Menerjang Badai di Taman Nasional Tamborine

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 16/12/2018 16:04 WIB
Menerjang Badai di Taman Nasional Tamborine Pemandangan di Taman Nasional Tambourine. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Brisbane, CNN Indonesia -- Hujan deras disertai angin kencang menghentikan mobil yang saya tumpangi bersama rombongan wartawan asal Indonesia dan Malaysia menuju Taman Nasional Tamborine di pedalaman Gold Coast, Queensland, Australia, pada akhir November lalu.

Mobil 4WD dengan 16 bangku itu pun sontak bergoyang akibat angin kencang. Suara air hujan terdengar seperti memukul-mukul kaca mobil dengan keras. Pandangan dari dalam kaca mobil mulai kabur. Saya lamat-lamat berdoa, berharap hujan segera reda.

Pagi itu, saya dan rombongan mestinya bertolak menuju Taman Nasional Tamborine atas undangan Singapore Airlines dan Tourism & Events Queensland. Namun baru separuh perjalanan, mobil kami terpaksa berhenti karena hujan deras disertai angin kencang.


Tim, pemandu kami dari Southern Cross 4WD Tours mengatakan, angin kencang dengan hujan deras semacam ini memang kerap terjadi menjelang musim panas. Namun ia meyakinkan kami bahwa situasi itu tak akan berlangsung lama.

Benar saja, 15 menit berlalu hujan deras dengan angin kencang itu akhirnya berhenti. Tersisa ranting-ranting pohon yang jatuh dan jalanan yang masih sangat basah. Tim pun kembali memacu kendaraannya.

Taman Nasional Tamborine merupakan kawasan hutan yang terletak di pedalaman Gold Coast, atau sekitar 45 kilometer di selatan kota Brisbane. Untuk menuju ke lokasi tersebut, kami dijemput Tim menggunakan mobil 4WD.

Awalnya saya berpikir mobil 4WD ini akan berbentuk jeep. Namun ternyata mobil ini serupa minibus. Mobil ini berfungsi untuk melintas di jalur off road, mengingat jalur menuju Taman Nasional Tamborine cukup menanjak dan bergelombang.

Untuk memasuki kawasan Taman Nasional Tamborine, ada portal khusus yang tak bisa sembarangan dilintasi. Tim harus membukanya dengan kunci.

Sebelum tiba di Taman Nasional Tamborine, Tim menghentikan mobilnya di sebuah lapangan untuk mengajak saya dan rombongan bermain boomerang, senjata khas suku Aborigin. Dengan sabar ia mengajari kami satu per satu bermain boomerang.

Menerjang Badai di Taman Nasional Tamborine*Bermain boomerang di tengah perjalanan. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Cara menggunakannya ternyata cukup mudah, yakni dengan memegang secara vertikal di bagian sisi lengkung boomerang. Boomerang itu akan terlempar mengikuti arah angin.

Setelah 30 menit menjajal boomerang, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Tamborine. Ada enam bagian yang dapat dilintasi. Kebanyakan trek pendek dan dapat ditempuh dalam beberapa jam saja.

Jalur yang dipilihkan Tim bagi kami adalah Joalah Section. Pada jalur ini kami akan melintasi Cedar Creek Falls Road menuju air terjun Curtis sepanjang 1,1 kilometer.

Trek ini termasuk pendek dan masih mudah dilintasi meski jalannya agak bertingkat.

Menerjang Badai di Taman Nasional Tamborine*Air terjun Curtis yang berada di tengah Taman Nasional Tambourine. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Udara di dalam taman nasional saat itu terasa lebih dingin. Jalanan pun sedikit becek karena sisa hujan.

Sambil terus berjalan, Tim menjelaskan berbagai jenis tumbuhan dan beberapa habitat serangga yang hidup di taman nasional.

Saya sarankan pengunjung yang ingin berkeliling di Taman Nasional Tamborine sebaiknya menyiapkan sepatu yang nyaman, topi, sunscreen, dan jas hujan atau payung karena cuaca tidak bisa diprediksi.

Pengunjung dapat memesan tiket Taman Nasional Tamborine melalui Southern Cross 4WD Tours dengan biaya A$88 atau sekitar Rp900 ribu. Pengunjung dapat memilih tur setengah hari maupun seharian penuh.

(pris/ard)