'Tercekik' Obesitas dan Bayang-bayang Penyakit Mematikan

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 12:54 WIB
'Tercekik' Obesitas dan Bayang-bayang Penyakit Mematikan Ilustrasi obesitas (REUTERS/Toby Melville)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Diet mulai besok". Sebagian orang kerap merapal kalimat ini saat berhadapan dengan junk food atau makanan berkalori tinggi lainnya. Dampaknya? Mungkin paha yang membesar atau pipi yang mulai terlihat chubby, hingga ancaman obesitas di depan mata.

Bagi kaum hawa, ini persoalan serius. Namun, ini bisa menjadi persoalan yang sangat serius saat peningkatan berat badan tak terkendali. Tengok saja Titi Wati, yang kini merasakan dampak dari hobinya menyantap camilan, minuman berpemanis, dan gorengan. 

Dalam tujuh tahun terakhir, berat badan Titi naik drastis. Kini, berat badannya tercatat sebesar 350 kilogram. Perempuan 37 tahun ini pun menyandang gelar perempuan tergemuk di Kalimantan Tengah.

Bukan gelar yang membanggakan, sebab Titi jadi sulit bergerak. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbaring atau tengkurap. Untuk berdiri saja, kedua kaki tak mampu menopang berat tubuhnya.


Awalnya, Titi sempat berupaya menurunkan berat badan. Titi mengonsumsi minuman herbal penurun berat badan. Minuman herbal itu cukup ampuh, sebab berat badannya sempat menyurut dan menyentuh angka 167 kilogram.

Akan tetapi, harga minuman herbal makin mahal. Titi tak sanggup lagi membeli dan kembali pada kebiasaan lama. Tak pelak, berat badannya menanjak hingga 350 kilogram saat ini.

"Saya berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kepada saya untuk pengobatan menurunkan berat badan yang sudah mencapai sekitar 350 kilogram lebih," kata Titi dikutip dari Antara (7/1).

Sembari menanti uluran tangan pemerintah, Titi berusaha mengurangi porsi camilannya setiap hari. Dia khawatir berat badannya terus naik.

Ancaman penyakit kronis

Kasus Titi Wati menjadi salah satu contoh ekstrem obesitas di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat angka obesitas mengalami peningkatan dari 14,8 persen pada catatan 2013 menjadi 21,8 persen di 2018. Angka ini terus beranjak sejak Riskesdas 2009.

Kenaikan ini diimbangi dengan peningkatan jumlah penderita penyakit tidak menular (PTM). Wajar, sebab obesitas adalah faktor risiko kemunculan PTM.

Utamanya adalah diabetes. Riskesdas 2018 mencatat peningkatan kasus diabetes dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Sudah bukan rahasia umum jika obesitas menjadi 'tersangka' paling besar atas berkembangnya penyakit diabetes.

Penderita obesitas disebut lebih rentan terserang diabetes daripada mereka yang memiliki bobot tubuh ideal dan sehat. Penyebabnya adalah pola konsumsi makanan yang buruk. Kebiasaan mengonsumsi makanan berpemanis dan tinggi kalori secara bersamaan meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.

Selain diabetes, obesitas juga menyumbang faktor berkembangnya penyakit hipertensi yang juga mengalami kenaikan pada Riskesdas 2018 dari 25,8 persen menjadi 34,1 persen.

Sejumlah penelitian telah membuktikan korelasi antara obesitas dan hipertensi. Misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 100 ribu anak pada 2016 lalu. Penelitian menunjukkan anak dan remaja dengan berat badan berlebih berisiko tiga kali lebih besar menderita hipertensi. Mengutip Medical Daily, perkembangan hipertensi itu bisa terjadi dalam kurun waktu tiga tahun.

Belum lagi gangguan jantung yang juga disebabkan akibat obesitas. Jaringan lemak yang menumpuk, terutama di bagian perut, dapat menghasilkan sejumlah zat beracun serta peradangan yang bisa merusak otot jantung. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa orang obesitas berisiko berkali-kali lipat terkena serangan jantung.

Terakhir adalah kanker yang meningkat dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen pada catatan Riskesdas 2018. Mengutip Healthline, lemak pengidap obesitas dapat menyumbat tipe sel yang digunakan tubuh untuk melawan kanker.

Alhasil, sel yang seyogianya mampu melawan kanker jadi tak berfungsi. Alih-alih melawan, sel tersebut justru membuat kanker terus berkembang bebas di dalam tubuh.

Dengan kata lain, Titi dan siapa pun yang mengalami kelebihan berat badan alias obesitas harus siap dengan bayang-bayang serta ancaman PTM ini. Tak jarang, penyakit-penyakit ini berujung kematian.

Solusi untuk menangkalnya adalah gaya hidup sehat. Pelibatan pola hidup sehat sangat penting dalam rangka mencegah obesitas serta deretan penyakit kronis lain yang mengancam penderitanya.

Sayang, belum semua warga Indonesia peduli pada pola hidup sehat. Tengok saja hasil Riskesdas 2018 yang mencatat hanya 5 persen penduduk Indonesia yang getol mengonsumsi buah dan sayur dalam porsi ideal.

Ditambah lagi kurangnya aktivitas fisik. Sebanyak 33,5 persen penduduk di atas usia 10 tahun dinyatakan kurang menjalani aktivitas fisik. (els/asr)