fitri melangkah bermodal 'Bismillah'. Dalam benaknya, jika jodoh, akad nikah pasti akan berlangsung. Tapi jika Tuhan tak mengizinkan, akad nikah pasti tak terjadi.

Akad nikah pun terlaksana.


Tiga bulan pertama pernikahan rasanya sungguh bahagia. HIV tak jadi halangan buat mereka untuk hidup bersama. Chandra rutin mengonsumsi antiretroviral alias ARV (obat untuk menekan jumlah virus HIV) dan obat untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Semua terasa mulus, sebelum kebahagiaan itu berubah jadi nestapa.

Pada bulan keempat pernikahan, Chandra berubah menjadi orang yang murung, pendiam, dan temperamen. Sampai-sampai Fitri dibuat bingung.

Chandra meminta waktu untuk mengatasi pikiran serta kekhawatirannya. Dia memberikan Fitri dua pilihan: 'live' atau 'leave'.

"Kalau dibilang putus asa, sepertinya tidak. Dia masih rutin minum ARV, masih cek ke dokter, masih olahraga juga," aku Fitri.

Perubahan yang terjadi pada Chandra, mau tak mau membuat Fitri bersedih dan menangis. "Saya berusaha tenang, kalau dipikirin, nanti saya gila," katanya.

Bak rollercoaster, kehidupan Fitri bersama Chandra naik dan turun. Kisah cinta antara keduanya begitu indah. Saling mengenal sejak SMP, dan baru menjalin hubungan dekat saat keduanya telah bekerja. Namun, kisah cintanya yang indah itu kini berbalik 180 derajat.

Kini, Chandra tak ubahnya pria asing bagi Fitri. Chandra ingin tidur sendiri, enggan memakan masakan Fitri, hingga mencuci pakaian secara terpisah.

Belakangan, Fitri tahu bahwa pemicu keanehan sang suami adalah tekanan dari kedua orang tuanya sendiri. Mertuanya memiliki rasa bersalah yang begitu besar dan menganggap ada andil mereka dalam sakit yang diderita anaknya. Rasa bersalah kedua orang tuanya ini membuat Chandra tertekan.


Chandra yang ambisius dan bertangan dingin mendadak merasa gagal karena virus HIV yang ada di dalam tubuhnya.

"Dia itu orang yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan," kata Fitri. Dia menduga, keanehan sang suami adalah bentuk kekecewaan Chandra atas apa yang dialaminya.

Boleh jadi, Fitri kurang beruntung karena tak bisa merasakan indahnya kehidupan rumah tangga sebagaimana biasanya yang dijalani pasangan suami istri lain.

"Saya nothing to lose. Kalau misal dia mau ngajak memperbaiki keadaan, ya ayo. Kalau dia mau berpisah, ya sudah," kata Fitri pasrah.

"Tuhan enggak bakal ngasih ujian yang hamba-Nya enggak bisa menanggungnya." (els/asr)