Anggapan Tabu soal Tato di Tengah Modernisasi Jepang

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 15:34 WIB
Anggapan Tabu soal Tato di Tengah Modernisasi Jepang Seniman tato asal Jepang, Noriyuki Katsuta. (Behrouz MEHRI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seni merajah tubuh alias tato sudah menjadi pemandangan umum di banyak negara termasuk Indonesia. Namun di Jepang, selama berabad-abad tato identik dengan sosok pelaku kejahatan, salah satunya seperti anggota geng kriminal Yakuza.

Mantan bintang porno Izumi merupakan salah satu dari sekian banyak penduduk Jepang yang bertato.

"Ketika pertama kali melihat tato saya, ibu saya menangis dan saya berpikir bahwa ayah saya akan membunuh saya. Tapi saya senang menjadi terlihat berbeda dengan memiliki tato."


Hingga saat ini tato masih menjadi isu yang sarat pertentangan di Jepang, terutama menjelang  negara ini menjadi tuan rumah Olimpiade 2020.

Orang-orang dengan tubuh penuh rajah masih ditolak masuk ke kolam renang umum, tempat mandi, pantai dan gym.

Tato juga sering menjadi alasan susahnya mencari pekerjaan di penjuru Jepang.

"Sangat menyedihkan mengetahui bahwa penggemar tato mengalami diskriminasi," kata Izumi, sambil memperlihatkan tato bergambar tengkorak Aztec karya seniman tato bernama Amuro yang berharga senilai US$500 (Rp sekitar Rp7,2 juta) di kakinya.

"Dengan tato ini orang-orang mungkin berpikir saya terlihat menakutkan. Tapi saya tidak menyesalinya," tambahnya.

Tato dianggap sebagai simbol pelaku kekerasan sejak abad ke-17. Ketika itu pelaku kejahatan banyak yang bertato, hingga anggota mafia Yakuza dengan tato 'irezumi'-nya.

Ketika Jepang membuka diri ke dunia luar pada tahun 1800-an, keberadaan seni tato semakin dilarang, karena orang Jepang takut orang luar akan berpikir mereka "primitif," menurut Brian Ashcraft, penulis buku 'Tato Jepang: Sejarah, Budaya, Desain'.

Namun pada saat yang sama, banyak bangsawan Eropa yang datang ke Jepang untuk diam-diam ditato oleh seniman terbaik di sana.

[Gambas:Instagram]

Seni yang melanggar

Pelarangan tato berlangsung hingga tahun 1948 setelah semakin banyak pendatang yang mendapatkan tato dari Jepang. Namun anggapan bahwa pemilik tato ialah pelaku kriminal masih ada hingga sekarang.

"Mereka melihat tato dan mereka berpikir 'yakuza', bukannya mengagumi keindahan bentuk seni," kata Ashcraft.

"Hingga saat ini seni tato masih dalam area abu-abu."

Pihak berwenang seakan menutup mata terhadap isu ini, tapi semakin banyak razia yang dilakukan terhadap kios tato di Jepang.

Hukumannya mulai dari denda sampai penjara.

Puncaknya pada tahun 2015, seorang seniman tato bernama Osaka Taiki Masuda ditangkap karena dituduh melanggar hukum Jepang "yang mengada-ada".

Pria berusia 30 tahun itu diminta membayar denda sebesar US$2.600 (sekitar Rp37,7 juta) di bawah Undang-Undang Praktisi Medis, yang melarang orang lain selain seorang dokter melakukan prosedur medis.

Ya, tato masuk dalam peraturan prosedur medis di Jepang.

Pernyataan Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan 2001 memutuskan bahwa tato adalah pekerjaan medis karena melibatkan jarum, yang secara teknis mengkriminalisasi pekerjaan Masuda.

Tuduhan itu dijawab Masuda dengan gugatan hukum yang baru berakhir pada bulan kemarin. Hasilnya pengadilan Jepang membebaskannya.

"Tidak ada kerangka hukum yang mengatur industri tato di Jepang," kata Masuda. 

"Mata pencaharian dipertaruhkan, itulah mengapa saya harus melawannya, semoga bisa membantu perjuangan melegalkan tato."

Perjuangan Masuda menginspirasi sekitar 3.000 seniman tato lainnya di Jepang.

Noriyuki Katsuta, anggota Save Tattooing in Japan, organisasi nirlaba yang didirikan oleh Masuda, menyebut penangkapannya sebagai "pelanggaran hak asasi manusia".

Tetapi banyak seniman yang lebih tua, yang sangat menjunjung tinggi kebudayaan tato bawah tanah, menolak gagasan bahwa seniman tato harus diakui menjadi profesi yang sah.

[Gambas:Instagram]

Gagasan usang

Horiyoshi III menganggap aksi Masuda terlalu provokatif dan tidak membantu pelestarian tato di Jepang.

"Ini seperti menambahkan lada ke mie, jika Anda hanya makan lada mie akan terlalu pedas. Tetapi jika digunakan sebagai bumbu itu dapat menambah rasa."

Katsuta memperkirakan antara 500 ribu hingga 1 juta orang Jepang--atau satu dari setiap 100 atau 200 orang di Jepang, memiliki tato.

Pro kontra mengenai tato di Jepang akan semakin menghangat menjelang Olimpiade Tokyo dan Piala Dunia Rugby yang berlangsung pada tahun depan.

Apalagi setelah Jepang nantinya kedatangan banyak turis dan atlet luar negeri yang badannya penuh tato.

"Saya tidak tahu berapa banyak Olimpiade sebenarnya akan mengubah pendapat," kata Ashcraft, yang juga mencatat bahwa televisi Jepang menutupi penampakan tato dengan cara mem-blur-nya.

"Ketika penduduk Jepang melihat orang asing bertato mereka melihat itu sebagai budaya asing."

Ashcraft menambahkan bahwa salah satu alasan tato tidak disukai ialah karena gagasan kuno yang menyatakan bahwa "merusak tubuh warisan orang tua ialah perilaku yang tidak beradab".

"Saya rasa banyak orang yang tak lagi menganggap tato identik dengan kejahatan," tambahnya.

"Tapi gagasan itu masih tetap ada."

Izumi sama sekali sudah tidak peduli dengan gagasan yang dianggapnya usang itu.

"Di keluarga saya, siapa pun yang ditato seperti saya dianggap sebagai yakuza," dia mengangkat bahu.

"Tapi ketika orang-orang mulai berkhotbah bahwa saya melukai keluarga saya karena saya bertato, saya merasa sakit hati. Saya lalu merasa tidak harus menjelaskan alasan saya bertato kepada siapa pun."

(ard)