Wisata Bahari Indonesia Tidak Bisa Digeneralisasi

CNN Indonesia | Sabtu, 29/12/2018 04:18 WIB
Wisata Bahari Indonesia Tidak Bisa Digeneralisasi Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/cecepyusna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memang surga bagi para wisatawan yang suka dengan nuansa pesisir.

Angin sepoi-sepoi, desir ombak, dan lukisan kala mentari tergelincir adalah imajinasi setiap wisatawan setiap berkunjung ke pantai.

Belum lagi aktivitas menyenangkan lain, seperti snorkeling, diving, memancing, selancar, kano, dan lainnya yang terangkum dalam ranah wisata bahari.


Namun di balik pesonanya yang beragam, laut tetap memiliki misteri dan ancaman yang tersembunyi. Salah satunya adalah tsunami yang baru saja terjadi di Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dwisuryo Indroyono Soesilo, meminta masyarakat jangan memukul rata semua wisata bahari.

"Tergantung wisata baharinya itu apa dulu. Di Jawa misalnya, pantai utara cenderung tenang, sedangkan di selatan biasanya ombaknya besar. Tapi justru ada wisata bahari yang ingin ombak besar, yaitu berselancar," ujar Dwisuryo Indroyono kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).

"Jadi kalau ada ombak besar, mereka (peselancar) malah datang kesana. Ombak besar itu biasanya ada di Samudera Hindia, mulai dari barat Sumatera, selatan Jawa, sampai selatan Sumba."

Menurutnya kalau wisatawan biasa lihat ombak tinggi langsung kabur, namun para peselancar itu justru mendekat karena yang dicari gelombang tinggi.

Selain itu, ia mengingatkan agar wisatawan tetap memantau situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengetahui perkembangan situasi lautan.

Ia juga menuturkan pergantian tahun juga momen kapal cruise itu berdatangan ke Indonesia.

Terkait mitigasi bencana di kawasan pesisir, ia mengingatkan kalau itu adalah tugas semua pihak bukan hanya BMKG atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saja. 

"Jadi yang bisa kita lakukan ya dilakukan, misalnya menanami pohon bakau, kemudian latihan keselamatan. Selain itu BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) juga harus tetap berlatih dan mengecek peralatannya," ujarnya.

"Sedangkan khusus untuk dinas pariwisata, nomor-nomor penting untuk kondisi darurat juga harus ada dikontak."

(agr)