Industri Fesyen Multitriliun Bersatu Hadapi Perubahan Iklim

CNN Indonesia | Rabu, 12/12/2018 11:23 WIB
Industri Fesyen Multitriliun Bersatu Hadapi Perubahan Iklim Ilustrasi koleksi Burberry (AFP PHOTO / Ben STANSALL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Awal pekan ini, industri mode membuat gebrakan baru dengan membuat kesepakatan pada konferensi perubahan iklim yang diinisiasi oleh PBB, COP24, di Katowice, Polandia. 

Beberapa rumah mode besar termasuk Stella McCartney, Burberry, Adidas, dan H&M bergabung bersama 36 pemain besar di industri fesyen menandatangani kesepakatan melawan perubahan iklim. 

Stella McCartney merupakan salah satu penggerak dalam kesepakatan ini. Label ini sudah mengeluarkan beberapa kebijakan dan juga mendapatkan penghargaan karena dianggap menerapkan sistem yang berkelanjutan. 



"Ada jutaan keterbatasan dari sudut pandang desain dan kreatif. Tetapi bagi saya, semua tantangan itu adalah bagian dari menjadi perancang dan pengusaha. Tidak hanya mengandalkan otak tapi juga harus bekerja kolektif.  Saya pikir itulah yang sangat kuat dan menarik serta menjanjikan tentang COP24," kata McCartney dikutip dari CNN.

Sementara itu, Burberry yang sempat dikritik karena menghancurkan pakaian dan parfum senilai US$36 juta, akhirnya melarang praktik itu pada September lalu.  Sedangkan H&M memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan data untuk mengurangi limbah tekstil yang dihasilkan.

Semua perusahaan-perusahaan mode yang terlibat dalam kesepakatan ini berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030. Mereka juga sepakat memprioritaskan pemasok transportasi rendah karbon untuk mendukung bahan ramah iklim.

Kesepakatan ini juga sejalan dengan Perjanjian Paris yang mencakup 16 prinsip dan target dalam memerangi perubahan iklim. 


Selama ini, rantai produksi industri fesyen yang panjang dengan nilai multitriliun dolar dianggap berkontribusi terhadap perubahan iklim. Industri ini bahkan memancarkan lebih banyak gas rumah kaca daripada gabungan semua penerbangan internasional dan perjalanan pelayaran maritim di lautan. 

Selain itu, diperkirakan setiap detiknya terdapat truk sampah berisi pakaian yang dibakar atau dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, hasi cuci pakaian juga mencemari lautan dengan mikrofiber yang menyamai sekitar 50 juta botol plastik setiap tahunnya. (ptj/chs)