Membentengi Kelestarian Alam di Bali dengan Ritual Sakral

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 10:08 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan terasering sawah berundak di kawasan Ceking, Tegalalang, Gianyar, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wangi kemenyan semerbak memenuhi Pura Dalem Desa Adat Geriana Kauh di Kabupaten Karangasem, Pulau Bali, menyambut puluhan gadis yang baru tiba diantar oleh ibu dan saudarinya.

Wajah para gadis itu terlihat penuh dengan riasan di mata, pipi, bibir, sedangkan di atas kepalanya ada mahkota yang dibuat dari rangkaian Bunga Gumitir, Bunga Cempaka, Bunga Kertas, Bunga Ratna, dan kulit jeruk jeruti dibentuk setengah lingkaran.

Pecalang (petugas keamanan desa) terlihat sigap mengatur para gadis cilik yang datang berbalut kain putih-kuning itu. Usai dibariskan, mereka dibuat duduk berkelompok di halaman dalam pura.


Di sebelah para gadis yang nantinya mengemban tugas menarikan suatu ritual sakral, Tari Rejang Pusung, tampak para ibu mengenakan kebaya berwarna cerah dan para lelaki muda serta dewasa dengan pakaian serba putih turut duduk berkelompok sembari memegang instrumen musik kendang dan gamelan.

Tidak lama setelah semua berkumpul, pemangku (pemimpin agama) memulai upacara Ngusaba Goreng, ritual sakral yang masih dijalankan masyarakat Desa Adat Geriana Kauh usai masa panen.

Setelah pemangku memulai upacara, para gadis berdiri berbaris dan berjalan lambat mengitari halaman dalam pura. Sembari berjalan, mereka pun menari sembari menirukan daun padi yang melengkung dengan mengibaskan selendang. Suara tabuhan gamelan dan nyanyian mengiringi mereka.

Setiap upacara Ngusaba Goreng, Tari Rejang Pusung biasanya dibawakan tiga kali dari 13 rangkaian ritual. Upacara ditutup dengan rapalan doa dari pemangku dan pemberian air suci ke penari dan warga.

Penghormatan terhadap alam Bendesa (pemimpin desa adat) Geriana Kauh I Wayan Bratha (58) menjelaskan upacara Ngusaba Goreng sebagai wujud penghormatan dan syukur warga terhadap melimpahnya hasil panen dan tanah yang senantiasa subur.

Menurut Bratha, warga Desa Adat Geriana Kauh, memperlakukan sawah, kebun, dan hutan-hutan bambu sebagai sumber kehidupan yang harus diperlakukan dengan penuh rasa hormat, bukan sekadar lahan berproduksi untuk mengumpulkan uang.

Adanya penghormatan dan rasa syukur itu pun mempengaruhi cara bertani di Desa Adat Geriana Kauh.

Bendesa Geriana Kauh I Wayan Bratha menjelaskan bahwa warga desa adat Geriana Kauh telah menjalankan ritual Tari Sang Hyang Dedari dan Tari Sang Hyang Jaran lebih dari satu dasawarsa terakhir, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur terhadap hasil panen yang melimpah.

Sebagaimana disampaikan Bratha, masyarakat desa yang 99 persen berprofesi sebagai petani berupaya keras tidak menggunakan penyubur dan pupuk kimia yang diyakini dapat merusak lingkungan.

Warga Desa Adat Geriana Kauh pun telah berhenti menggunakan pestisida untuk mengusir hama sejak lebih dari 10 tahun terakhir.

Pestisida, menurut Bratha, punya dampak buruk terhadap keberlangsungan beberapa hewan yang hidup di sawah. Akibat penggunaan pestisida yang sempat massal pada tahun 1970-an hingga 1990-an, banyak hewan seperti lindung (belut), biawak, dan beberapa jenis serangga tidak lagi terlihat.

Warga desa berkeyakinan bahwa keseimbangan hidup antara manusia dan alam akan terganggu, apabila mereka meneruskan bertani dengan menggunakan pestisida, pupuk buatan, dan benih hasil rekayasa genetika.

Sawah yang rusak, menurut pengamatan Bratha, tidak hanya memukul sektor perekonomian warga desa. Namun lebih dari itu, kehidupan sosial masyarakat pun terganggu, karena ritual-ritual terkait sawah menjadi berhenti dipraktikkan.

Belajar dari pengalaman gagal panen masa silam, lebih dari satu dasawarsa terakhir, warga Desa Adat Geriana Kauh pun berupaya keras menjaga cara hidup yang meninggikan keselarasan, di antaranya dengan mempertahankan sawah di tengah ancaman alih fungsi lahan dan melestarikan beberapa ritual penting, seperti Tari Rejang, Tari Sang Hyang Dedari, dan Tari Sang Hyang Jaran.

Tiga tarian sakral itu, sejak 2015, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia.

Kian Langka

Cara hidup yang meninggikan keselarasan, sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat Desa Adat Geriana Kauh, agaknya kian sulit ditemukan di beberapa wilayah Pulau Bali, khususnya lokasi yang telah menjadi episentrum industri pariwisata massal, misalnya saja, Kuta, Seminyak, Denpasar, Canggu, serta sebagian Ubud.

Salah satu sebabnya, banyak lahan pertanian dan hutan yang telah beralih fungsi menjadi kawasan perhotelan, restoran, kafe, swalayan, pusat perbelanjaan, dan arena hiburan.

Tidak hanya itu, di pesisir pantai dan teluk yang mulanya diyakini sebagai kawasan suci, kini sudah dijejali dengan gedung-gedung hotel dan resort mewah.

Bersambung ke halaman selanjutnya...

(ard)

1 dari 2