SURAT DARI RANTAU

Suka Duka Hidup di 'Kota Blackpink'

Hardlen Crisabel, CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 12:40 WIB
Suka Duka Hidup di 'Kota Blackpink' Blackpink. (Dok. YG Entertainment via Youtube)
Seoul, CNN Indonesia -- Menginjak hampir tiga bulan merantau di Seoul, Korea Selatan, saya mulai merasa betah dengan suasana kota penuh hiburan dan keragaman ini.

Ketika ingin memilih tujuan studi banding ke luar negeri, banyak teman yang mengira saya memilih Korea Selatan karena rasa cinta saya terhadap girl band Black Pink yang memang luar biasa.

Namun sesungguhnya ada pertimbangan lain mengapa saya memilih Negara Ginseng ini.


Terlepas dari ketertarikan terhadap budaya dan musiknya, saya juga melirik kemajuan media dan komunikasi di negeri ini.

Berkaca pada jurusan saya yang menggeluti industri media, rasanya Korea Selatan paling tepat dijadikan tujuan menuntut ilmu.

Tentu berada satu kota dengan Lisa, Jennie, Rose dan Jisoo menjadi bonus yang tak ada salahnya untuk turut dinikmati.

Meski sudah berada "sangat dekat" dengan keempat personil girl band Kpop terpopuler di dunia itu, hingga kini saya belum sempat menyaksikan langsung aksi berjoget dan bernyanyi mereka.

Dari jauh-jauh hari sebelum menginjakkan kaki di Korea Selatan, saya sudah berencana menonton konser Black Pink di sini.

Sayangnya tiket langsung habis hanya dalam waktu dua menit. Saya lupa bahwa saya berburu tiket dengan penggila Kpop di negeri asalnya.

Kendati demikian saya tak patah semangat. Januari nanti saya harus lebih cekatan dalam berburu tiket konser mereka di Jakarta.

Menjadi penikmat musik Kpop yang sedang singgah di kampung halaman aliran musik tersebut, saya sering bertanya dan menelusuri euforia Kpop di sini.

Jauh dari prasangka, ternyata di sini Kpop merupakan aliran musik yang lebih banyak diminati remaja di bangku SMP dan SMA.

Buat orang-orang seumuran saya, lagu-lagu Barat justru lebih menarik hati.

Tapi tak berarti orang-orang dewasa tidak bisa menikmati Kpop. Buktinya ketika saya sedang menonton konser yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah Korea Selatan, saya sempat berpapasan dengan beberapa 'emak-emak' yang sedang heboh menikmati riangnya musik Kpop.

Selain menyaksikan euforia Kpop yang otentik, saya juga disuguhkan kenikmatan fesyen di kota ini.

Kalau di Jakarta saya bisa berbusana santai ketika berangkat kuliah, di sini saya serasa dituntut berpenampilan rapi dan mengesankan.

Tak hanya berangkat kuliah saja, membeli makanan ringan di supermarket terdekat juga harus berpenampilan oke.

Teman saya pernah sampai ditegur oleh seorang nenek akibat terlihat pucat tanpa polesan lipstik di sebuah supermarket.

Selain itu, saya juga sempat dikejutkan dengan sikap acuh tak acuh penjaga kasir ketika saya bilang tak bisa berbahasa Korea.

Mungkin karena saya masih orang Asia, mereka pikir saya warga setempat. Namun setelah saya ingatkan bahwa saya tak bisa berbahasa Korea, mereka seolah tak peduli dan tetap berbicara dengan bahasa Korea.

Alhasil mau tak mau harus belajar bahasa Korea sedikit demi sedikit.

Jalan kaki ke mana-mana juga harus saya geluti selama bersekolah di sini.

Untung saja saya menetap di asrama kampus, sehingga hanya harus menempuh 10 menit perjalanan dari asrama ke gedung kampus.

Jika ingin berkeliling kota atau mengunjungi sejumlah kafe-kafe hipster nan lucu, saya harus memanfaatkan aplikasi map khusus Korea Selatan supaya tidak tersesat.

Ini merupakan salah satu hal unik yang saya temui. Aplikasi seperti Google Maps tidak bisa dipakai di sini.

Usut punya usut, banyak yang bilang hal tersebut dilakukan agar Korea Utara tak bisa melihat suasana Korea Selatan. Namun, itu hanya kabar yang saya dengar dari teman-teman saja.

Terlepas dari keseruan dan pengalaman baru yang saya dapati di Korea Selatan, kerinduan terhadap suasana rumah dan kehangatan keluarga tetap menyelimuti hati.

Kalau sedang rindu dengan suasana rumah, saya sering iseng membuka aplikasi Google Earth dan menyaksikan tampilan rumah saya yang tertangkap kamera satelit itu.

Sungguh kebiasanya yang nyentrik, namun cukup menghibur hati.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(fey/ard)