Arc de Triomphe, Saksi Bisu Gembira dan Air Mata Prancis

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 04/12/2018 15:38 WIB
Arc de Triomphe, Saksi Bisu Gembira dan Air Mata Prancis Perayaan kemenangan Piala Dunia 2018 di Arc de Triomphe, Paris, Prancis. (REUTERS/Charles Platiau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemandangan Arc de Triomphe, monumen peringatan perang di Prancis, yang dipenuhi demonstran, polisi, api dan asap, memenuhi layar media cetak dan elektronik sejak Sabtu (1/12).

Berikut adalah beberapa fakta tentang salah satu objek wisata populer di Prancis ini:

Perintah Napoleon


Arc de Triomphe berada di ujung jalan Champs-Elysees yang saat ini dipenuhi toko dan restoran mewah.

Dibangun pada 1806 atas perintah dari Napoleon, arsitek monumen ini terinspirasi dari Roman Arch of Titus. Penyempurnaannya dilakukan oleh arsitek Jean Chalgrin.

Monumen ini diresmikan pada tahun 1836 oleh raja Perancis, Louis Philippe I, yang mendedikasikannya untuk pasukan Revolusi dan Kerajaan.

Arc de Triomphe berada di tengah distrik keuangan La Defense di barat dan museum Louvre di timur.

Monumen disebut sebagai menara lengkung terbesar di dunia dengan ketinggian 55 meter, lebar 45 meter dan kedalaman 22 meter.

Dari atas atapnya turis dapat menatap panorama Paris. Tersedia tangga setinggi 284 anak tangga dan lift untuk mencapainya.

Monumen Kematian

Di bawah bangunan Arc de Triomphe ada makam yang menjadi simbol gugurnya 1,4 juta prajurit Prancis dalam Perang Dunia I.

"Di sini ada seorang tentara Prancis yang meninggal untuk tanah air 1914-1918," tulis lempengan di atas makam.

Arc de Triomphe, Saksi Bisu Gembira dan Air Mata PrancisGrafiti di dinding Arc de Triomphe setelah kerusuhan di Paris meletus pada Sabtu (1/12). (REUTERS/Benoit Tessier)


Kegembiraan hinga Kerusuhan

Wajah Arc de Triomphe belakangan ini sering muncul dalam pemberitaan, mulai dari sukacita Piala Dunia sampai aksi demo kelompok rompi kuning.

Pada 16 Juli sebuah bus yang membawa tim sepak bola Prancis dengan bangga berparade di sepanjang Champs-Elysees di depan ratusan ribu orang yang datang untuk menyemangati juara Piala Dunia.

Seperti pada tahun 1998 ketika Prancis juga memenangkan turnamen, wajah, nama dan kota lahir dari 23 pemain ditampilkan dalam bentuk video mapping di dinding Arc de Triomphe.

Pada catatan yang lebih suram, pada 11 November, sekitar 70 pemimpin dunia berkumpul untuk upacara di bawah Arc untuk menandai 100 tahun sejak berakhirnya Perang Dunia I.

Di saat yang sama tiga pengunjuk rasa yang bertelanjang dada dari kelompok feminis, Femen, ditangkap karena berusaha mengejar iringan mobil Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lalu pada akhir pekan kemarin aksi demo atas kenaikan pajak bahan bakar yang berujung kerusuhan meletus di Arc de Triomphe.

Dinding Arc de Triomphe ditempeli poster dan dicoret grafiti demonstran.

Satu grafiti yang dicoretkan di dinding Arc de Triomphe berbunyi: "Rompi kuning akan menang."

(ard)




BACA JUGA