Dikunjungi 13 Juta Wisman, Pariwisata Tumbuh 11,9 Persen

Kemenpar, CNN Indonesia | Jumat, 21/12/2018 22:19 WIB
Dikunjungi 13 Juta Wisman, Pariwisata Tumbuh 11,9 Persen Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan strategi yang akan digunakan untuk memenangkan persaingan tahun depan. (Foto: kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pariwisata Arief Yahya memaparkan strategi yang akan digunakan untuk memenangkan persaingan tahun depan.

Arief juga menjelaskan capaian angka sementara jumlah kunjungan wisman periode Januari-Oktober 2018 yang mencapai 13.240.827. Angka itu naik 11,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 11.830.738.

"Target 17 juta wisman tahun ini meleset, kemungkinan terbesar tercapai 16 juta wisman. Meski target wisman tak tercapai, namun untuk target devisa diproyeksikan mencapai US$17,6 miliar," kata Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (21/12).



Arief mengaku sempat optimistis target tahun ini tercapai karena pada Juni-Juli 2018, angka kunjungan wisman sudah sampai 1,5 juta per bulan. Namun, gempa Palu dan Lombok serta kecelakaan pesawat Lion Air memiliki dampak kepada wisatawan.

"Gempa Lombok kedua pada 5 Agustus 2018 langsung terjadi pembatalan kunjungan wisatawan sebesar 70% pada keesokan harinya. Rata-rata kita kehilangan 1.000 kunjungan wisman atau 500.000 wisman selama 5 bulan," katanya.


Namun hal berbeda terjadi pada wisatawan nusantara yang kian tumbuh sebanyak 270 juta. Selain itu, Arief menyatakan bangga industri pariwisata dapat disejajarkan dengan minyak sawit karena sektor itu menjadi ekonomi utama.

Bukan itu saja, pariwisata Indonesia pun semakin diakui dunia. World Travel & Tourism Council (WTTC) misalnya menempatkan Indonesia di posisi ke-9 negara dengan pertumbuhan wisman tercepat di dunia nomor tiga di Asia dan nomor satu di Asia Tenggara. 

Pertumbuhan pariwisata Indonesia yang meroket juga sejalan dengan pertumbuhan investasi di sektor pariwisata. Hingga kuartal I/ 2018, nilai realisasi investasi pariwisata sudah mencapai 21,67 persen atau US$ 433,5 juta. 

"Untuk PMA masih didominasi oleh Singapura, China, dan Korea Selatan sebagai Top Three. Investasi terkonsentrasi di destinasi Bali, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau," katanya.

Daerah Bangun Pariwisata

Bukan itu saja, daerah pun kini terus berlomba untuk membangun pariwisata di daerah mereka masing-masing. Ini terlihat dari usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) pariwisata pada 2019 yang naik 100 kali lipat dibandingkan dengan usulan tahun lalu.

Usulan daerah untuk DAK Pariwisata tahun 2019 sebanyak 487 daerah, terdiri dari 27 Provinsi, 460 Kabupaten/Kota. Semua mengusulkan DAK Reguler dengan total nilai Rp36,63 triliun. Selain itu 61 daerah yang terdiri dari sembilan Provinsi serta 52 Kabupaten/Kota mengusulkan DAK Penugasan total senilai Rp827,61 miliar.


Namun, karena keterbatasan anggaran pemerintah hanya mengalokasikan sebesar Rp1.003 triliun. Alokasi ini terdiri atas DAK Reguler sebesar Rp700 juta dan DAK Penugasan Rp303,44 miliar. 

Selain itu, ada pula Gerakan Sadar Wisata di destinasi wisata dan sekitarnya sebanyak 4.360 orang. Sementara di kalangan industri pariwisata dilakukan Sertifkasi Usaha Pariwisata Standar ISO, ASEAN, dan SNI.

"Kemenpar tahun ini melakukan tiga program strategis dalam meningkatkan kualitas SDM, masyarakat, dan industri pariwisata. Semuanya kita gunakan standar global," kata Arief.


Untuk 5 tahun mendatang, sektor pariwisata membutuhkan investasi sebesar Rp500 triliun untuk pengembangan 10 Destinasi Prioritas Pariwisata atau yang dikenal 'Bali Baru'.

"Selama periode 2019 - 2024 investasi sektor pariwisata antara lain untuk membangun 120 ribu hotel rooms, 15 ribu restoran, 100 taman rekreasi, 100 operator diving, 100 marina, 100 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 100.000 homestay dengan melibatkan peran serta dunia usaha dan UKM pariwisata," katanya. (mle/egp)