Terusirnya ISIS dan Kembalinya 'Hak Asasi Bersantai' di Irak

AFP, CNN Indonesia | Minggu, 02/12/2018 13:27 WIB
Terusirnya ISIS dan Kembalinya 'Hak Asasi Bersantai' di Irak Ilustrasi. (GettyImages/SeriousEat)
Mosul, CNN Indonesia -- Deretan botol wiski berlabel kuning bertengger di samping botol anggur Perancis impor, sementara kaleng bir Korea dingin di lemari es.

Pemandangan itu belakang ini kembali terlihat di Mosul, Irak. Tepatnya setelah kelompok jihadis terusir.

Selama tiga tahun Mosul tersandera konflik berdarah yang diciptakan ISIS. Selama masa tersebut, kegiatan minum-minum santai bisa diganjar hukuman cambuk di muka umum atau bahkan yang lebih buruk.


Tetapi lebih dari satu tahun sejak pasukan Irak menggulingkan para jihadis di Mosul, toko minuman alkohol kembali beroperasi.

Distrik komersial Al-Duwasa adalah rumah bagi sejumlah toko minuman sederhana, termasuk milik Khairallah Tobey.

Pengusaha muda berusia 21 tahun itu melompat-lompat di antara rak-rak minuman, menurunkan botol bir seharga 1,500 dinar Irak (sekitar Rp18 ribu) per botol.

"Penjualan kami bagus sekarang," kata Tobey, yang berasal dari kaum Yazidi.

Pemilik toko minuman di Mosul mayoritas merupakan kaum Yazidi atau Kristen, karena Irak tidak memberikan lisensi penjualan alkohol kepada penduduk Muslim.

Tetapi di bawah kendali ISIS--yang menularkan ajaran Islam versi garis keras sejak tahun 2014, semua orang dilarang menjual, membeli, atau minum alkohol.

Minuman alkohol tidak pernah benar-benar hilang dari kota--karena penduduknya selalu punya cara untuk menyelundupkannya, hanya saja harganya jadi lebih mahal dan pemiliknya bisa terancam bahaya.

Setelah Mosul kembali di bawah kendali pemerintah sejak Juli 2017, toko minuman alkohol sekarang kembali buka pintu.

"Di tempat kerja, saya merasa santai dan tidak takut atau gugup sama sekali, berkat keamanan dan kebebasan yang sekarang hadir di Mosul," kata Tobey kepada AFP.

Di timur kota, seberang Sungai Tigris, Abu Rayan mengatakan ia berhasil menjadi "orang yang terakhir tertawa" atas tekanan ISIS terhadap keberadaan minuman alkohol.

"Saya membuka toko saya lagi hanya untuk mengesampingkan Daesh, setelah mereka menjarah uang dan mengusir kami keluar dari kota," katanya, menggunakan akronim bahasa Arab untuk ISIS.

Pemandangan kota Mosul di Irak yang kembali didatangi warganya. (REUTERS/Khalid Al-Mousily)

Alkohol Ikut Jadi Minoritas

Islam melarang konsumsi alkohol, tetapi minum alkohol tetap menjadi hal yang biasa di seluruh Irak yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Dua tahun lalu, kepresidenan negara itu tidak menyetujui rancangan RUU di parlemen yang mengusulkan larangan produksi, penjualan, dan impor minuman beralkohol.

Tidak ada larangan mengonsumsi minuman beralkohol di Mosul, tetapi mereka yang menjual, membeli, dan meminumnya diatur dalam peraturan khusus.

Sebagian besar toko minuman menjual barang dagangannya secara tersembunyi, menggantung hanya beberapa poster iklan bir Turki, Efes, atau mitra Koreanya, Cass, untuk membantu pelanggan menemukan toko mereka.

Botol selalu dikemas dalam kantong hitam buram. Minuman beralkohol hanya boleh dikonsumsi di tempat tertutup atau di tempat umum saat larut malam seperti di tepi Sungai Tigris.

Tentu saja tidak semua lapisan masyarakat di Mosul senang keberadaan minuman alkohol di kotanya.

Beberapa kelompok masyarakat menuntut toko minuman ditutup dengan alasan agama atau untuk melindungi kaum muda.

Tetapi yang lain mengatakan hal itu akan menjadi pelanggaran hak individu.

"Minum anggur adalah kebebasan pribadi yang diizinkan oleh hukum. Itu tidak ada hubungannya dengan keadaan sulit yang dialami kota ini," kata Ali Hassan yang berprofesi sebagai tukang bangunan.

Dia telah mendengar cerita tentang Mosul yang berbeda, pada tahun 1960 dan 1970-an, ketika bar dan kelab malam bebas beroperasi.

"Mereka minum secara terbuka dan tanpa rasa takut," kata Hassan (33).

Tak lama setelah masa keemasan itu, Irak terjerembab dalam konflik.

Serangkaian konflik pada tahun 1980 diikuti oleh embargo internasional membuat minuman alkohol jarang beredar.

Kemudian, pada tahun 2003, invasi AS terhadap Irak menggulingkan Saddam Hussein, tetapi membuka jalan bagi munculnya jihadis di seluruh negeri, termasuk di Mosul.

Ketika ekstremis mendapatkan kekuasaan atas kota, mereka menyerang toko minuman dengan senjata dan serangan granat.

Tempat bermain bilyard yang kembali dibuka di Mosul, Irak. (AFP PHOTO / FADEL SENNA_

Bebas tapi Terikat Aturan

Sekarang, Mosul mungkin memiliki masalah sebaliknya; terlalu banyak toko minuman keras yang tidak berizin beroperasi, yang telah mengkhawatirkan pihak berwenang dan membuat gusar para pemilik toko dengan izin yang sah.

"Kami telah menerima lebih dari 100 permintaan untuk lisensi, dan sejauh ini 25 telah dikeluarkan," kata pejabat regional Zuhair al-Aaraji.

Toko-toko yang menjual alkohol harus memiliki jarak tertentu dari rumah, sekolah, tempat ibadah, dan kantor-kantor pemerintah, katanya.

Aktivis HAM, Mohammad Salem (31) mengatakan bahwa regulasi bukanlah hal yang buruk, namun jangan lupa juga bahwa hak individu harus dilindungi.

"Situasi terbaik adalah mengatur perdagangan dan penjualan minuman beralkohol, diawasi oleh otoritas sosial, kesehatan, dan keamanan," kata Salem.

Lagi pula, tambahnya, penjualan alkohol bisa menjadi sumber pendapatan penting bagi Mosul yang sedang membangun kotanya kembali.

"Setiap keputusan untuk melarang minuman alkohol akan bertentangan dengan kebebasan pribadi, dan mencabut sumber daya ekonomi dan keuangan yang dibutuhkan kota dalam keadaan saat ini."

(ard)