Menimbang Sulitnya Komitmen dalam Hubungan

CNN Indonesia | Kamis, 20/12/2018 18:00 WIB
Menimbang Sulitnya Komitmen dalam Hubungan Ilustrasi (Condesign/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masa berpacaran yang telah berlangsung lama bisa jadi menyenangkan atau malah membosankan. Sepasang kekasih yang menghabiskan waktu bersama dan saling mengenal satu sama lain bisa jadi menyenangkan. Namun, ketika berbicara tentang komitmen, belum tentu hubungan tetap menyenangkan.

Pernyataan seperti "Saya takut untuk berkomitmen" atau "Saya belum berani berkomitmen" kerap muncul pada perbincangan dalam hubungan yang telah berlangsung dalam waktu lama. Hal ini menandakan adanya masalah komitmen dalam diri Anda atau pasangan.

Psikolog Samantha Rodman mengatakan, seseorang yang mulai mempertanyakan komitmen sebuah hubungan berarti tak merasa nyaman dengan keintiman yang tengah dilakoninya. Mereka mungkin juga tak merasa nyaman atas hal yang dirasa terjadi terlalu cepat.



"Mereka menyukai atau bahkan mencintai Anda, tapi mereka khawatir nanti tak mampu memenuhi segala kebutuhan dan harapan Anda," ujarnya, mengutip Huffington Post.

Masalah-masalah seperti itu, kata Rodman, muncul dari rasa takut atau pengalaman buruk yang dimiliki seseorang dalam kehidupan percintaan sebelumnya.

Atau, ketidakmampuan berkomitmen seseorang juga bisa jadi bentuk dari rasa takut terjebak atau merasa tercekik atas sebuah hubungan. "Bisa jadi juga mereka tak sadar dan meragukan sebuah keputusan besar, termasuk hubungan yang sedang dijalaninya," ujar psikolog Ryan Howes.

IlustrasiIlustrasi (AFP PHOTO / VLADIMIR SIMICEK)

Singkat kata, Howes menyebut, ketidakmampuan berkomitmen terjadi karena hubungan intim jangka panjang yang menimbulkan rasa takut.

Howes mengingatkan Anda untuk mengeluarkan pertanyaan tentang komitmen pada pasangan di awal hubungan. Jika pasangan mengaku tak bisa berkomitmen, kata dia, Anda lebih baik untuk menerimanya dan tak memaksakan hubungan. "Banyak orang telat menyadari bahwa orang yang disayanginya tak pernah berkomitmen untuk hidup bersama," ujarnya.

Seseorang dengan masalah komitmen biasanya akan memberi sinyal dengan cara menghadirkan 'jarak' dalam sebuah hubungan. Mereka akan bersikap cuek dan kerap menghindari perbincangan serius tentang status hubungan.


"Sebagian dari mereka menginginkan hubungan yang stabil dan tak ingin berdebat. Jadi, mereka akan tetap di posisi itu dan berharap masalah akan terpecahkan sendirinya," jelas Howes.

Tak hanya itu, orang-orang tanpa komitmen juga tak mau bergantung pada siapa pun. Mandiri adalah salah satu sifat yang menempel pada orang-orang jenis itu.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika sudah kadung terjebak pada orang-orang tanpa komitmen? Psikolog yang kerap menangani masalah-masalah asmara, Marni Feuerman, mengatakan bahwa Anda bisa menjadi teman curhat yang baik bagi pasangan.

"Anda dapat melakukan beberapa upaya dengan membantunya menjadi seseorang yang dapat diandalkan," kata Feuerman. Namun, jika pasangan tetap menghindar dan terlihat menolak perbincangan semacam itu, Anda harus menyadari kapan tepat untuk berhenti.

"Hubungan terbaik adalah ketika dua orang menginginkan hal yang sama pada saat yang sama. Jika komitmen Anda dan pasangan tidak sama, itu hanya akan menimbulkan masalah serius," jelas Feuerman. (gin/asr)