Menpar Ingin Indonesia Jadi Destinasi Wisata Semua Kelas

CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 09:40 WIB
Menpar Ingin Indonesia Jadi Destinasi Wisata Semua Kelas Sejumlah perahu berada di dekat kapal pesiar Pacific Dawn di kawasan perairan Benoa, Badung, Bali. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa bulan yang lalu ramai diperbincangkan isu rencana kenaikan harga tiket masuk Taman Nasional Komodo demi meningkatkan kelestarian alam serta kualitas pelayanan wisata di sana.

Tak lama isu tersebut berembus, isu mafia wisata murah di Bali dan Manado juga menjadi bahan pembicaraan.

Wisata murah seakan menjadi momok yang dapat melunturkan kualitas dari fasilitas dan layanan, dua hal yang sakral dalam industri pariwisata.


Dalam acara jumpa pers akhir tahun di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Jakarta pada Kamis (20/12), Menteri Pariwisata Arief Yahya buka suara atas isu-isu tersebut.

Arief menuturkan Kemenpar tidak ingin terjebak pada pengelompokkan turis yang pengeluarannya besar dan kecil.

"Saya orang yang tidak mendikotomi. Ada yang bilang soal quality tourism (pariwisata yang berkualitas) dan yang lain enggak. Menurut saya semuanya berkualitas. Kalau kita tidak mau ambil, negara lain yang akan mengambilnya," kata Arief.

"Segmen yang high spender (pengeluaran besar) kita ambil meskipun jumlahnya kecil, segmen yang lain juga kita ambil."

Arief kembali berpendapat bahwa Indonesia harus bisa mengambil semua segmen turis, meski tidak menjelaskan lebih lanjut konsep menggaet segmen yang dimaksud.

Sebagai contoh, ia menjelaskan, pengeluaran wisatawan dari MICE adalah yang terbesar, yakni bisa mencapai US$2.500 ketimbang wisman lain yang hanya US$1.100. Namun jumlah wisatawan MICE lebih sedikit.

"Saya tidak berharap untuk meningkatkan spending (pengeluaran) wisman, karena kalau ditingkatkan akan ada pasar yang diambil oleh orang lain. Jadi yang diambil oleh kami adalah totalnya dikalikan average spending (pengeluaran rata-rata). Jika ada yang mengambil segmen high end (kelas atas), kemudian 'mengharamkan' yang kecil sebaiknya itu tidak dilakukan," pungkas Arief.

Sebelumnya dalam temu wartawan pada Kamis (13/12) di Jakarta, Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti mengatakan kalau sedang dilakukan pembicaraan antara Kementerian Pariwisata Indonesia dan Kementerian Pariwisata China.

Guntur lanjut mengatakan kalau dalam pertemuan tersebut akan dibahas pembuatan "daftar putih" yang berisi nama-nama agen perjalanan rujukan agar turis China tak lagi dikadali mafia wisata murah di Indonesia.

"Kami berusaha membereskan masalah ini karena bukan hanya pihak Indonesia saja yang merasa dirugikan, tapi juga turis China. Kami tak ingin membuat mereka trauma datang ke Indonesia," kata Guntur.

"Karena bohong jika tidak ada negara yang tak ingin didatangi turis China. Jumlah turis China yang berwisata ke penjuru dunia itu 130 juta per tahun, Indonesia baru kebagian 1,6 persennya setiap tahun dan sudah terlihat sisi menguntungkannya," lanjutnya.

(agr/ard)