'Iklim' Pariwisata di Bali Masih Kondusif

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 16:44 WIB
'Iklim' Pariwisata di Bali Masih Kondusif Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Musibah yang melanda Selat Sunda, Sabtu (22/12), membawa dampak bagi beragam sektor termasuk sektor wisata. Tak hanya Lampung dan Banten, teror gelombang tinggi dan tsunami melanda wisatawan yang berencana berkunjung ke kawasan pantai utara Jawa, seperti Pantai Ancol.

Sebagai gerbang masuk sekaligus tujuan wisatawan dunia ke Indonesia, Bali adalah kawasan yang perlu diperhatikan. Maraknya info hoaks terkait tsunami tentu akan membawa suasana yang kurang nyaman bagi wisatawan.

Terkiat hal ini Chairman Bali Hotel Association (BHA), Ricky Putra, mengatakan musibah yang terjadi di Selat Sunda tidak memengaruhi sektor perhotelan di Bali.


"Sementara ini kalau dibandingkan dengan tahun lalu naik 7,4 persen di atas tahun lalu, ini catatan sampai bulan November. Dampak positif yang lumayan besar adalah saat ada acara IMF-World Bank kemarin," ujar Ricky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/12).

"Sementara untuk natal kabarnya ada peningkatan, tapi datanya belum saya terima. Kami berharap saat peak season new year nanti tetap berjalan dengan baik."

Tahun ini, Ricky melanjutkan, sampai bulan November 2018 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali sudah mencapai 5,6 juta. Target tahun ini, Bali diharapkan mampu menarik 6,2 juta wisman.

Wisman yang paling banyak berkunjung ke Bali tahun 2018 berasal dari Australia (89,6 ribu wisman), disusul oleh China (75,8 ribu wisman).

Terkait upaya mitigasi, Ricky menuturkan situs resmi BHA selalu update menginfokan hal yang terkait kejadian di Indonesia. Sehingga semua anggota BHA bisa mengakses info dan apa saja yang harus dilakukan.

"Kami juga tetap memonitor situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah, BMKG, BNPB," katanya.

"BHA juga rutin mengadakan pertemuan tentang mitigasi. Selain itu hotel-hotel yang bergabung dalam BHA, sudah memiliki mitigation plan sendiri. Namun semua ini tidak bisa lepas dari badan pemerintah yang berwenang mengeluarkan statement, yang bisa mempengaruhi keselamatan dan kenyamanan tamu." (agr)