HARI AIDS SEDUNIA

Kala Virus Cinta Jadi 'Obat' Penghancur Stigma HIV

CNN Indonesia | Sabtu, 01/12/2018 13:41 WIB
Kala Virus Cinta Jadi 'Obat' Penghancur Stigma HIV ilustrasi pasangan (Brodie Vissers via StockSnap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada rasa takut dan khawatir di benak Bagus saat mantap menikahi Lisa (bukan nama sebenarnya). Tak dimungkiri, bagi sebagian orang, menikah memang terkesan menakutkan.

Tapi kalau bicara takut, mungkin kehidupan pernikahan Bagus-Lisa jauh lebih pelik dibanding pengantin kebanyakan.

Lisa sendiri adalah seorang ODHA atau orang dengan HIV/AIDS.



Bagus dan Lisa sudah menikah dan hidup bersama sejak empat tahun lalu. Kehidupan dua sejoli itu tak jauh berbeda dibandingkan pasangan lain.  Mereka bahkan juga sudah memiliki anak.

Kisah Bagus dan Lisa berawal sejak 2011. Kala itu, mereka sama-sama terlibat dalam penggalangan dana untuk mendukung sebuah proyek sosial tentang AIDS. Perkenalan pertama mereka berlangsung di dunia maya, lantaran Bagus dan Lisa berasal dari dua kota yang berbeda.

"Awal ketemu di Twitter. Waktu itu, istri saya (Lisa) bekerja memegang media sosial. Saya meminta bantuan dia untuk menyebarkan kampanye penggalangan dana melalui media sosial," kata Bagus saat bercerita kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/11). 

Proses penggalangan dana ini membuat Bagus dan Lisa kerap berkomunikasi saling bertukar informasi. Mereka lantas baru bertemu tatap muka saat Lisa berkunjung ke kota Bagus untuk merayakan keberhasilan penggalangan dana.

Sejak saat itu, kedekatan mereka berdua semakin intens. Dari Twitter, hubungan mereka berlanjut ke BBM, aplikasi pesan instant dari BlackBerry. Bagus pun beberapa kali sempat berkunjung ke kota Lisa.

Lama-kelamaan benih cinta pun mulai tumbuh dalam hati. Bagus berniat mengutarakan cintanya.

"Saya akhirnya tanya di BBM, karena dia bekerja di lingkungan itu (HIV/AIDS) walaupun tidak semua orang yang bekerja di sana ODHA. Waktu itu dia bilang kalau dia HIV positif," ucapnya.

Saat itu Bagus memang tak tahu kalau Lisa positif HIV. Dia hanya beranggapan kalau pujaan hatinya ini hanya bekerja di lembaga tersebut. Toh, tak semua orang yang bekerja di lembaga HIV/AIDS pasti ODHA.

Bagus mengaku tak kaget dengan pengakuan Lisa. Justru, dia terkejut lantaran Lisa mengaku dia sudah memiliki seorang anak yang juga HIV positif. 


"Kalau status HIV saya enggak terlalu kaget karena saya pernah pacaran dengan orang yang juga HIV. Yang bikin saya kaget adalah karena dia sudah punya anak karena mukanya masih belum kelihatan sudah punya anak," ungkap Bagus. Saat itu Lisa memang masih berusia 27 tahun.

Lisa pun mengungkapkan kisahnya kepada Bagus, tentang bagaimana HIV bisa bersarang di tubuhnya. Dia tertular HIV dari mendiang suaminya dan diketahui setelah suaminya meninggal dunia. Dokter lantas meminta Lisa dan anaknya untuk tes HIV/AIDS.

Tak mundur

Positif HIV dan sudah punya anak ternyata tak membuat cinta Bagus memudar. Dia sama sekali tak mengurungkan niat untuk melanjutkan hubungan cinta mereka.

Kebaikan dan semangat Lisa justru membuat Bagus semakin terpikat.

Bagus juga tak peduli pada stigma yang beredar di masyarakat terkait ODHA seperti penyakitan, mudah menular, harus dijauhi, dan cepat mati.

"Saya tahu itu cuma stigma. Yang benar kan tidak seperti itu. Risikonya tetap ada, tapi asalkan bisa mengikuti apa sudah disarankan oleh dokter dan medis, tidak masalah," ujar Bagus. HIV/AIDS hanya bisa menular melalui darah ke darah, jarum suntik, dan hubungan seksual.

Pada 2014, Bagus memutuskan untuk membina bahtera rumah tangga dengan menikahi Lisa. Agar tidak menular, saat berhubungan suami istri, Rangga dan Cinta selalu menggunakan kondom.

"Mau enggak mau saya harus nyetok kondom aja yang banyak," kata Bagus.

Kondom baru boleh dilepas ketika virus di dalam tubuh Lisa tak terdeteksi. Biasanya, ketika itu pula pembuahan dapat terjadi. Untuk mengetahui kondisi ini, Lisa rutin mengecek ke dokter.

"Saat tidak terdeteksi virus ini bisa lepas kondom dan bisa punya anak," tuturnya.

Cinta pun bisa hamil dan melahirkan anak mereka tahun lalu. "Alhamdulillah, anak saya sehat. Tapi, tahun lalu meninggal dunia, tapi bukan karena HIV/AIDS," ujarnya.

Kini, Bagus dan Lisa mengarungi bahtera rumah tangga seperti kebanyakan pasangan lainnya. Lisa tetap bisa beraktivitas dan kerap keluar kota untuk pekerjaannya. Tak ada ketakutan atau kekhawatiran tertentu yang mereka alami. Layaknya orang kebanyakan, mereka tetap hidup normal. 

Bedanya, Lisa dan anak pertamanya mesti meminum obat antiretroviral (ARV) setiap hari. Anak pertama mereka pun tetap beraktivitas seperti biasa dan aktif mengikuti berbagai kegiatan di sekolahnya meski tahu dia mengidap HIV/AIDS.

"Enggak ada yang beda, kami juga pakai piring, sendok, dan alat mandi yang sama," pungkas Bagus. (ptj/chs)