Cerita Sosok Ibu, Menpar Kenang Momen Gaji Pertamanya

Kemenpar, CNN Indonesia | Kamis, 13/12/2018 18:04 WIB
Cerita Sosok Ibu, Menpar Kenang Momen Gaji Pertamanya Foto: Dok Kemenpar
Jakarta, CNN Indonesia -- Perolehan penghargaan yang didapat Menteri Pariwisata Arief Yahya ternyata tak lepas dari sosok ibu sebagai motivasinya.

"Inilah rahasia saya. Rasa cinta pada ibu sangatlah personal. Saya meyakini, ketika sesuatu itu sangat personal, maka ia akan sangat generous. The most personal, the most generous," ujar Arief dalam keterangan tertulis, Kamis (13/12/2018).


Selain mengaku dirinya sangat mencintai ibu, Arief juga menyebut sosok ibu baginya adalah inspirasi terbesar dalam hidupya. Orang yang paling berjasa yang berjuang untuk anak-anaknya tanpa pamrih.


"Tak ada peristiwa besar dalam hidup saya tanpa restu ibu. Mau sekolah, mau ujian masuk perguruan tinggi, mau tes masuk ke perusahaan, mau kerja, saya selalu minta doa dan restu ke ibu. Itu sebabnya begitu ibu meninggal, saya kehilangan pegangan. Karena sudah tak ada lagi yang mendoakan," ungkapnya.


Menurutnya ada banyak permasalahan yang bisa ia lalui dengan mudah. Ia pun meyakini bahwa itu semua tak lepas dari doa ibu. Menurutnya, sang ibu sering kali, bahkan mungkin sepanjang hidupnya, selalu salat malam atau salat dhuha untuk mendoakan anaknya.

"Saya percaya, ridho Illahi adalah ridha Ibu. Murka Illahi adalah murka Ibu. Itu dijamin oleh Tuhan," tegasnya.

Arief pun kembali mengenang masa kecilnya. Setiap kali sang ibu datang ke perkawinan, makanannya tidak pernah ia santap. Ia bungkus makanan tersebut dan dibawa pulang untuk anak-anaknya.

"Dulu, telur dan paha ayam adalah barang mewah. Hanya sesekali kami menikmatinya. Kalau ibu memasak telur, maka telur itu dipotong sama rata untuk anak-anaknya. Kalau memasak ayam, maka ayam itu disuwir-suwir rata untuk seluruh anak-anaknya," ujarnya.

Setiap pulang kampung ke Banyuwangi, Arief mengaku selalu ziarah ke makam ibu. Bahkan itu dilakukan setiap hari, selama ia berada di kampung halaman. Kalau ia di kampung selama 7 hari, maka 7 hari pula ia ziarah. Minimal pagi setelah salat subuh dan sore hari.

"Setiap kali menyentuh kuburan ibu, saya merasakan kedekatan dengannya. Mungkin di situ saya curhat ke ibu: ingin menceritakan kebahagiaan, kegalauan, berdoa, berdialog tanpa kata-kata. Bisa sejam saya duduk bersimpuh di makam ibu," katanya.

Dalam bukunya 'Great Spirit, Grand Strategy' (2013), Arief secara khusus menulis mengenai 'spirit of Ihsan'. Di situ ia ilustrasikan karakter Ihsan dengan sifat-sifat mulia dari seorang ibu.

Arief menganggap ibu adalah malaikat yang selalu menggunakan sifat Tuhan untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Itu pula yang menginspirasi dirinya untuk berpikir tanpa pamrih, tanpa harap, semua penuh kasih dan sarat cinta. Dirinya menganggap semakin banyak memberi, semakin banyak menerima.

Menurut Arief manusia adalah mahluk rohani yang akan menjalani kehidupan berikutnya di akhirat. Bagaimana cara berinvestasi untuk kehidupan di akhirat, antara lain dengan membelanjakan uang di jalan Tuhan. Contohnya zakat, infak, dan sedekah.

"Saya bukan ahli agama. Tapi saya berpendapat membahagiakan ibu itu nomor satu. Itu adalah kewajiban utama seorang anak. Bahkan, menurut saya, kita tak boleh berzakat sebelum setor ke ibu," ungkapnya.

Karena itu, ketika menerima gaji pertama sebagai karyawan, dengan sukacita ia memberikan semuanya ke ibu. Arief masih ingat saat itu ibu menangis bahagia.

"Gaji saya seamplop-amplopnya dibawa ke kamar untuk ditunjukkan ke bapak," tuturnya.

Sekali lagi, kata Arief, ibu adalah segala-galanya. Karena itu ia berprinsip kalau mau menjadi orang bahagia, maka bahagiakanlah ibu. Kalau mau menjadi orang hebat, maka hebatkanlah ibu.

"Jadi kalau saya dianggap sebagai orang sukses, maka saya lebih senang dan bangga jika dikenang sebagai orang yang sukses membahagiakan ibu," pungkasnya.

Sebagai informasi, berbagai penghargaan memang diterima Arief. Terbaru, yakni sebagai The Best Marketing Minister of Tourism of ASEAN dalam Anugerah MarkPlus Marketeer of The Year (MoTY) 2018. (mle/egp)